Yogyakarta

Kraton Jogja Kraton ( istana ) Kasultanan Yogyakarta terletak dipusat kota Yogyakarta. Lebih dari 200 tahun yang lalu, tempat ini ini merupakan sebuah rawa dengan nama Umbul Pacetokan, yang kemudian dibangun oleh Pangeran Mangkubumi menjadi sebuah pesanggrahan dengan nama Ayodya. Pada tahun 1955 terjadilah perjanjian Giyanti yang isinya membagi dua kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dibawah pemerintah Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta dibawah pemerintah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I.

Pesanggrahan Ayodya selanjutnya dibangun menjadi Kraton Kasultanan Yogyakarta . Kraton Yogyakarta berdiri megah menghadap ke arah utara dengan halaman depan berupa alun- alun ( lapangan ) yang dimasa lalu dipergunakan sbg tempat mengumpulkan rakyat, latihan perang bagi para prajurit, dan tempat penyelenggaraan upacara adat. Pada tepi sebelah selatan Alun- alun Utara , terdapat serambi depan istana yang lazim disebut Pagelaran. Ditempat ini Sri Sultan, kerabat istana dan para pejabat pemerintah Kraton menyaksikan latihan para prajurit atau beberapa upacara adat yang diselenggarakan di alun – alun utara. Dihalaman lebih dalam yang tanahnya sengaja dibuat tinggi ( sehingga disebut Siti Hinggil ), terdapat balairung istana yang disebut bangsal Manguntur Tangkil. Ditempat ini para wisatawan dapat menyaksikan situasi persidangan pemerintahan Kraton jaman dulu, yang diperagakan oleh boneka – boneka lengkap dengan pakaian kebesaran. Kraton sebagai pusat pemerintahan dan Kraton sbg tempat tinggal Sri Sultan Hamengku buwono beserta kerabat istana, dipisahkan oleh halaman dalam depan yang disebut Kemandungan utara atau halaman Keben, karena disini tumbuh pohon yang dalam tahun 1986 dinyatakan Pemerintah Indonesia sbg lambing perdamaian , dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Internasional. Didalam lingkungan Kraton sebelah dalam terdapat halaman Sri Manganti dengan regol ( gapuro ) Danapratopo yang dijaga sepasang Dwarapala : Cingkarabala dan Bala Upata, Bangsal Traju Mas, Bangsal Sri Manganti yang kini dipergunakan untuk menyimpan beberapa perangkat gamelan antik dan dari masa silam, yang memiliki laras merdu sewaktu diperdengarkan suaranya. Didalam halam Inti yang terletak lebih kedalam,para wisatawan dapat menyaksikan gedung Kuning yang merupakan gedung tempat Sri Sultan beradu, bangsal Prabayekso. Bangsal manis, tempat Sri Sultan menjamu tamu – tamunya, lingkungan Kasatriyan sbg tempat tinggal putera ; putera Sri Sultan yang belum menikah. Tempat terakhir ini terlarang bagi kunjungan wisatawan.

Kraton merupakan sumber pancaran seni budaya jawa yang dapat disaksikan melalui keindahan arsitektur dengan ornamen- ornamennya yang mempesonakan. Setiap hari Karaton terbuka untuk kunjungan wisatawan mulai pukul 08.30 hingga pukul 13.00, kecuali hari Jum;at Kraton hanya buka sampai dengan pukul; 11.00. Puro Pakualaman Selain Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di Yogyakarta terdapat sebuah istana lain yang terletak di jalan Sultan Agung, istana Puro Pakualaman, tempat tinggal Sri Pakualam IX, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Istana ini sering dipergunakan untuk menerima tamu-tamu Negara yang berkunjung ke daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sayap Timur bagian depan dari istana nini dipergunakan sebagai museum Puro Pakualaman dengan mempergunakan 4 buah ruangan, yang dapat dikunjungi masyarakat setiap hari Senin dan Kamis, antara pukul 11.00 hingga 13.00. dalam museum ini tersimpan benda-benda bersejarah yang memiliki nilai budaya tinggi, dan merupakan peninggalan masa sliam dari keluarga Paku Alam. Istana Air Tamansari Terletak lebih kurang 400 meter dari komplek Kraton Yogyakarta atau sekitar 10 menit jalan kaki ke pasar burung dari halaman Mangangan.

