Hati Firdaus

Hembusan bayu yang dingin bersama lautan yang membisu petang itu menyebabkan seorang usahawan muda, Firdaus namanya, mengenang kembali kisah silamnya yang penuh suka duka.
Humaira……begitulah nama seorang gadis yang amat dikasihinya 10 tahun lalu yang kini hanya tinggal kenangan.
Waktu pemeriksaan ujian masuk universitas yang akan mereka masuki itu hanya tinggal dua hari saja. Mereka telah berjanji untuk bersama-sama meneruskan pelajaran di sana dan bersama-sama memperoleh hasil yang cemerlang ke menara gading, impian mereka selama ini. Walaupun begitu, betullah kata pepatah, “Kusangkap panas sampai petang, rupanya hujan di tengah hari,” bisik hati kecil Firdaus ketika mendapati dirinya gagal mendapat tempat di menara gading itu sedangkan Humaira berhasil dengan gemilang.
“Humairah…,” kata Firdaus perlahan petang itu. “Sesungguhnya ada satu hal yang hendak Fir sampaikan dan semoga Humaira tidak mengecewakan Fir.” Humaira yang tadinya masih dalam sedu sedan tangisnya karena kegagalan Firdaus, tiba-tiba terhenti lalu memandang wajah Firdaus dengan penuh keheranan.
“Sebenarnya, telah lama kusimpan perasaan ini, namun demi pelajaran kita dulu, kusimpan ia hingga hari ini. Humaira…sebelum kau ke menara gading, ingin kunyatakan bahwa aku terlalu menyayangi dirimu teman hidupku,” kata Firdaus penuh harapan.
“Fir…apakah kata-kata itu datang dari hati Fir yang ikhlas ?” tanya Humaira ingin mendapatkan kepastian. “Ya, Humaira, semoga Humaira tidak mengecewakan Fir,” sambung Firdaus lagi. Humaira tunduk malu tanda setuju.
Mereka pun mengikat tali pertunangan setelah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak keluarga dan akan melangsungkan perkawinan tiga tahun lagi, setelah Humaira menamatkan belajarnya di universitas.
Dalam usia setahun pertunangan mereka, hanya surat dan telefon yang menjadi penghubung antara mereka dan bertemu bila Humaira pulang liburan.
Masuk tahun kedua pertunangan mereka, Firdaus merasakan sesuatu yang berbeda dengan Humaira. Kalau dulu, isi suratnya mengenai ketidaksabaran menemui Firdaus, tetapi kini…cuma menasihati Firdaus supaya tidak meninggalkan sholat liwa waktu, jadi hamba Allah yang taat dan macam-macam lagi. Beberapa risalah bercorak Islam juga sering disertakan bersama suratnya buat Firdaus.
Di tahun ketiga Humaira di universitas, Firdaus merasakan dirinya dan Humaira semakin jauh, tidak seperti dulu lagi. Dulu, meeka begitu mesra sekali tetapi sekarang…semuanya sepi, beku dan kaku! Setiap kali Firdaus menelepon Humaira, jarang dia dapat berbicara sendiri dengan Humaira.

Kalau dapat pun tiada lagi tawa riang macam dulu, malah semuanya serius! “Kenapa ?”
bisik hati kecil Firdaus.
Firdaus mencoba menelepon Humaira lagi pada suatu ketika dengan harapan semoga Humaira sudi keluar bersamanya karena dia telah begitu rindu kepada Humaira.
“Assalamu’alaikum,” bunyi suara yang menyambut telepon. Firdaus merasa pasti bahwa itu suara Humaira yang dirindukannya. “Humaira ?” tanya Firdaus tanpa menjawab salam yang diberi. “Ya, Humaira di sini, siapa ini ?” tanya
Humaira. “Hai…tunangan sendiri pun sudah tak kenal ?” kata Firdaus dengan nada merajuk. “Oh!…Firdaus,”jawab Humaira agak kaget. “Fir ingin mengajak Humaira ke Restoran Jamilah, tempat kita selalu makan dulu, Fir akan jemput Humaira jam 8 malam ini, OK ?” kata Firdaus penuh harapan.
