Nurani

KATA PENGANTAR

Karya tulis adalah imaji yang lazim dilakukan orang yang tahu makna bahasa yang sebenarnya, walaupun sulit dalam daya nalar setiap watak seseorang. Kita bisa mengetahui pemikiran setiap tingkah seseorang, biarpun secara sadar kita belum mengtahui jati diri seseorang yang belum kita kenal. Serta dapat memadukan nilai-nilai pengalaman dari penulis.

Tetapi hal tersebut sangat sulit terwujud dalam watak seseorang, dengan kebijaksanaan dan kesempatan yang telah diberikan perlu mengambil suatu keputusan yang positif sehingga bisa meningkatkan daya tarik menulis dalam membuat suatu karya tulis dalam lingkungan masyarakat.

Ketertarikan tersebut menghasilkan suatu karya tulis, saya yang bernama

Adhi Surya Perdana terinspirasi dalam membuat karya tulis yang bertema PADI dan saya beri judul NURANI. Arti dari judul tersebut adalah keterkaitan Padi, Manusia dan Tuhan Sang Pencipta alam semesta.

Bogor,10 febuari 2004

Penulis

NURANI

Selama berabad-abad lamanya, sumber daya alam pakan manusia senantiasa membudidayakan padi dengan harapan pemanfaatan sumber-sumber tersebut akan memperoleh hasil dan dapat dinikmati jerih payahnya. Waktu pun terus berjalan dengan laju pertambahan penduduk  Indonesia yang semakin meningkat. Begitu pun padi, berkembang memenuhi kebutuhan hidup yang meningkat. Sebagian besar terpenuhi dari usaha tani dengan keterbatasan peluang dalam pengelolaan usaha tani tidak atau kurang dalam melaksanakan kaidah-kaidah konservasi keadaan tanah dan air. Padi pun telah membentuk pola makan dan ekonomi berjuta penduduk dan bahkan kini telah menjadi bagian dari budaya nasional, akan tetapi persen sawah yang tinggi dan kepadatan penduduk suatu tempat tidak menjamin kondisi pakan yang mencukupi. Hal itu disebabkan oleh pendapatan bersih atau perkapita berbanding terbalik dengan apa yang telah diusahakan oleh para petani dalam pengelolaan usaha tani, kesejahteraan pun hampir terlupakan oleh pengawasan lembaga pemerintahan yang begerak di bidang pertanian dan yang selalu mengutamakan kondisi hidup para petani untuk hidup layak sehingga kemiskinan tidak selalu melekat pada hidup para buruh tani. Pengembangan padi dapat berjalan layak dan dapat mencukupi kebutuhan pokok rata-rata penduduk Indonesia yang mengkonsumsi padi.

Keindahan alam yang timbul dari panorama padi telah terhias melalui teras-teras sawah yang tersusun rapi di lereng bukit dan hamparan tanaman yang terbentang luas. Secara samar-samar rahasia itu akan menjadi terang dan menjadi tonggak pelindung bagi kehidupan umat manusia. Dengan pengakuan itulah maka sebenarnya tumbuh suatu puji-pujian bagi Tuhan sebagai pencipta.

Suatu puji-pujian memang sulit diwujudkan dengan sempurna dan berbudi pekerti luhur jika tidak terciptanya kondisi yang menyebabkan orang memuji keagungan dan kekuasaan Tuhan. Bukankah kita semua tahu, bahwa kehijauan telah berubah menjadi kesenangan duniawi belaka, sehingga mungkin saja timbul kekacauan akan suatu panorama yang telah ditentukan kekuasaan Tuhan. Banjir, erosi, kekeringan akan air bersih, hilangnya teras-teras sawah yang sekaligus pengontrol kelebihan air pengairan di musim hujan dan semakin hilangnya penyaring kotoran alam dengan hilang keajaiban panorama.