Tamansari berarti Taman yang indah, dimana zaman dahulu merupakan tempat rekreasi bagi Sultan Yogyakarta beserta kerabat istana. Kini, Tamansari dapat dikunjungi oleh masyarakat umum. Mulai dari pukul 08.00 hingga hingga 16.00. Di kompleks ini terdapt tempat yang masih dianggap sacral di lingkungan Tamansari, yakni Taman Ledoksari dimana tempat in merupakan tempat peraduan dan tempat pribadi Sultan. Diantara bangunan yang menarik adalah Sumur Gemuling yang berupa bangunan bertingkat 2 dengan lantai bagian bawahnya terletak di bawah tanah. Di masa lalu, bangunan ini merupakan semacam surau tempat Sultan melakukan ibadah sholat. Bagian ini dapat dicapai melalui lorong bawah tanah. Di bagian lain masih banyak lorong bawah tanah yang lain, yang merupakan jalan rahasia, dan dipersiapkan sebagai jalan penyelamat bilamana sewaktu-waktu kompleks ini mendapat serangan musuh. Di sebelah Utara kompleks Tamansari terletak pasar Ngasem (sering disebut Pasar Burung) tempat jual-beli binatang unggas (burung indah, burung penyanyi, merpati, bekisar dan lain-lain). Kompleks Tamansari juga merupakan pemukiman para seniman muda, khususnya yag bergerak dalam seni lukis batik. Karya-karyanya cukup bermutu sedang harganya terjangkau kantong wisatawan.

Makam Kota Gede Kunjungan ke Makam Kotagede merupakan perjalanan wisata ziarah yang masih berkaitan dengan kunjungan ke obyek-obyek wisata di lingkungan Kraton Yogyakarta. Sebenarnya makam ini bernama Makam Sapto Renggo, namun umumnya masyarakat Yogyakarta menyebut sebagai makam Kotagede, sesuai dengan nama daerah ini yang terletak di sudut Tenggara Kota Yogyakarta, lebih kurang 5 kilometer dari pusat Kota. Di dalam gedung makam utama, dimakamkan Ngabehi Loring Pasar Sutawijaya, pendiri kerajaan Mataram yang bergelar Panembahan Senopati, yang juga merupakan leluhur atau nenek moyang dari Sultan-sultan yang memerintah Kasultanan Yogyakarta. Dalam gedung pemakaman yang sama, dimakamkan pula ayah bunda beliau Ki/Nyi Ageng Pemanahan, Sultan Hadiwijaya dari kerajaan Pajang yang merupakan ayah angkat beliau dan kerabat istana yang lain.

Selain itu terdapat pula makam Ki Ageng Mangir, menantu Panembahan Senopati yang juga merupakan musuh beliau, sehingga setengah dari makamnya terletak diluar. Kurang lebih 100 meter di sebelah Selatan dari kompleks makam ini, masih dapat disaksikan “Watu Gilang” yang konon adalah lantai singgasana Panembahan Senopati yang digunakan untuk mengakhiri hidup Ki Ageng Mangir Wanabaya. Memasuki kompleks utama, para peziarah diharuskan mengenakan pakaian tradisional, yang dapat disewa dari para petugas makam atau bisa membawa sendiri. Untuk masuk ke gedung pemakaman tidak dipungut biaya, kecuali sekedar biaya sukarela yang dimasukkan kedalam kotak dana. Waktu untuk mengunjungi makam yaitu pada tiap hari Jumat mulai pukul 13.00 hingga 17.00. sedang untuk mengunjungi dan melihat kompleks makam yang lain, dan menyaksikan bangunan-bangunan tradisional peninggalan Kraton Mataram (dalam periode Kerajaan Mataram Islam bisa dilaksanakan setiap hari). Makam Imogiri Makam Imogiri sebenarnya Makam Hastarengga, dan merupakan makam yang lebih muda usianya dibandingkan dengan makam Kotagede. Di makam Imogiri ini, dimakamkan Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Mataram sepeninggal Panembahan Senopati, terutama putra Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Makam ini dibangun di atas bukit, dan untuk mencapainya kita harus mendaki tangga dari batu berundak sebanyak 345 buah hingga tiba di suatu persimpangan jalan. Ziarah ke Makam Imogiri dapat dilakukan setiap hari Senin antara pukul 10.00 hingga 13.00 atau Jumat antara pukul 13.00 hingga 16.00 Para peziarah diharuskan mengenakan pakaian khusus seperti yang dikenakan di Makam Kotagede. Kendaraan yang menuju ke daerah ini adalah micro-bus dari Brontokusuman, sampai di Terminal Imogiri. Jarak dari Teminal ke makam hanya 100 meter, dapat dicapai dengan berjalan kaki. Candi Borobudur Borobudur merupakan candi terbesar di dunia, yang merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia. Terletak di sebelah barat laut kota Yogyakarta, sejauh kurang lebih 42 kilometer. Dibangun pada abad VIII, merupakan hasil kerja keras dan di tunjang ketekunan para pekerja dan dedikasi yang tinggi dari kerbat dan rakyat Wangsa Cailendra yang berkuasa pada masa itu. Candi itu benar-benar menampilkan kebesaran kerajaan Cailendra, yang berusaha menggambarkan riwayat hidup Sidharta Gautama dan menjelaskan ajaran-ajaran melaui relief-relief yang terukir indah pada dinding candi. Dari puncak candi dapat dilihat alam sekeliling yang indah, Gunung Sumbing sebagai salah satu tipe gunung berapi yang ada di daerah Jawa Tengah yang mengepulkan asap tampak disebelah barat antara awan yang bergerak. Bangunan ini merupakan peninggalan nenek moyang kita yang sangat berharga bukan hanya bangsa Indonesia tetapi juga bangsa-bangsa di dunia pun ikut memilikinya.

