Smaak Proff (Pengujian Rasa)

Karya : Adhi Surya Perdana (2008)

Mahasiswa Penyuluhan Komunikasi Pertanian UGM

SMAAK PROOF (PENGUJIAN RASA)

I. INTISARI

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 4 Desember 2008, jam 06.30-09.00 Wib, di Laboratorium Pemuliaan Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM yang bertujuan untuk mengadakan pengujian serta penilaian terhadap rasa nasi dari masing-masing varietas beras (Ada 7 Varietas). Macam varietas ini terdiri atas varietas Rojolele, C4 Lokal, C4 Super, C4 I, Menthik Wangi, Jatah Bulog, C4 Naga. Rasa pada dasarnya dapat turut menentukan suatu kualitas. Hal ini tergantung pada jenis varietas padinya. Faktor luar lain yang ikut menentukan kualitas tanaman antara lain rendemen, bentuk bulir, kekerasan dan rasa. Perbedaan rasa nasi antar varietas terletak pada perbedaan kadar amylose yang terdapat pada butir-butir berasnya masing-masing. Kadar amylose untuk nasi enak berkisar antara 20-24%. Kadar yang terlalu tinggi justru akan membuat nasi menjadi tidak enak (keras). Mutu beras dapat dikatakan baik apabila mengandung protein yang tinggi, rendemen dan kekerasan juga tinggi. Metode yang digunakan dalam acara ini ada 2 yakni metode langsung yang dilakukan dengan cara nasi yang sudah ditanak (matang) pada tiap varietas dicicipi masing-masing dan dirasakan perbedaannya. Untuk menilai rasa dapat digunakan scoring sistem 5 = enak sekali, 4 = enak, 3 = sedang/biasa, 2 = kurang enak, 1 = tidak enak. Semuanya tergantung dari ungkapan cita rasa selera konsumen. Biasanya untuk metode ini digunakan parameter berupa penampilan, rasa, bau, kelengketan dan kekerasan. Tiap varietas diperlakukan sama dalam cara menanaknya.

II. PENGANTAR

A. Latar Belakang

Tujuan akhir dalam pemuliaan tanaman adalah pemenuhan kebutuhan manusia secara lebih baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Salah satu kebutuhan pokok atau utama manusia yang harus dipenuhi adalah kebutuhan akan makanan. Sehingga sudah tentu bahwa didalam pemuliaan tanaman, tanaman-tanaman yang dimuliakan adalah tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan manusia dengan lebih baik. Salah satunya adalah tanaman padi.

Pemuliaan tanaman padi dipusatkan baik pada kuantitas maupun kualitasnya. Penilaian kuantitas hasil ditunjukkan dengan adanya produksi yang semakin meningkat. Penilaian kualitas tanaman padi didasarkan pada kualitas dari hasil yang diberikan, apakah hasil tersebut mampu memenuhi kebutuhan dengan baik, memuaskan atau tidak. Beberapa faktor yang menentukan kualitas pada tanaman padi adalah faktor rendemen, bentuk butir, kekerasan dan rasa.

Faktor rasa sebagai penentu kualitas suatu tanaman, misal pada tanaman padi, muncul karena adanya perbedaan kandungan atau kadar amylose yang terkandung pada pati dalam butir-butir beras. Sehingga rasa yang didapatkan adalah berbeda untuk tiap varietas tanaman. Dimana semakin tinggi kandungan atau kadar amylose yang terkandung, maka akan semakin berkurang keenakan rasanya karena semakin tinggi kadar amylose yang terkandung, maka struktur nasi yang diperoleh akan semakin keras dan mempunyai struktur pisah-pisah.

Faktor rasa dapat dijadikan sebagai parameter ukur dalam menentukan suatu kualitas tanaman dilihat dari sudut pemenuhan kebutuhan yang didapatkan.

B. Tinjauan Pustaka

Padi (beras) adalah tanaman pangan yang sangat penting dalam kehidupan. Salah satu usaha dari peningkatan produksi beras adalah introduksi kultivar-kultivar dari lembaga penelitian padi internasional (IRRI). Walaupun varietas introduksi tersebut tahan terrhadap hama dan penyakit dan relatif berumur lebih genjah serta memberi hasil panen yang lebih tinggi, akan tetapi rasa nasinya kurang disenangi. Pada dasarnya penyebabnya adalah kepulenan yang rendah dibandingkan kultivar lokal (Suwandi, et al.,1985)

Karakteristik beras meliputi sifat fisik, kimia, fisikokimia, dan organoleptik butiran beras. Sifat-sifat tersebut mempunyai hubungan langsung dengan preferensi konsumen dan harga beras digunakan sebagai criteria dalam komponen mutu beras. Mutu beras dapat dikategorikan menjadi : mutu pasar, mutu tanak, rasa dan prosesing atau mutu giling, mutu gizi dan standar spesifik untuk penampakan dan kemurnian biji (Weeb,1990).