Kejadian dan musibah pasti akan dilimpahkan sesuai dengan keegoisan manusia menghilangkan panorama, kegiatan semakin meningkat bukan layaknya puji-pujian Tuhan tetapi paling banyak adalah doa permohonan dan caci maki terhadap manusia dengan manusia lainnya. Kondisi yang tidak tertib, tidak aman dan tidak adanya kenyamanan hidup yang terhias panorama, kecenderungan membuahkan suatu tindakan atau kelakuan yang mengikari ajaran Tuhan. Mengapa dapat terjadi sedemikian parahnya? Sebab setiap manusia cenderung mencari selamat dan memikirkan kepentingan diri sendiri atau dikuasai rasa egois manusia. Panorama merupakan mandat Tuhan sehingga harus dijaga dan dilestarikan yang dimaksudkan sebagai lingkungan hidup. Mandat pun dapat dikatakan sebagai posisi kunci, oleh sebab itu manusialah pada akhirnya yang harus mengambil sikap dan menentukan sifat hubungan tersebut. Oleh sebab itu manusia menjadi posisi pengendali panorama, maka pemahaman tentang mandat kultural dalam kelayakan panorama memberi kedudukan manusia sebagai pihak pengambil keputusan dan inisiatif positif dalam pelaksana mandat. Sehingga mewujudkan panorama yang alami dan keindahan sebagai pemekaran keasrian pedesaan.

Perkembangan selanjutnya padi telah mempersatukan anggota masyarakat yang tidak mengenal gender dan etnis. Bahkan hubungan diantara mereka termasuk pendekatan yang bersahabat dan memiliki satu kedudukan yang sama penting sehingga mempunyai nilai positif untuk saling berhubungan satu sama lain. Dengan sikap yang terlontar, maka terwujudlah suatu pengakuan dan penerapan yang lebih mendalam lagi, yaitu tentang pertanggungjawaban dan rasa kepedulian akan pelestarian padi. Katakanlah tanggungjawab tertuju pada cucu kita di hari esok. Padi dapat dikatakan sebagai materi yang bisa mengendalikan suatu kehidupan manusia Indonesia pada umumnya, bahkan budaya padi telah mengajarkan masyarakat pedesaan bagaimana menghargai kaum ibu.                 Hal itu telah menjadikan posisi padi sebagai suatu keistimewaan dan keunggulan yang tak dapat terpisahkan misalnya masyarakat yang memandang padi sebagian dari alam dan memiliki isyarat sebagai pedoman. Justru keadaan inilah yang diharapkan di dalam kehidupan manusia.

Manfaat hidup manusia sebaiknya senantiasa bergema suara Tuhan dan perintah yang dibebankan pada kehendak Tuhan sebagai dasar pemikiran, perasaan, dan tindakannya. Dengan demikian, maka manusia memiliki nilai-nilai luhur berdasarkan ketaatan dan ketakwaan terhadap Tuhan Sang Pencipta. Apabila seseorang telah terikat akan kehidupan keagamaan, atau memiliki nilai-nilai yang asalnya dari Tuhan, niscaya seseorang akan bergaya hidup religius dan selalu berpikir positif akan kelestarian alam panorama padi. Kehidupan seperti ini mengajarkan seseorang yang senantiasa selalu mempertanyakan hal-hal yang telah dilakukannya atas dasar ketaatan dan ketakwaan terhadap Tuhan. Inilah hidup yang sebenarnya dikehendaki Tuhan Sang Pencipta. Tuhan tidak menuntut banyak dari manusia, Tuhan hanya ingin agar manusia selalu diingatkan sebagai yang menciptakan dan yang mengatur semuanya dari separuh bagian alam semesta ini yang harus terpelihara dengan wajar menurut logika setiap manusia yang mengerti akan pengaruh padi bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

Ketaatan manusia kepada Tuhan dan perintahnya, tidak boleh digambarkan sebagai ketaatan hampa. Kita tidak dituntut dan dipaksa untuk tak bisa lain yang berlatar larangan. Ketaatan kita terhadap Tuhan dan perintahnya selalu dalam kebebasan bagaimana cara mentaatinya. Hal itu dapat diartikan sebagai ruang gerak bagi manusia untuk membentuk ketaatan yang sesuai dengan kepribadian dirinya. Mengakui Tuhan dan mengingat perintah-Nya sebagai prinsip hidup yang selalu melekat di atas segala sesuatu. Semua yang melekat pada imaji dan realita yang kita terima kembali pada Tuhan Sang Pencipta. Itu berarti, seluruh upaya dan daya buahnya diawali dengan menundukkan kepada kehendak Tuhan dan diserahkan kepada Tuhan pula akhirnya. Dengan cara itulah Tuhan hendak mengatakan pada hambanya bahwa sangat berbahaya jika manusia ingin mengingkari hakekatnya. Malapetaka adalah yang paling tepat untuk menggambarkan dampak dari perceraian padi dan lingkungannya.