Candi Sambisari, Candi Sambisari terletak di desa Sambisari Kelurahan Purwomartani, lebih kurang 12 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Tempat ini dapat dicapai dengan kendaraan umum bus atau microbus jurusan Yogya-Solo, sampai di sekitar kilometer 10 dimana terdapta persimpangan kea rah kiri (arah Utara) yang diberi papan penunjuk ke arah lokasi candi Sambisari (lebih kurang 2 kilometer). Candi ini baru saja diketemukan, yakni di sekitar tahun 1966, ketika seorang petani dengan tidak sengaja membenturkan cangkulnya pada puncak candi yang di tanah peladangnya. Berdasarkan penelitian geologis terhadap batuan candi dan tanah yang telah menimbunnya selama ini, candi setinggi 6 meter ini telah terbenam oleh material gunung Merapi dalam letusannya yang hebat pada tahun 1906. Candi Sambisari merupakan candi Hindu dari abad ke 10 dan diperkirakan diabngun oleh seorang raja dari wamca Sanjaya, dengan patung Shiwa sebagai Mahaguru menempati bilik utamanya. candi Prambanan. Museum Sri Sultan HB IX Museum ini berada di dalam kompleks Kraton Yogyakarta yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X tanggal 18 November 1990. Benda-benda /peralatan, foto-foto dan tanda jasa serta barang yang ditampilkan dalam museum ini khusus miik maupun yang diterima almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Jam buka bersamaan dengan Kraton Yogyakarta.

Museum Kereta & Kraton Keberadaan Museum Kraton sudah dirintis pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Kraton memiliki beberapa museum yang dikenal dengan Museum Kraton Yogyakarta. Museum-museum yang dimaksudkan tersebut adalah Museum Lukisan, Museum Kraton, Museum Hamengku Buwono IX, dan Museum Kereta. Museum Hamengku Buwono IX terletak di dalam kompleks Kraton, menyimpan beberapa benda yang pernah dipergunakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX termasuk berbagain perlengkapan fotografi. Museum Kerata terletak di sisi barat Kraton, tepatnya di jalan Rotowijayan. Museum ini menyimpan berbagai koleksi kereta milik Kraton, beberapa diantaranya adalah Kyai Garuda Yeksa, kereta yang dipergunakan untuk acara kirab dalam rangkaian penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono VI sampai X; Kyai Jaladara –digunakan Sultan untuk tugas keliling desa; dan Kyai Kanjeng Jimat –digunakan Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai III untuk acara Garebeg atau menjemput tamu-tamu khusus. Museum Kraton terletak di atas tanah seluas 14.000 meter persegi dengan bangunan berciri artiektur Jawa. Museum Batik Ullen Sentalu Museum ini di desain dengan menggunakan konsep tradisional dan dibangun dari bahan-bahan batu-batu setempat, dan berlokasi di Kaliurang, di lereng Gunung Merapi. Disini, semangat Ullen Sentalu ditemukan di Dalem Kaswargan. Museum yang didesain dengan sangat indah ini didedikasikan untuk menghargai apresiasi masyarakat pada benda-benda sejarah dan seni Jawa serta kecantikan alam yang dijumpai di ketinggian Kaliurang. Buka: Selasa – Minggu (09.00 pagi sampai 04.00 sore). Museum Seni Lukis Kontenporer I Nyoman Gunarsa Bangunan museum ini menempati tanah seluas 1.000 meter atas bangunan yang bercorak tradisional dan modern. Museum ini mempunyai tiga ruang pameran, yaitu ruang pertemuan / pendapa, ruang pamer tetap, dan ruang kantor. Museum SLKI Nyoman Gunarso khusus mendokumentasikan karya pelukis-pelukis Indonesia yang berprestasi dan professional dalam seni lukis, khususnya seni kulis kontemporer Indonesia. Koleksi museum itu berjumlah ± 500 lukisan. Beberapa lukisan unggulannya antara lain lukisan dengan judul “Subali Sugriwa” dan “Spirit Hamengku Buwono IX Museum Sasana Wiratama Diponegoro Museum ini menempati areal tanah seluas 2 hektar, terletak di kampung Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Bangunan inti monument berarstiektur tradisional Jawa dengan bentuk joglo yang terdiri dari bangunan pendapa dan pringgitan. Bangunan