Tingginya produktivitas padi tidak menjamin nilai rasanya. Perbedaan rasa nasi antar varietas terletak pada adanya perbedaan kadar amilose yang terdapat pada pati dari butir-butir berasnya. Pati beras tersusun atas rangkaian unit-unit gula (glukosa) yang terdiri dari fraksi rantai cabang amilopektin, dan rantai lurus amilose (Djoko, 1988).

Di pulau Jawa mutu beras yang baik memegang peranan penting dalam perdagangan beras. Faktor-faktor yang menentukan rasa beras antara lain : bentuk, ukuran, warna nasi, serta rendemen. Beras yang mempunyai harga tinggi dipasaran umumnya bening. Rendemen merupakan suatu unsur mutu penting. Rendemen dikatakan baik bila dari gabah dihasilkan 70 % beras giling yang terdiri dari 50 % beras kepala dan 20 % beras pecah (Harahap et al., 1984).

Mutu yang baik dan rasa nasi yang enak memegang peranan penting dalam perdagangan dan perkembangan suatu varietas. Banyak varuietas unggul yang mempunyai potensial hasil yang tinggi, tahan terhadap penyakit namun tidak populer dikalangan masyarakat petani karena mutu bersanya kurang baik dan rasanya tidak sesuai dengan selera konsumen. Masing-masing varietas atau galur padi mempunyai sifat dan mutu beras serta rasa nasi yang berbeda (Cush, 1982).

Faktor-faktor yang menentukan mutu beras antara lain adalah bentuk, ukuran, dan warna beras serta rendemen. Beras yang diinginkan dan mempunyai harga tinggi di pasar, berukuran panjang (6,61-7,50 mm) atau sedang (5,51-6,60 mm), serta mempunyai bentuk lonjong (slender) atau sedang (medium), dan berwarna bening (transclucent) (1,6). Rendemen merupakan salah satu factor mutu yang penting. Rendemen dikatakan baik apabila gabah diperoleh minimum 70% beras giling, tediri dari ± 50% beras kepal dan 20% beras pecah (3,8). Faktor lain yang harus diperhatikan adalah rasa nasi. Nasi lunak (pulen) dan wangi sangat disukai sebagian besar masyarakat Indobnesia (Widjono dan Syam,1982).

Ada empat factor utama yang mempengaruhi mutu beras yaitu sifat genetic, lingkungan dan kegiatan prapanen, perlakuan prapanen, dan perlakuan pascapanen. Sifat genetic beras meliputi ukuran dan bentuk beras, rendemen giling, penampakan biji, sifat mutu tanak, dan cita rasa nasi. Aroma beras ditentukan juga oleh sifat genetic. Faktor lingkungan antara lain adalah kondisi ekosistem suatu wilayah. Rendemen beras giling dari varietas padi yang sama (IR64) yang ditanam di lahan beririgasi teknis, berbeda rendemen berasnya dibanding  yang ditanam di lahan tadah hujan, dataran tinggi, lahan pasang surut dan rawa (Suismono et al.,1999).

Telah diketahui bahwa kadar amilosa beras mempunyai korelasi positif terhadap rasa nasi. Makin tinggi kadar amilosa beras, makin keras pula nasinya. Kadar amilosa dapat digolongkan menjadi ketan (1-2%), sangat rendah (2-10%), rendah (10-20%), sedang (20-25%), dan tinggi (>25%). Beras yang mempunyai kadar amilosa 20-24% biasanya mempunyai rasa nasi enak (Widjono dan Syam,1982).

III. METODOLOGI

Praktikum acara smaak proff ini dilaksanakan di laboratorium Pemuliaan Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM, pada tanggal 4 Desember 2008. Bahan yang diperlukan yaitu 7 varietas padi yang relatif mempunyai rasa nasi berbeda, yaitu: Rojolele, C4 Lokal, C4 Super, C4 I, Menthik Wangi, Jatah Bulog, C4 Naga.