“Maaf, Fir, Humaira agak sibuk sekarang,” balas Humaira. “Hai! Tak ingin ketemu tunangan sendiri lagi ? Tak ingin seperti orang lain atau seperti kita sewaktu di awal-awal pertunangan dahulu ? Ada apa dengan engkau, Humaira? Kau selalu menolak ajakan Fir dengan alasan yang bermacam-macam,” keluh Firdaus dengan suara yang agak keras.
“Begini, Fir…sebenarnya antara kita masih belum ada apa-apa ikatan yang sah, cuma bertunangan dan bertunangan juga tidak boleh dijadikan tiket untuk kita berdua-duaan tanpa mahram dan hukumnya adalah haram,” kata Humaira
menjelaskan alasan kenapa dia enggan memenuhi ajakan Firdaus. “Wah! Wah!
Wah…! Sejak kapan engkau jadi ustadzah nih ? Setahu Fir, Humaira sekolah ambil jurusan Ekonomi, bukan Syari’ah atau Ushuluddin,” kata Firdaus sekali lagi dengan nada kesal.
“Ini bukan masalah ustadzah atau bukan ustadzah, Fir…tetapi, setiap orang Islam mesti mengetahui halal dan haramnya sebelum melakukan sesuatu agar tidak dimurkai Allah SWT. Maaf, Fir…Humaira tak dapat memenuhi permintaan Fir untuk keluar berdua. Humaira rasa lebih baik Fir berjumpa dengan keluarga Humaira jika ada hal yang hendak dibincangkan,” jelas Humaira
dengan harapan Firdaus memahaminya.
“Ah! Sudahlah Humaira, aku sudah bosan dengan engkau, itu tak boleh…ini haram…itu haram. Mulai hari ini antara kita telah putus dan tiada apa-apa ikatan lagi,” sambung Firdaus marah.
“Fir, bukan itu maksud Humaira,” kata Humaira yang agak terkejut dengan keputusan Firdaus. “Ya, Humaira…aku rasa lebih baik kita putuskan saja tali pertunangan kita ini karena antara kita sudah tiada penyesuaian lagi,
pergilah kau dengan da’wahmu dan biarkan aku dengan cara hidupku,” kata Firdaus penuh ego.
Suasana sepi seketika, Firdaus tahu Humaira terkejut dengan keputusan dan kekerasan kata-katanya. “Fir,” Humaira memulai lagi kata-katanya “Andai itu sudah menjadi keputusan Fir, apa boleh buat, cuma do’a Humaira semoga suatu hari nanti Allah membuka hati Fir dan menjadi hamba-Nya yang ta’at dan sama-sama dalam perjuangan Islam yang suci,” kata Humaira tenang.
“Selamat tinggal Humaira!” kata Firdaus memutuskan percakapan sambil menghempaskan gagang telepon. Fikiran Firdaus terganggu akibat perpisahan dengan Humaira, satu-satunya gadis yang sangat dikasihinya. Tapi lama-kelamaan, Firdaus dapat melupakan Humaira…sehingga dua tahun kemudian ketika tiba-tiba seorang lelaki yang tidak dikenalinya memberi salam muncul di pintu kantornya.
Dari air mukanya yang bersih dan pakainnya yang kemas, Firdaus yakin dia seorang yang baik dan punya kedudukan tinggi.
“Wa’alaikumussalam, silakan duduk,” jawab Firdaus sambil mengulurkan tangannya menyambut salam tamu itu. “Apa yang bisa saya bantu, Saudara?”
tanya Firdaus.
“Sebenarnya, begini…saya Dr. Abdur Rahman, baru pulang dari England tiga minggu yang lalu dan bertugas di Rumah Sakit di kota ini. Kedatangan saya ini untuk menyampaikan barang yang dikirimkan buat Saudara.”
“Barang?” tanya Firdaus penuh keheranan karena setahunya dia tidak pernah membuat pesanan barang apa-apa dari England. “Barang ini dari saudari Humaira binti Muhammad, pasti Saudara mengenalinya,” kata lelaki itu.