tersebut terakhir dipugar pada tahun 1987. Museum Monumen Pangeran Diponegoro memiliki 100 buah koleksi yang terdiri dari berbagai jenis senjata tradisional seperti keris, tombak, pedang, panah, dan bedil. Sedang koleksi unggulannya berupa bangunan tembok berlubang (jebol) yang menurut sejarah merupakan bangunan yang dijebol oleh Pangeran Diponegoro guna meloloskan diri dari kepungan kompeni. Di samping itu ada beberapa koleksi yang diperlakukan khusus, yaitu koleksi yang merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono II yang berasal dari tahun 1752. Koleksi tersebut berujud ketipung (kendang kecil) dan wilahan binang penempung yang terbuat dari kayu dan perunggu berwarna merah dan kuning.

Museum Monumental Pangeran Diponegoro dibuka setiap hari Senin sampai Sabtu pukul 08.0-13.00 WIB. Museum Affandi Museum ini terletak di sisi sebelah Utara dari jalan Solo nomor 167, tepatnya di lereng sebelah Barat jembatan sungai Gajah Wong. Gaya lukisannya termasuk dalam aliran eksperesionisme. Almarhum Affandi telah menerima banyak penghargaan dari Negara-negara di Asia dan Eropa, disamping gelar Doctor Honoris Causa yang diterimanya dari Universitas Singapore. Museum ini terbuka untuk kunjungan umum. Minggu s/d Sabtu 09.00-13.00 WIB. Museum Benteng Vredeburg Di masa penjajahan Belanda, benteng ini merupakan tangsi militer bala tentara pemerintahan Belanda, yang dibangun pada tahun 1765. benteng ini terletak tepat di depan bangunan Gedung Agung, dengan maksud untuk melindungi Residen Belanda yang bertempat tinggal di dalam gedung itu. Menilik lokasi berdirinya, benteng ini nampaknya juga sengaja dibangun untuk menghadapi gerakan militer yang mungkin timbul dari Kraton Yogyakarta, yang letaknya hanya 1 jarak tembakan meriam (meriam kuno) dari benteng ini. Ini terlihat dari letak altar meriam yang terletak disebelah Selatan (menghadap ke Kraton). Dari atas altar kanon (meriam), kita dapat menyaksikan kesibukan lalu lintas di sekitar gedung-gedung kuno dari pertengahan abad ke 19, yang hingga kini masih terawat baik dan tetap dipertahankan keantikannya. Museum ini di buka pada hari: Selasa s/d Minggu: Pukul 08.30-14.00 WIB Jumat : Pukul 08.00-11.00 WIB Sabtu-Minggu : Pukul 08.30-12.00 WIB Museum Sasmita Loka Jenderal Soedirman Museum in terletak di jalan Bintaran Yogyakarta dan merupakan bekas rumah kediaman Panglima Besar Jendral Sudirman, jendral pertama dalam angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Dalam museum ini, para pengunjung dapat menyaksikan berbagai senjata api (diantaranya merupakan senjata api buatan sendiri) dan berbagai peralatan perang lain yang dipergunakan dalam revolusi phisik menghadapi musuh-musuh Negara. Diantaranya benda-benda peninggalan Panglima Besar Sudirman, terdapat tandu (kursi yang dilengkapi dengan tangkai pemikul) yang setia membawa beliau selama bergerilya, dibuka tiap hari jam 08.00-14.00 WIB Museum Wayang “Kekayon” Museum ini diresmikan oleh Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Paduka Paku Alam VIII tanggal 5 Januari 1991. menempati 9 unit bangunan dengan luas tanah lebih 1,1 hektar. Terletak pada km 7 dengan nomor telepon 513218. Dalam Museum ini dapat disaksikan beberapa jenis waayang antara lain: Wayang Purwo, Wayang Madyo, Wayang Thengul, Wayang Klithik, Waayang Beber dan lain sebagainya. Wayang tersebut terbuat dari : kulit, kayu, kain, dan kertas. Selain koleksi wayang, juga terdapat jenis topeng. Bangunan yang disebut Sasono Pratelo merupakan tempat pelayanan informasi tentang Wayang dan Topeng. Museum ini dapat dikunjungi untuk umum dibuka setiap hari pukul 08.00-15.00 WIB dengan menghubungi pengurusnya terlebih dahulu. Agung Hampir di ujung Selatan jalan Malioboro, berdiri bangunan megah Gedung Agung, yang diantara tahun 1946 hingga 1949, tatkala Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia, merupakan tempat Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno.