Di samping itu, kelakuan dan tingkat kebudayaan manusia sangat berperan aktif dalam menentukan bentuk dan intensitas interaksi antara manusia dan alam lingkungan padi. Manusia mungkin jadi perusak lingkungan padi yang selalu mengusahakan sumber daya alam padi hanya didasarkan pada prinsip prinsip kebutuhan jangka pendek, yaitu penghasilan produk sebanyak mungkin pada waktu sesingkat mungkin dan modal dana sesedikit mungkin. Tindakan tersebut memang mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan pada generasinya, namun dampak terhadap alam lingkungan padi menimbulkan efek samping yang tak mampu lagi memberikan kehidupan yang layak bagi generasi berikutnya. Kesadaran dari manusia perusak menjadi manusia pengelola mempunyai dasar tanggung jawab atas tingkat kualitas lingkungan padi. Manusia berkeyakinan bahwa makin tinggi tingkat kualitas sumber daya padi maka makin banyak pula manusia mengambil keuntungan dan daya dukung lingkungan padi. Masalah yang sebenarnya dalam pola lingkungan padi terkait pada sifat dan hakekat terhadap lingkungan hidup di sekitarmya.

Padi pun mempunyai kedudukan dalam perekonomian Indonesia, swasembada beras merupakan tujuan utama, baik untuk menghemat pengeluaran devisa maupun untuk mencegah ketergantungan impor. Kenaikan pendapatan masyarakat memacu terjadinya perubahan stuktur konsumsi rumah tangga. Beras masih menjadi fokus dan sebagai produk kunci dalam perekonomian Indonesia, sehingga kekurangan pengiriman pada harga wajar dianggap sebagai ancaman dan kestabilan ekonomi dan politik. Dengan demikian kebijakan pun tertuju pada pemantapan harga yang masih memberikan peluang keuntungan pada produsen dan senantiasa melindungi konsumen. Produksi beras pun telah mendapat prioritas penuh dibandingkan dengan nonberas, keputusan pemerintah Indonesia dalam sumber daya padi  yaitu memperbaiki dan memperluas irigasi sawah pertanian. Jika hal ini terbentur biaya, maka peminjaman dilakukan dalam kerjasama antar negara. Hal itu menghasilkan kebijakan investasi yang tepat untuk menghasilkan potensi hasil yang lebih tinggi dari benih unggul yang sesuai terhadap produk permintaan.

Peningkatan pemanfaatan sumber daya padi seharusnya didahului atau minimal dibarengi oleh peningkatan kharismatik ilmu pengetahuan yang kongkrit dan penyediaan data dasar yang akan melandasi proses pengembangannya. Bila tidak, maka lingkungan padi akan terancam kelestarianya. Beberapa contoh kegiatan ilmu pengetahuan dalam pengembangan pola dasar padi yaitu  penelitian berbagai jenis kendala padi dalam lingkungan tropis serta produktivitas perairan dan pendayagunaan sumber daya alam hayati yang dihasilkan padi dari berbagai studi pengembangan teknologi tepat guna di bidang pemanfaatan sumber daya padi.

Pelestarian sumber daya padi merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, dalam arti bahwa sumber daya ini dapat dipanen berulangkali. Tetapi bila pemanenan ini tidak memperhatikan tingkat kelestarianya maka sumber daya ini akan berubah menjadi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Bukan suatu khayalan bahwa sumber daya padi menjadi langka akhir-akhir ini. Progam pengumpulan, pengujian dan pelestarian telah dimulai oleh lembaga-lembaga nasional dan ketertarikan lembaga internasional dalam pelestarian padi seperti FAO dan IRRI. Hasil usaha-usaha pelestarian saat ini sudah nyata meskipun masih jauh dari apa yang diharapkannya, hambatan lain adalah kekurangpahaman tentang fungsi pelestarian jangka panjang sumber daya padi seutuhnya.

