Semesta Rahasia

Paras berhadapan dengan berbagai sudut penjuru mata angin. Kecerahan biru menghadapmu dengan jelas, Kerinduan yang teramat mencuat menggedor pematang yang sebentar lagi layu. Kesaksian hati tak mungkin berbohong bahwa keinginan kehadiran tetap tampak. Tempat penantian temuan menghadap kembali namun jarak waktu terbentang dengan lika-liku alur yang semestinya tenang menemukan rekahan senyum dari wajah. Kembalikan pandangan setiap sela-sela yang mengharapkan tatapan hangat dirimu.

Tiba-tiba aku merasa tak sanggup membahagiakan rona hati, keadaan memang sebagai pecundang. Berlari dari Surabaya, entah apa tujuan. Ku raih dirimu segala mula aku bersandar dan berdiri, awal mula engkaulah hadir. Aku terhentak dalam kenyataan yang semestinya tampak. Engkau yang membawa rajutan tali, mengikat bentangan menyusuri pelangi yang melintang. Berjalan kearah warna-warni hingga mencapai puncak langit. Meski semua itu fana tapi keberadaan membuka lingkaran dalam lorong kenyataan.

Begitu kecil dengan naluri

Terbungkam senada bibir merah

Rangkulan raksaksa kendali imaji

Menemani ruang untuk menyerap mu

Batasan mengigil menanti tatapan. Salah membenci hal yang sepatutnya menjadi pelita. Sobekan kertas rusak dengan ulahnya yang meledakan petasan dihadapan. Berbicara mengingatkan, bibir kering berteriak ke seberang pulau hingga bertanya pada matahari yang hendak terbenam “Adakah kebenaran untukku, hening tak ada jawaban” desir ombak menggulung pasir mengajaknya mendayung sampan.

Takut menemui keutamaan, rasa bersalah menghantui sela-sela waktu.  Ditangannya ada kunci yang digenggamnya, semoga pembuka akan tampak jelas. Tapi aku masih takut menemui pujaan yang berisikan elok. Bukakan rahasia yang menjadi penghambat. Ego tak mau dirinya terselubung jala-jala rekatan dari luar, padahal ikhlas ucap penolong.

Panas menyulut jika ada orang yang ingin tahu. Seperti apa bara hati didalamnya, ternyata buram…..!. Anggukan setuju apabila tak ada yang tahu. Ulang apa kesulitan, acuh!!!.  Ketika kesepian datang manghampiri siapa lagi yang akan menemani keceriaan tulisanmu. Kegundahan merajai lubuk hati, siapa yang akan mengusir kegundahan selain engkau. Tunjukan setapak untuk melangkah meghampiri ketabahan dengan kekuatan keikhlasan.

Menyapamu dalam mimpi sebagai bunga tidur terindah kegelapan pekat. Kibasan sayap dan kokokan ayam nyaring terdengar, sepi dan senyap bisikan mentari menyambut pagi. Pecah dalam sinarnya yang telah ku ceritakan semuanya sampai tak ada lagi rahasia meski harus menunggu kedewasaan. Kasih adakah setapak untuk aku lintasi guna menjengukmu. Kerinduan tak sanggup kutahan dengan kebisuanku.

Keagungan…..

Mengerti bahwa aku tak saling menyapa ucap

Ingatkah aku….

Mengalah untuk termakna keeratan

Layak tak ada sangkal

Kepasarahan tercurah kasih tulus

Denting waktu menyatu detakan jantung yang menyeru untuk mencair kebekuan negative prasangka. Walau aku bilang bahwa aku selalu ada didekatmu walau lautan sebagai pembatas dinding. Berkali-kali ku ucap nama dengan tulus tapi tak khatam terdengar. Ku ingin nyata…..

Diriku tak mengetahui jelas apa watakku, apalagi kau memendam rahasia yang ku tak tau apa watakmu. Jawab menghentak keras. Bagaimana ku akan tahu engkau yang ku tak mengerti apa maksudnya watak.

Beberapakali terombang-ambing dalam sampan yang tersesat di tengah lautan, badai selalu datang mengagetkan nahkoda yang sedang berlayar.  Berapa juta kilometer jarak yang harus ku tempuh. Bila sembunyi dengan rahasia kehidupan yang tak ingin terusik kehadiran orang lain yang beradaptasi dengan kenyataanmu. Apakah rahasia selalu kasat oleh telinga? tak mungkin hantu menyiasati jalan. Aku akan menolong Mu…..