Pada jaman penjajahan Belanda, gedung ini merupakan kediaman Residen Belanda. Saat ini Gedung Agung yang nampak anggun ini dipergunakan sebagai Wisma Negara dan tempat menerima tamu-tamu Agung yang berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Didalamnya terdapat diorama yang menggambarkan perjuangan Bangsa Indonesia melawan Tentara Belanda. Pada setiap tanggal 17 dilaksanakan upacara Parade Senja yang dimulai pukul 15.00 WIb. Disamping itu Museum ini dibuka setiap hari pukul 08.00-15.00 WIB. Monumen Pergerakan Wanita Mandala Bhakti Wanitatama Gedung Wanita didirikan pada tanggal 22 Desember 1955 sebagi pernyataan kebulatan tekad wanita Indonesia dalam usaha memajukan kaumnya. Pembangunan gedung ini diperoleh dari hasil seluruh lapisan masyarakat wanita Indonesia. Pada tahun 1983 Gedung Wanita mengalami rehabilitasi dan pembangunan baru, yang untuk selanjutnya gedung ini bernama Mandala Bhakti Wanita Tama, yang berarti tempat berbakti dari para wanita utama. Bentuk bangunan induk dari gedung baru ini memiliki gaya bangunan (arstiektur) Jawa, yang sangat menarik, dilengkapi dengan ukir-ukiran yang artistik. Gedung Mandala Bhakti Wanita Tama berlokasi di jalan Solo, sekitar 5 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Gedung tersebut merupakan Monumen Pergerakan Wanita sekaligus sejarah perjuangan wanita Indonesia. Masjid Agung Terletak di sebelah Barat Alun-alun Utara Yogyakarta yang hingga kini masih dipergunakan untuk tempat beribadah sehari-hari bagi umat Islam. Dihari-hari besar agama Islam, masjid ini dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan upacara-upacara resmi keagamaan Islam dari Kraton Yogyakarta. Masjid Agung Yogyakarta memiliki gaya bangunan Jawa yang spesifik, utamanya dalam bentuk atapnya yang disamping unik juga indah menyerupai Masjid Agung Kadilangu yang dibangun oleh Sunan Kalojogo (salah seorang dari Waki Songo di kota antik Demak). Masjid Soko Tunggal Terletak di sebelah kiri (sisi Selatan) dari plaza (jalan masuk) yang menuju ke gapura depan Tamansari dan hingga kin masih dipergunakan untuk tempat beribadah umat Islam. Keistimewaan dari masjid ini terletak pada soko guru (tiang penyangga utama) nya yang hanya berjumlah satu buah dan ditopang oleh batu penyangga lazimnya disebut Umpak, yang berasal dari zaman pemerintahan Sultan Agung Hanyokro Kusuno dari Kerajaan Mataram Islam. Masjid Patok Nagara Kasultanan Yogyakarta yang merupakan periode akhir di Jawa selain mempunyai masjid Agung juga mempunyai masjid yang berstatus Kagungan Ndalem. Masjid-masjid tersebut terbagi dalam tiga tingkatan yang didasarkan atas ciri-ciri dan fungsi serta kedudukan dan kepentingannya bagi Kraton. Tingkatan masjid-masjid yang diurusi oleh Kraton Yogyakarta adalah sebagai berikut: -Masjid Agung Yogyakarta -Masjid Patok Negara -Masjid Kagungan Ndalem biasa (sepuluh masjid) Masjid Patok Negoro adalah sebutan bagi lima buah masjid Kraton Yogyakarta (Masjid Ploso Kuning, Masjid Mlangi, Masjid Babatan, Masjid Wonokromo dan Masjid Dongkelan). Keberadaan kelima masjid ini merupakan satu hal yang khas karena tidak dijumpai di kasunanan / Kraton yang ada di Jawa. Istilah patok negoro berasal dari dua kata yaitu Pathok (patok) dan Negara (nagoro). Didalam istilah bahsa Jawa patok adalah kayu atau bambu yang ditancapkan sebagi tetenger /tanda yang tetap, sedang nagoro adalah kota tempat tinggal raja, jadi patok negoro adalah sebuah tanda kekuasaan raja dan tanda tersebut