Metode pengujiannya ada dua macam yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung, seluruh praktikan menguji nasi dari ke tujuh varietas padi. Parameter pengujian ada lima macam yaitu penampilan (appearance), rasa ( taste ), bau ( smell ), kepulenan ( stickness ), dan kekerasan (hardness). Metode ini dilakukan setiap individu, bukan kelompok. Jadi nilai yang didapatkan tidak dirata-ratakan tapi digunakan sendiri oleh praktikan tersebut.

Sedangkan alat yang digunakan yaitu alat tulis, piring nasi dan sendok. Untuk cara kerjanya yaitu ke tujuh varietas beras dimasak dengan perlakuan yang sama selama memasak/ menanaknya, misal dalam hal pencucian beras, air yang digunakan untuk menanak, besar kecinya nyala api supaya tidak menyebabkan nasi gosong. Setelah nasi masak, nasi dipindahkan ke tempat yang lebih luas agar cepat dingin. Kemudian para penguji mencicipi rasa nasi tersebut dengan aturan, sebagai berikut: praktikun yang ada dibagi dalam 7 kelompok/ blok yang melakukan pengujian dengan ketentuan kelompok 1 menguji varietas 1, 2, dan 4. Kelompok 2 menguji varietas 2, 3, dan 5. Kelompok 3 menguji varietas 3, 4 dan 6. Kelompok 4 menguji varietas 4, 5 dan 7. Kelompok 5 menguji varietas 1, 5 dan 6. Kelompok 6 menguji varietas 2, 6 dan 7. Kelompok 7 menguji varietas 1, 3 dan 7. Dilakukan pengujian dengan pemberian skor 1 untuk rasa enak sekali, 2 untuk rasa enak, 3 untuk rasa sedang  atau  biasa, 4 untuk rasa kurang enak dan 5 untuk rasa yang tidak enak. Ditentukan varietas yang paling enak dari hasil analisis. Angka penilaian kelompok adalah angka rata-rata penilaian dari inidividu yang ada dalam kelompok tersebut. Jadi untuk tiap kelompok ada nilai rata-rata dari tiga macam varietas yang dinilai.

IV. HASIL dan PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Pengamatan Rasa

Blok Treatment Total
1 2 3 4 5 6 7 Bi
1 2 3,5 4,5 10
2 2,5 3,5 1 7
3 2 4 4 10
4 4 1 2,7 7,7
5 2,3 3,3 2 7,6
6 2,1 4,4 3,2 9,7
7 3 2,75 2,75 8,5
Total (T 1) 7,3 8,1 8,25 12,5 5,3 10,4 8,65 60,5

Tabel 2. Hasil Analisis Treatment

No. Total Treatment (Ti) Bt Qt = T1 – Bt / k ∆t = Qt (k/b) Ti (Adjusted)
1 7,3 26,1 -1,40 -0,6 3,03
2 8,1 26,7 -0,80 -0,3 3,00
3 8,25 25,5 -0,25 -0,11 2,86
4 12,5 27,7 3,26 1,40 2,77
5 15,3 22,3 -2,13 -0,91 2,68
6 10,4 27,3 1,30 0,56 2,91
7 8,65 25,9 0,02 0,0086 2,87

Table 3. Penilaian Rasa pada Setiap Varietas

No. Varietas Padi Ti (Adjusted)
1 Rojolele 3,03
2 C4 Super 3,00
3 C4 I 2,86
4 C4 Lokal 2,77
5 Menthik Wangi 2,68
6 Jatah Bulog 2,91
7 C4 Naga 2,87

B. Pembahasan

Beras merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat indonesia yang harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Namun selera masyarakat di setiap wilayah indonesia berbeda-beda. Ada yang suka nasi pulen, ada juga yang suka nasi pera. Pada praktikum “Smaak Proff” ini tujuannya adalah untuk mengadakan pengujian serta penilaian terhadap rasa nasi dari suatu jenis padi.

