Bingkai Kosong

Apa kabar?, menjadi sapaan sehari-hari. Kalimat itu yang ditunggu, candaan ucap. Terkadang sulit terucap bila acuh.

“Siapa aku?”

Cukup dengan kata itu, hati tersenyum. Penasaran langkah tetap berjalan. Hangat kebisuan yang mengoyak harapan. Di mana kamu?, perlihatkan paras… Tatapan tak henti mencari. Mata terhenti di kaca, ternyata bersama teman karib.

Teriakan terdengar, “Hallo….” Serupa awal perbincangan dalam telefon. Senyum, tetap berjalan. Menunnggu dekatnya erat. Perlahan-lahan tampak dihadapan. Mendekat, menatap dan terpaku. Padat tak beralih. Dinding sebagai sandaran bersama. Memandang lapangan dengan banyaknya pemain. Sementara, kata-kata keluar bahkan dangkal. Situasi ubah menghadap teman karib.

“Aduh….., kenapa seperti ini.?”

Biarlah, mengikuti kemauannya. Berlarut masih tak berubah. Akhirnya tas menempel di pundak, tetap saja buram. Rahang mengeras kesal,

“Krek…krek…krek”

Dirinya sendiri hilang kepekaan. Jenuh dengan kedekatan yang ada. Katakan sisa suara di mulut. Supaya mengerti. Pintu pagar terbuka, pinggiran jalan berdua bersama. Datang keduanya, dekat seru tawa.

Kening mengerut, “Aku di sini!” Tetap saja sendirian, Memandang lesu dihadapan. Selalu berdua kemudian satu kucing bersembunyi jika datang bapak. Mobil merapat memperhatikan fahtir berdiri di pinggiran jalan. Menunggu sejak pintu pagar terbuka. Terus seperti itu. Menunduk pasrah, setia ikatan pita.

Perhatikan…..

Aku ada didekat mu

Lebih baik, teman karib yang membuat tersenyum

Pernahkah membalik keadaan yang tercantum jelas

Aku bukan patung…..!

Ledakan acuh selalu tampak

Ikatan bukan seperti ini

Rela, kucing bersembunyi dari bapak

Demi aliran kita

Taukah itu….!!!

Perjuangan untuk satu

Hasrat tepiskan pisah

Pergi jauh jangan dekati

Kita ada dengan sepasang sayap

Merekah pasif sindiran acuh

Kesempatan hanya setengah tetesan cawan yang berisi pasir. Pada kesempatan itu luput tak jelas. Bahkan jarang memahami pengakuan, “Aku adalah manusia yang tampak didekat mu.” Akui aku…

Goresan harap terus menusuk, perih memaksa menjemput. Membodohi keseriusan tingkah, “Ini bukan lelucon, anggap serius.!” Kepenatan sebagai rasa sakit. Membanting gundah yang semakin tajam. Meluap air asin, membasahi kedua pipi. Meronta raga meyatu hidup.

Mendekam bayangan khayal. Anggukan ketidakpastian berulang naik-turun. Lelah wujud tersingkir. Urungkan niat mengabaikan. Sikap seberkas sentuhan makna kasih selimuti impian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s