tidak dapat dirubah. Sendang Sono Merupakan tempat ziarah bagi pemeluk agama Katholik. Tempat ini dibangun menyerupai Lourdes di Perancis, dimana pada masa yang silam, Bunda Maria, ibunda Nabi Isa Al Masih telah menampakkan diri di hadapan seorang gadis Santa Bernadetta, dan melakukan berbagai mukjizat kepada masyarakat setempat. Nama Sendangsono diambil dari istilah “sendang” yang berarti mata air dan “sono”, merupakan nama suatu jenis pohon. Sendangsono berarti mata air di bawah pohon Sono. Pada bulan Mei dan bulan Oktober, tempat ini ramai sekali dipenuhi oleh peziarah dari seluruh Indonesia. Transportasi umum yang menuju ke daerah ini adalah micro-bus yang melayani jurusan Yogya-Kalibawang, dan berhaenti di mulut jalan di mana kantor Kalurahan Banjaroya. Setiba di Gereja Promasan, perjalanan diteruskan melintasi jalan setapak yang disebut “jalan salib” sepanjang kurang lebih 2 kilometer hingga tiba di kompleks Sendangsono.

Gumuk Pasir Gumuk pasir Parangtritis merupakan sebuah warisan dunia (world heritage), sebagai bentukan endapan pantai yang mencapai ketinggian 20 mpl. Di dunia hanya ada di 4 negara, salah satunya di Indonesia yaitu di Parangtritis. Selain sebagai laboratorium alam berbagai cabang ilmu kebumian fenomena alam gumuk pasir membentuk ekosistem yang khas. Pantai Samas Pantai Samas ini dikenal memiliki ombak yang besar dan terdapat delta-delta sungai dan danau air tawar yang membentuk telaga. Telaga-telaga tersebut digunakan untuk pengembangan perikanan, penyu, dan udang galah serta berbagai lokasi pemancingan. Disebelah Barat terdapat Pantai Patehan dengan panorama yang indah Lokasi : di Desa Srigading, Kec. Sanden kurang lebih 24 Km dari yogyakarta ke arah Selatan. Atraksi/Event Wisata : Upacara Kirab Tumuruning Maheso Suro, Labuhan Sedekah Laut, Pentas Seni Budaya ( liburan dan lebaran ). Fasilitas Terminal. Tempat Parkir, MCK, Penginapan, Rumah Makan, SAR, Jaringan Listrik, Mushola dan Sarana Transportasi. dengan Tiket masuk :Rp. 1.100,- / pengunjung ( termasuk Asuransi Rp. 100,- Angkutan Umum : Rute jalur Bis ; : Yogyakarta ( Terminal Bis Umbulharjo ) – Pantai Samas Rp. 2.000,0/orang. Pantai Siung Pantai ini terletak di desa Purwodadi Kecamatan Tepus, berjarak + 35 Km dari Wonosari dengan prasarana jalan aspal sampai di tepi pantai. Pantai Siung merupakan cekungan laut yang diapit 2 bukit dengan tebing terjal yang dihiasi relief perbukitan Kars dan memungkinkan sebagai lokasi olahraga panjat tebing. Kerindangan daerah sekitarnya merupakan tempat habitat kera ekor panjang. Dengan hamparan pasir putih serta ombak yang tidak begitu besar, merupakan tempat yang nyaman bagi nelayan untuk mencari ikan laut yang beraneka ragam jenisnya. Pada saat-saat tertentu, para wisatawan juga bisa menikmati sajian kesenian khas daerah yaitu atraksi seni Doger. Pantai Ngandong Merupakan pantai landai yang berpasir putih, sangat nyaman untuk bersantai dan berjalan menyusuri pantai. Pantai Sundak Pantai ini terkenal dengan panorama alam hijau yang menyatu dengan suasana pantai yang menyegarkan, biasa digunakan sebagai ajang lokasi perkemahan bagi wisata remaja. Pantai Krakal Pantai Krakal dapat dicapai melalui jalan sepanjang 6 kilometer dari kawasan pantai Kukup, sehingga pantai Krakal merupakan mata rantai perjalanan setelah mengunjungi pantai Baron dan pantai Kukup. Jarak pantai Krakal dari Yogyakarta lebih kurang 65 kilometer dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam.