“Humaira !” terlontar lagi perkataan itu dari mulut Firdaus setelah dua tahun dia telah melupakan nama itu.
“Humaira telah pergi buat selama-lamanya setelah mendapatkan kecelakaan lalu lintas sewaktu di kota London. Kebetulan isteri saya adalah sahabat karibnya semasa sama-sama menuntut ilmu di sana. Beberapa hari sebelum kejadian itu dan sebelum kami pulang ke Malaysia, Humaira benar-benar meminta kami untuk menyampaikan barang ini buat Saudara. Seolah-lah dia tahu bahwa dia tidak akan bersama kita lagi,” papar Dr. Abd Rahman.
Bagaikan dipanah petir jantung Firdaus menerima berita yang tidak pernah terduga olehnya selama ini. Lantas, Firdaus menutupkan kedua tangannya ke wajah tanda kesedihan yang amat sangat, karena sesungguhnya Humaira masih
di hatinya.
“Bersabarlah saudara, kesemuanya adalah kehendak Allah. Allah lebih menyayanginya. Humaira adalah gadis yang baik dan ta’at akan perintah Allah,” kata Dr. Abd Rahman menenangkan keadaan sambil memegang bahu Firdaus. Setelah dilihatnya Firdaus agak tenang, dia pun meminta diri untuk pulang.
Firdaus segera membuka kiriman Humaira buat dirinya. Terdapat surat di dalamnya. Firdaus membuka surat itu dengan tangan yang gemetar menahan kesedihan.
“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,” bunyi kepala surat Humaira.
“Menemui Saudara Firdaus yang saya hormati semoga di bawah lindungan Allah dan semoga lembaran ini menemui Saudara dalam keadaan kita sama-sama beriman kepada Allah SWT. Maaf, seandainya lembaran yang tidak diundang ini mengganggu situasi saudara Firdaus saat ini. Humaira tahu tidak ada alasan bagi Humaira harus menghubungi saudara Firdaus lagi setelah perpisahan dulu. Tetapi karena Islam dan tidak sanggup melihat sesama Muslim terus lalai dalam arus jahiliyyah ini, maka Humaira tabahkan hati untuk menulisnya. Saudara Firdaus yang saya hormati…ketahuilah bahwa apa yang kita lakukan selama ini adalah merupakan rencana syaitan laknatullah dan musuh Islam untuk meruntuhkan generasi muda Islam agar Islam tidak tertegak di
bumi Allah ini. Kita adalah di antara yang telah menjadi mereka lantaran dangkalnya kepahaman diri kita mengenai Islam.
Saudara Firdaus…kembalilah kepada Islam yang suci, kembalilah kepada fitrah asal kejadian manusia yang seharusnya ta’at kepada Allah, tetapi lantaran keegoan dan tunduk kepada hawa najsu, manusia lupa akan pencipta-Nya sendiri.
Harapan Humaira, carilah kebenaran dalam sisa usia yang masih ada ini dan bertaubatlah atas kesalahan yang lalu. Binalah satu kehidupan baru berlandaskan Islam. InsyaAllah, saudara Firdaus akan berbahagia dunia dan akhirat. InsyaAllah sahabat Humaira bernama Dr. Abd Rahman yang tinggal di no. 2 Jalan Makmur di kota ini bisa membantu saudara Firdaus untuk mencari kebenaran itu.” Firdaus berhenti sebentar dan terbayang kembali di pelupuk matanya wajah orang yang datang menemuinya baru saja. Lalu dia meneruskan membaca surat Humairah,
“Bersama ini saya sertakan sebuah tafsir Qur’an khusus untuk saudara Firdaus, semoga itu bermanfaat kepada saudara Firdaus. Akhir kata, dan doa dari Humaira semoga Allah membuka hati saudara Firdaus dan menjadi hamba-Nya yang ta’at dalam usaha mencari kebenaran ini. Sekian, dari Humaira, semoga Allah SWT senantiasa bersama kita.”