Dalam praktikum kali ini akan dicoba untuk membedakan dan membandingkan antara rasa nasi dari beberapa varietas yang berbeda. Varietas yang digunakan dalam praktikum ini terdiri dari beras (Ada 7 Varietas). Macam varietas ini terdiri atas varietas Rojolele, C4 Lokal, C4 Super, C4 I, Menthik Wangi, Jatah Bulog, C4 Naga.  Rasa merupakan faktor yang relatif serta merupakan salah satu faktor penentu kualitas hasil pertanian khususnya terhadap jenis padi. Metode yang digunakan dalam pengujian rasa nasi ini ada dua macam yaitu metode tidak langsung dan metode langsung. Uji rasa tidak langsung penilaian yang dilakukan berdasarkan atas derajad kesukaan antara lain : 1 ( rasa enak sekali ), 2 ( rasa enak ), 3 ( rasa biasa ), 4 ( rasa kurang enak ), 5 (rasa tidak enak ). Dari pengamatan secara langsung, yaitu dengan cara langsung mencicipi nasi diperoleh hasil jenis nasi varietas menthik wangi adalah yang paling enak, diikuti varietas rojolele, C4 super, C4 I, C4 naga, jatah bulog, dan C4 lokal yang tidak enak. Secara tidak langsung dan perhitungan dapat diketahui bahwa varietas Menthik Wangi merupakan varietas padi yang paling enak sedangkan varietas Rojolele merupakan varietas padi yang tidak enak. Hal ini dilihat dari Tadj-nya, varietas padi Menthi wangi adalah yang paling kecil dari pada varietas lainnya dan varietas Rojolele nilainya paling tinggi.  Dari analisis CRD tidak terdapat beda nyata diantara blok / ulangannya. Hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa setiap varietas memiliki mutu rasa yang berbeda antara varietas satu dan yang lainnya.

Hasil ini sangat berlainan dengan keadaan sebenarnya. Jika dilakukan pengujian secara objektif, varietas Rojolele adalah varietas padi paling enak jika diukur dari nilai atau kadar amylose yang dikandung. Penelitian yang dilakukan oleh IRRI, Juliano dapat membuktikan bahwa perbedaan rasa nasi antar varietas terletak pada adanya perbedaan-perbedaan kadar amylose yang terdapat pada pati butir-butir berasnya. Serta berlawanan dengan kadar amilosa beras mempunyai korelasi positif terhadap rasa nasi. Makin tinggi kadar amilosa beras, makin keras pula nasinya. Kadar amilosa dapat digolongkan menjadi ketan (1-2%), sangat rendah (2-10%), rendah (10-20%), sedang (20-25%), dan tinggi (>25%). Beras yang mempunyai kadar amilosa 20-24% biasanya mempunyai rasa nasi enak (Widjono dan Syam,1982).

Mutu rasa lebih ditentukan oleh faktor subjektif yang dipengaruhi oleh lokasi, lingkungan, pendidikan, tingkat golongan, suku bangsa, dan jenis pekerjaan dari konsumen. Walaupun belum ada kriteria tertentu yang mapan untuk menetapkan kriteria mutu rasa nasi, akan tetapi mutu rasa memiliki hubungan langsung dengan selera dan preferensi konsumen. Cita rasa merupakan ungkapan selera pribadi yang secara tidak langsung mutu rasa termasuk dalam klasifikasi jenis beras. Sifat utama dari beras yang menentukan mutu rasa adalah penampilan, tekstur dan aroma nasi.

Pada dasarnya faktor-faktor yang menentukan kualitas padi adalah : 1) rendemen 2) bentuk bulir 3) kekerasan dan 4) rasa. Rendemen menunjukkan persentasi berat dari malai menjadi gabah atau dari gabah menjadi beras. Bentuk bulir berpengaruh terhadap kekerasan atau mudah tidaknya pecah. Umumnya bentuk pendek lebih tahan pecah dibanding bentuk panjang. Namun faktor rendemen dan bentuk bulir tidak diamati dalam praktikum. Yang diamati hanya hubungan antara faktor rasa dan kekerasan.

Kandungan amilosa pada nasi mempunyai korelasi negatif terhadap nilai rasa dari kelekatan, kelunakan, warna dan kilat nasi. Kadar amilosa mempunyai korelasi positif dengan jumlah penyerapan air dan pengembangan volume nasi selama pemasakan. Sedangkan kelekatan nasi dipengaruhi terutama oleh kadar amilosa dan kadar protein yang berkorelasi negatif.