Perjalanan menuju pantai Krakal ini juga melintasi bukit – bukit kapur, diselingi dengan teras – teras batu karang. Hal ini merupakan ciri dari daerah karst yang dikelola penduduk. Berdasarkan penelitian geologis, pada zaman yang silam, daerah ini merupakan dasar dari lautan yang oleh proses pengangkatan yang terjadi pada kerak bumi, dasar laut ini semakin lama semakin meninggi dan akhirnya muncul sebagai dataran tinggi. Batu – batuan karang yang nampak pada waktu itu merupakan bekas rumah binatang karang yanghidup di air laut saat itu. Pantai Krakal merupakan pantai yang paling indah, di antara seluruh hamparan pantai di sepanjang pulau Jawa. Pantai ini akan dibangun menjadi kawasan pantai dan perkampungan wisatawan, khususnya wisatawan asing, semacam tourist resort Nusa Dua di pulau Bali. Pantai Krakal, bentuk pantainya landai, berpasir putih, terhampar sepanjang lebih dari 5 kilometer. Pantai ini menerima panas matahari dari pagi hingga petang hari sepanjang tahun. Angin laut yang terhembus sangat sejuk, ombaknya cukup besar. Kawasan Wisata Pantai Parangtritis Sejak zaman dahulu, komplek pantai Parangtritis telah terkenal, tidak saja sebagai kawasan rekreasi pantai, tetapi juga terkenal sebagai tempat yang memiliki banyak peninggalan sejarah, khususnya yang berkaitan dengan legenda Kanjeng Ratu Kidul atau Ratu Penguasa Laut Selatan. Kompleks Parangtritis terletak 27 kilometer dari Yogyakarta lewat Kretek. Untuk mencapai kawasan ini, para pengunjung dapat menempuh salah satu dari dua jalur jalan: Jalur jalan pertama : Dari terminal Umbulharjo melalui Pojok Beteng wetan (tenggara) Kraton Yogyakarta lurus ke selatan sampai ke Obyek Wisata Kompleks Pantai Parangtritis. Jalur jalan kedua : Dari terminal Umbulharjo melalui daerah Imogiri (makam Raja – Raja Mataram) dan desa Siluk dengan jalan naik turun sambil menikmati pemandangan yang indah, hingga sampai ke Kompleks Obyek Wisata Pantai Parangtritis. Jalur kedua ini berjarak ± 10 km lebih jauh dibandingkan dengan jalur pertama menggunakan Bus Umum dengan trayek tetap. Sebagai suatu kawasan wisata alam yang sekaligus juga merupakan kawasan wisata budaya dan ziarah, Parangtritis telah memperlengkapi diri dengan penginapan – penginapan dan rumah – rumah makan, serta berbagai fasilitas rekreasi seperti kolam pemandian, bumi perkemahan dan lain sebagainya. Obyek wisata yang dapat dikunjungi di kawasan ini antara lain : Parang Wedang : Suatu sumber mata air panas bermineral yang tidak pernah kering sepanjang tahun, yang sering digunakan pula untuk menyembuhkan penyakit kulit. Parang Kusuma : Tempat ini dianggap sebagi tempat yang paling sakral dari seluruh kompleks kawasan Parangtritis, dimana menurut kepercayaan Jawa, merupakan tempat pertemuan antara Raja – raja yang memerintah kerajaan Yogyakarta dengan kanjeng Ratu Kidul. Pertemuan ini terjadi pada sebuah batuan yang merupakan sisa kegiatanvulkanis dimasa silam (post volcanic) yang merupakan suatu batuan intrusi di tengah hamparan pasir pantai, dengan nama watu gilang dan fasilitas yang ada seperti penginapan, Masjid, Rumah makan dan Toilet. Dataran tinggi Gambirowati : Dataran tinggi Gambirowati merupakan salah satu tempat yang memiliki pemandangan indah ke kompleks pantai Parangtritis dan ke laut lepas di sekitarnya. Tempat ini dapat dicapai dengan menyusur jalan dari Parangtritis ke arah Panggang dan Goa Langse, yang merupakan jalan menanjak ke perbukitan. Bukit Gupit yang ada di jalan ini, sering dipergunakan sebagai tempat start/meloncat para pecinta olahraga layang gantung (gantole). Goa Langse : Merupakan goa pertapaan yang berwujud suatu lorong di bawah batu karang, yang mulutnya menghadap kearah laut lepas. Goa ini dapat dicapai dengan menuruni batu karang yang terjal, dan berbatuan melalui tangga dari tali atau bambu, untuk itu diperlukan suatu keberanian yang prima dan ketrampilan khusus. Pada saat air laut pasang, mulut goa ini tertutup oleh air laut, sehingga untuk masuk atau keluar dari goa, hanya dapat dilakukan pada saat air laut surut. Makam Syeh Bela – Belu : Terdapat di bukit Pemancingan, yang dianggap sebagai makam yang keramat. Makam ini banyak dikunjungi oleh para peziarah, utamanya pada hari Jum’at dan Selasa Kliwon. Pantai Kukup Berwisata ke pantai Kukup, merupakan mata rantai dari kunjungan rekreasi ke pantai Baron, sebab jarak diantara kedua pantai tersebut lebih kurang hanya 1 kilometer, bisa ditempuh dengan jalan setapak.