“Humairah…kenapa engkau tinggalkan aku…sesungguhnya aku masih menyayangi dirimu,” itulah kata-kata yang keluar dari mulut Firdaus
ketika selesai membaca surat Humaira. Sejak peristiwa itu, Firdaus mulai berubah. Dia selalu lengket dengan sajadahnya yang sebelumnya jarang sekali digunakan dengan alasan kesibukan dengan tugas-tugasnya di kantor.
“Oh! Tuhan…ampunilah dosa hamba-Mu ini, sesungguhnya, aku telah lalai dari mengingati-Mu selama ini. Pandulah hamba-Mu ini mencari kebenaran di muka bumi-Mu ini dan tempatkanlah arwah Humaira bersama orang-orang yang
beriman, Ya Allah…Amin Ya Robbal’Alamin, kata Firdaus di suatu shubuh yang dingin hingga manik-manik jernih jatuh menuruni pipinya tanpa dia sadari.
Firdaus bergegas bangun dari sholat shubuh itu dan terus mempersiapkan tas kantornya ketika dia teringat alamat yang diberi Humaira. Selesai sarapan, Firdaus terus melaju dengan mobil Honda Accord merahnya mencari rumah Dr. Abd Rahman dengan penuh harapan.
“Assalamu’alaikum!” kata Firdaus. “Walaikumussalam,” jawab Abd Rahman.
Hati Firdaus melonjak gembira terkaannya tepat dan bersyukur Dr. Abd Rahman ada di rumah waktu itu. Sengaja Firdaus pergi ke rumahnya pada hari Ahad karena jika hari lain, pasti beliau tiada di rumah karena “on-call” dari Rumah Sakit.
Setelah lama bercakap-cakap, Firdaus pun menyatakan maksud kedatangannya, yaitu agar Dr. Abd Rahman sudi membimbing dirinya dalam mengenal Islam dan mencari kebenaran di bumi Allah ini sebagaimana yang diharapkan oleh
Humaira selama ini. Namun, bagi Firdaus, dia melakukan semua ini bukanlah semata-mata karena Humaira tetapi atas kesadaran dan keinsyafan yang ada dalam dirinya serta taufiq dan hidayah Allah SWT.
“Syukurlah, saudara telah insyaf, semoga Allah senantiasa bersama kita,” kata Dr. Abd Rahman. Firdaus pun permisi pulang ketika dilihatnya jam sudah menunjukkan 11 pagi, yang berarti dia telah dua jam berada di rumah Dr. Abd Rahman hari itu. Firdaus memeluk Dr. Abd Rahman tanda terima kasih dengan linangan air mata, penuh keinsyafan dan harapan.
Sejak saat itu, Firdaus pun mulai mengetahui dan memahami mengapa Humaira begitu menghindarkan diri darinya apabila diajak berjumpa suatu ketika dulu.
“Benar kata-katamu dulu, lelaki dan perempuan yang bukan mahram, haram berdua-duaan dan jubah serta kerudung yang kau pakai dan yang kubenci dulu itu adalah cara pakaian wanita Islam. Oh!…Humaira sungguh suci dan mulia dirimu,”
kata Firdaus penuh keinsyafan.
“Humaira! Andai kau masih ada, pasti kujadikan dirimu teman hidupku dan isteriku yang bakal mendidik anak-anak kita supaya menjadi anak yang shalih. Juga karena aku yakin engkau pasti dapat membantuku dalam perjuangan suci ini, sebagaimana sayyidina Khadijah dan ‘Aisyah r.a. membantu perjuangan suami mereka, Rasulullah SAW.”
Lamunan Firdaus tiba-tiba terhenti ketika titik-titik air hujan yang turun secara mengejutkan petang itu membasahi tubuhnya. Lalu ia pun berdo’a,
“Ya Allah, kupanjatkan syukur hamba kepada-Mu karena telah membuka hatiku dan juga karena telah menemukan hamba dengan Humaira, yang telah banyak memberi kesadaran sebelum hamba tersesat lebih jauh dari jalan-Mu. Semoga arwahmu ditempatkan bersama mereka yang beriman wahai Humaira, gadis yang suci…..Amin Ya Robbal’aalamiin.”

(alhamdulillah tammat)

Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amiin yaa Robbal’aalamiin.

Wassalamu’alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuhu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s