Tekstur dan rasa nasi ditentukan oleh kandungan pati yang meliputi kurang lebih 90 % dari berat kering beras putih. Pati itu sendiri terdiri atas amilosa dan amilopektin. Kadar amilosa sangat berhubungan dengan tekstur nasi, dapat digolongkan mempunyai kadar amilosa tinggi (25-30 %), sedang (20-25 %), dan rendah (10-20 %). Beras dengan kadar amilosa rendah akan mempunyai  rasa yang semakin enak dan tekstur nasi yang lengket. Sebaliknya beras dengan amilosa tinggi mempunyai rasa yang tidak enak dan tekstur nasinya pera dan cenderung menjadi keras setelah dingin. Beras dengan kadar amilosa sedang mempunyai tekstur nasi pulen dan tidak menjadi keras setelah dingin. Pati atau amilum biasanya terdapat dalam jagung, kentang, biji-bijian, ubi jalar, padi dan gandum. Pati merupakan senyawa polisakarida yaitu senyawa polimer yang tersusun dari gugusan monosakarida sehingga rangkaian dari glikosida dapat diputus melalui proses hidrolisa. Perbedaan struktur amilose dan amilopektin terletak pada rangkaian antar molekul glikosidanya, pada amilose rangkaian terjadi antara C1 dan C4 sedangkan pada amilopektin antara C1 dan C6. Struktur amilosa berupa rantai lurus, yang cenderung tidak melakukan ikatan dengan air sehingga dari sini dapat disimpulkan bahwa nasi dengan kadar amilosa yang tinggi nasinya akan semakin keras.

Preferensi terhadap mutu cita rasa terutama ditentukan oleh tingkat aroma dan rasa nasi. Meskipun sifat genetik beras merupakan faktor utama dalam evaluasi mutu citarasa, tetapi faktor pemasakan seperti perbandingan antara air dan beras serta lamanya pemasakan juga mempengaruhi nilai mutu citarasa. Kualitas rasa nasi sangat ditentukan oleh komposisi pati dalam biji padi. Kandungan patinya berupa amilopektin dan amilosa. Makin tinggi kadar amilosa maka makin rendah amilopektinnya, sehingga nasi cenderung kering, pera dan rasanya tidak enak. Sedangkan beras yang memiliki kandungan amilosa rendah cenderung lebih lengket, empuk, pulen dan enak rasanya.

Secara umum komponen dari mutu beras dapat dikelompokkan atas : rendemen, penampakan, bentuk, ukuran, sifat-sifat tanak, dan rasa nasi. Semua ini penting digunakan secara bersama-sama dalam penetapan kriteria beras sesuai dengan tujuan penggunaannya. Meskipun demikian, pada akhirnya penggolongan kriteria mutu beras harus mempunyai hubungan langsung dengan penerimaan konsumen akhir. Karena beras dikonsumsi sebagian besar dalam bentuk nasi, maka penetapan kriteria mutu beras didasarkan atas pola konsumsi tersebut.

V. KESIMPULAN

  1. Pengamatan uji rasa diperoleh hasil :

No. Varietas Padi Ti (Adjusted)
1 Rojolele 3,03
2 C4 Super 3,00
3 C4 I 2,86
4 C4 Lokal 2,77
5 Menthik Wangi 2,68
6 Jatah Bulog 2,91
7 C4 Naga 2,87

  1. Hasil perhitungan uji rasa beras Rojolele berada dalam kategori beras dengan rasa tidak enak, namun berbeda dengan keadaan yang sebenarnya beras Rojolele adalah beras dengan kategori terbaik. Jika hasil perhitungan Rojolele dengan Jatah Bulog, secara pengamatan uji rasa maka Rojolele memiliki Ti-adj terbesar hal tersebut menunjukan rasa tidak enak. Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dengan faktor penyebab uji rasa terjadi human error “individu mahasiswa” dari segi uji rasa tiap individu, anggapan tekstur dan warna beras tiap individu berbeda tergantung daerah asal individu dan keadaan perut tiap individu yang masih tergolong kosong/lapar sehingga nasi yang menjadi bahan uji rasa menjadi enak secara keseluruhan. Jika akan melakukan uji rasa maka harus memperhatikan keadaan tiap individu yang mengerti akan rasa nasi, tekstur dan warna yang netral tanpa ada anggapan daerah melainkan berdasarkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya.

DAFTAR PUSTAKA

Beachell, H.M. 1970. Different plant types and their characteristics. Rice Production Manual, University Of  The Philippines : 38-40

Cush. 1982.Gram Quality of Hybrid Rice. IRRI. Manila. 304 p.

Djoko, S.D. 1988. struktur kandungan biji beras. Pusat penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Bogor. 112 p.