Naluri mencium kening yang terhembus oleh desiran angin seolah mimpi masih terus berputar seperti proyektor yang berputar. Mengendap pada tatapan masa lalu menjadi percikan cahaya yang masih bercahaya tapi ratap masih terus berusaha mengaggapi tak jua teraih, mungkin takdir Tuhan dalam misteri kehidupan. Wahai misteri jika aku menemui misterimu, masihkah mau engkau menghindar dan bersembunyi pada ketidakpastian. Jiwa meronta menagih halus belaian awan putih yang berjalan dilangit biru, menggetar-getar sampai bulu kuduk pun terangkat naik. Kejelasan nampak lukisan abstrak yang menggulung ribuan kali pasir pantai kemudian terbawanya ketengah oleh derasnya gelombang kegusaran jiwa yang masih terus bertanya. Meletakkan bermacam aksara kerinduan yang mencatat pada sebuah buku yang entah kapan penanggalannya dimana bermula awal riwayat tertulis. Berbagai lecutan api terkibas tajam hingga aku selalu diam dengan tagihan hati yang memendam kerinduan terdalam. Kebodohan dan keberanian berjalan-jalan di lubang bebatuan yang menganga jalan pintas rumah sakit jiwa karena hati terus memanggil keinginan yang harus dijawab dengan ketidakpastian dan keseriusan orang dewasa. Menggapai harapku yang timbul-tenggelam menatapi parasmu agar melekat dalam bunga tidur semalam dengan indahnya renungan kasih sayang.

Langkah menuju dimana dimana pintu terbuka menanti kedatangan kerinduan kejauhan yang mengaharap rindu menghampiri langkah yang dituju. Deras berjatuhan kepingan logam yang membentur otak yang terus bekerja memikirkan dimana kerinduan?, tak hentikan rahasia membututi jarak.

Sebaris kalimat tak usai merangkai

Mengais kata-kata dari bibir yang terus mencuap

Tentang rindu keberadaan nyata

Mengambang memutar jaringan yang semakin kusut

Akui apa yang terakui

Diamku terbuka luasan logika menuju engkau dengan ribuan kilometer jarak keadaan, menyelami apa yang diselami mencapai kerinduan hati yang selalu menggigil penantian. Dengan tanya dan cemas, seperti apa sebenarnya puji rinduan kekasih hati.

Teraih tanpa alasan tingkah diam tanpa patah kata yang mencoba menghibur naluri, biarlah pemikiran terus berputar. Kisah ingatan bermain dalam lingkaran waktu yang menghampiri keseharian. Harapkan warkah balasan bulan walaupun itu hanya ayat cuma, khayalan gambaran keberartian sejuta makna.

Fatamorgana menyamar dalam impian yang mendaki, memanjat, menurun curam sebuah lereng yang terjal dan tajamnya batu tebing ditepi gelisah. Mencari usaha kepastian hidup kenyataan sebagai pujian keikhlasan hati.

Rahasia selalu menggetarkan naluri dengan sebutan sebuah nama dikatakan padamu cinta atau aku hanya cinta pada diriku sendiri yang menghargai hak kemanusiaan mencintai seseorang dengan liku kepedihan yang harus dijawab dengan aroma petikan mawar, menyatu acak gambar menjadi satu.

Keindahan menarilah dengan gemulai mendamaikan hati pecinta yang berputar pada galaksi bima sakti yang meliputi berbagai macam planet dan asteroid yang berputar. Cakrawala fajar menerangkan terang dalam kesejatian awal mulanya riwayat dibubuhi kekasih pelupuk cinta suci. Tertawan menyerahkan sepenuh keinginan adanya keadaan yang pantasnya selalu tampak ada seperti apa sejati adanya.

Demikian terjalani dengan tanyaku yang mengaharapkan jawab dalam benak segala tanya sebuah rahasia. Semesta melebur menyatu dalam diri aku menggetar-getar satu menyatu leburkan paduan kasih sejati dalam wujud nyata alam semesta yang megah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s