Kehidupan manusia di tengah pergaulan dan keterkaitannya dengan sesama lingkungan dan alam padi, ternyata mengharuskan manusia menjalankan perintah kultural dalam bidang pelestarian padi. Salah satu bentuk pemeliharaan itu ialah adanya berkas pewarisan nilai-nilai dari generasi dahulu kepada generasi yang sekarang dan berikutnya. Pemeliharaan di bidang lingkungan padi, dilakukan melalui penjagaan dan pencegahan agar lingkungan padi tidak terkuras habis tanpa berkas yang berarti. Sangat menarik jika kita perhatikan upaya pemerintah sekarang ini dengan progam pelestarian tanaman padi melalui proses penghijaun dan memelihara suatu fungsi guna padi yang sangat bemanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Pemeliharaan di bidang materi sudah merupakan nurani hakiki manusia yang peduli akan padi, oleh sebab itu mereka membutuhkanya dan merasa perlu untuk memilikinya. Justru di sini terletak ujian bagi manusia, apakah mereka mampu membuktikan sebagai mahluk yang melebihi segalanya atau pun yang termulia dihadapan Tuhan. Maka manusia harus mempertautkan dirinya dengan seluruh kejadian dan mempertanggungjawabkannya kepada Sang Pemberi yaitu Tuhan sendiri. Terwujudnya hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan alam padi, memungkinkan berperannya lingkungan alam padi terhadap kehidupan manusia. Jadi kehidupan yang selaras dan alam sekitarnya dapat terwujud dengan sempurna.

Berkembangnya zaman yang serba modern dalam era milenium ini, generasi muda seakan acuh dengan suatu kegunaan fungsi padi yang beralih fungsi menjadi ladang hitam berdebu asap kendaraan, tiang beton pencakar langit yang terhias rapi dan ruang gerak yang hanya memperhatikan kemewahan sebagai ajang gaul remaja saat ini. Nurani para generasi muda perlu diingatkan secara sadar dan ikhlas agar mereka peduli terhadap berbagai upaya peningkatan ketahanan potensi padi sebagai bahan pangan dan pelestarian budaya padi. Sikap kita untuk menempatkan posisi guna padi sebagai sahabat dan  yang saling membutuhkan merupakan sikap yang bertanggung jawab. Sikap itu akan membawa dampak positif bagi diri kita maupun generasi berikutnya. Itulah sebabnya maka kegiatan kita yang bersifat menguras dan menghabiskan sumber daya padi dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dapat kita sebut sebagai tindakan membunuh diri sendiri dan juga generasi berikutnnya. Dengan begitu, kita juga akan selalu diingatkan untuk tidak serakah dan mengeruk hasil potensi padi yang hanya kita habiskan saat sekarang.

Sikap inilah yang kita idam-idamkan yaitu mengusahakan kelestarian potensi guna padi. Oleh sebab itu, lebih tepat kalau kita istilahkan bahwa kini sudah sepatutnya generasi muda bertobat dan memohon tulus atas karunia yang telah dinikmatinya. Tidak terlambat memang. Tetapi jika lengah sedikit saja, bisa terkena murka dari Tuhan Yang Maha Esa dan bencana yang layak untuk umatnya. Ia tak mau jika anugerah yang diberikan dirusak demi keserakahan duniawi belaka, dengan kesadaran yang telah disesalinya maka kini terbukalah sebuah pendekatan sekaligus sikap terhadap potensi padi yang lebih menekankan persahabatan dan pengakuan akan kedudukan masing-masing sebagai yang punya makna, harga yang harus diakui sebagai keterkaitan yang saling membutuhkan.

Pendapat  yang saya kemukakan, manusia dan padi merupakan satu kesatuan yang tak boleh kita pisah-pisahkan, meskipun mereka dapat terpisah sebagai realitas. Begitulah manusia dan padi yang tak boleh kita beda-bedakan keberadaanya. Akan tetapi ketidak-terceraian itulah manusia dapat hidup dengan sempurna, bahagia lahir dan batin. Di mana manusia menghilangkan atau memutuskan hubungannya dengan padi, di sana manusia kehilangan kedudukan kemanusiaan sebagai persembahan duniawi dan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s