Escuro,P.B. 1970. Recommended varietas and their cultural characteristics. Rice Production Manual, University Of  The Philippines : 40-44

Harahap, Z.,S.Ibrahim, I.J. Soemantri dan T. W. Susanto. 1984. Cibandung Varietas Padi Dengan Mutu Baik . Penelitian Pemberitaan Puslitbang .III(40) : 13-18

Sabran, M., S. Sulaiman, I. Khairullah, M. Imberan, dan M. Saleh. 2000. Interaksi genotipe-lingkungan galur harapan padi rawa. Buletin Agronomi XXVIII (1) : 22-26

Suismono, S. J. Munarso, dan Jumali. 1999. Rancangan standar mutu beras giling untuk perdagangan. Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV : 273-281

Siregar, H. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Hudaya. Bogor.324 p.

Suwandi A.S.,Hrasida, B.Ahmad, dan H. Zaenudin. 1985. Pewarisan Kadar Amilosa pada Padi . Penelitian Pertanian. V(1) : 104-105.

Widjono, A., dan M. Syam. 1982. Penelitian Pemuliaan Padi. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 148p.

Weeb. 1990. Rice quality and grades. B.S. Luh (ed) Rice. Vol II. 89-119

LAMPIRAN

Hasil Perhitungan:

v     Bt1 = B1+B5+B7 = 2+2,3+3 = 7,3.           Bt2       = B1+B2+B6 = 3,5+2,5+2,1 = 8,1

Bt3 = B2+B3+B7 = 3,5+2+2,75 = 8,25.    Bt4       = B1+B3+B4 = 4,5+4+4 = 12,5

Bt5 = B2+B4+B5 = 1+1+3,5 = 5,3.           Bt6       = B2+B6+B7 = 4+2+4,4 = 10,4

Bt7 = B5+B6+B7 = 2,7+3,2+2,75 = 8,65

v     Bt   = B1tot+B5tot+B7tot = 10+7,6+8,5 = 26,1.    Bt2       = B1tot+B2tot+B6tot = 26,7

Bt3 = B2tot+B3tot+B7tot = 25,5.                           Bt4       = B1tot+B3tot+B4tot = 27,7

Bt5 = B2tot+B4tot+B5tot = 22,3.                           Bt6       = B2tot+B6tot+B7tot = 27,3

Bt7 = B5tot+B6tot+B7tot = 25,9

v     Qt = 7,3 – (26,1/3) = -1,40                        Qt = 15,3 – (22,3/3) = -2,13

Qt = 8,1 – (26,7/3) = 0,80                         Qt = 10,4 – (27,3/3) = 1,30

Qt = 8,25 – (25,5/3) = -0,25                      Qt = 8,65 – (25,9/3) = 0,02

Qt = 12,5 – (27,7/3) = 3,26

v     ∆t = -1,40 (3/7) = -0,6                              ∆t = -2,13 (3/7) = 0,91

∆t = 0,80 (3/7) =    -0,3                              ∆t = 1,30 (3/7) = 0,56

∆t = -0,25 (3/7) =  -0,11                            ∆t = 0,02(3/7) = 0,0086

∆t = 3,26 (3/7) = 1,40

v     Ti adj = ((7,3/3) – (-0,6)) = 3,03                Ti adj = ((15,3/3) – (-0,91)) = 2,68

Ti adj = ((8,1/3) – (-0,3)) = 3,00                Ti adj = ((10,4/3) – (0,56)) = 2,91

Ti adj = ((8,25/3) – (-0,11)) = 2,86            Ti adj = ((7,3/3) – (0,0086)) = 2,87

Ti adj = ((12,5/3) – (1,40)) =  2,77

Hasil Perhitungan

v     SStotal    = (T112+T122+T142+…+T772) – CF

= (22+3,52+4,52+…+2,752) – 60,52 : 21

= 194,605 – 174,298

= 20,307

v     SSblok       =  ∑  (Bi2 : k) – CF

= ((7,32+8,12+8,252+12,52+5,32+10,44+8,652) : 3) – 174,298

= 184,762 – 174,298

= 10,464

v     SStreat    = k :   x  t (∑Qt2)

= 3 : 7 (19,5174)

= 8,353

v     SSE        = SStot – SSblok – SStreat

= 20,307 – 10,464 – 8,353

= 1,49

One comment on “Smaak Proff (Pengujian Rasa)

  1. bisa kita berikan kandungan gizi setiap beras,karna kami lagi butuh data tersebut untuk menyelesaikan skripsi kami yang berjudul sistem pakar pendeteksi jenis dan kualitas beras berbasis web

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s