Pantai Baron berpasir putih kekuning – kuningan. Goa – goa karang yang teduh, serta ikan hias air laut banyak didapati di daerah ini dan sangat memikat para wisatawan. Menikmati keindah-an salah satu pantai laut Indonesia yang sangat mem-pesona, wisatawan bisa naik ke bukit karang di pinggir pantai antara Baron dan Kukup, melalui jalan – jalan setapak. Adapun berbagai jenis ikan hias air laut dapat disaksikan pengunjung melalui Aquarium ikan hias air laut yang ada di Pantai Kukup. Pantai Glagah atau Congot Pantai Glagah terletak di Kabupaten Kulon Progo, lebih kurang 40 km dari kota Yogyakarta. Pantai ini dapat dicapai dengan kendaraan pribadi atau dengan kendaraan umum bus atau micro – bus jurusan Yogyakarta-Purworejo hingga di persimpangan jalan menuju pantai Glagah. Dari persimpangan jalan ini, para pengunjung yang tidak mem-bawa kendaraan sendiri dapat meminta jasa “ojek”, yakni membonceng kendaraan bermotor beroda dua. Bagi para pecinta hiking, menempuh jarak tersebut dengan jalan kaki merupakan perjalanan yang sehat dan mengasyikkan. Pemerintah Daerah setempat telah membangun kawasan pantai ini dengan berbagai fasilitas seperti taman rekreasi, kolam pemancingan dan bumi perkemahan. Di sungai Serang di tempat ini, para penggemar olahraga bisa memperoleh sarana olahraga dayung (canoe). Pantai Congot berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pantai Glagah, kedua pantai tersebut telah dihubungkan dengan jalan beraspal.

Pantai Trisik Pantai ini terletak lebih kurang 37 kilometer dari kota Yogyakarta dan dapat dicapai melalui Palbapang. Dari simpang Palbapang ini kemudian membelok ke arah Srandakan, kemudian dilanjutkan ke daerah Brosot dengan melintasi jembatan yang melintang di atas sungai Progo sepanjang lebih kurang 600 meter. Dari daerah Brosot, perjalanan sepanjang 5 kilometer ke arah pantai Trisik dapat dicapai dengan sarana transport lokal yang berupa dokar atau andhong (sado, kereta kuda khas Yogya). Jarak Yogyakarta – Trisik ini dapat ditempuh dengan kendaraan umum micro bus sampai ke pantai. Pantai Trisik merupakan kawasan wisata yang menarik, utamanya bagi para pemancing ikan, karena di sungai (terusan) Gunsairo yang terdapat didaerah banyak dihuni ikan – ikan besar. Waduk Sermo Obyek wisata Waduk Sermo terletak di desa Hargowilis kec. Kokap. Jarak dari Yogyakarta 36 km. ke arah barat dan 6 km. dari kota Wates. Waduk ini merupakan satu-satunya waduk di propinsi D.I.Y. yang mempunyai luas genangan 157 Ha. Bentuk waduk yang berkelok-kelok dan dikelilingi bukit-bukit merupakan keindahan tersendiri yang dapat dinikmati dengan menggunakan perahu motor. Bagi yang menyukai ikan segar dapat membeli di karamba atau memancing. Sedangkan yang menyukai masakan ikan segar, tersedia warung apung yang menyajikan ikan goreng dan bakar. Gua Cerme Goa Cerme, sebuah goa yang terletak di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul mempunyai panjang lorong kurang lebih 1.200 meter, memiliki pemandangan dalam goa yang unik dan menarik dengan Stalaktit dan Stalakmit serta aliran air jernih yang di beberapa tempat mencapai kedalaman 1 meter merupakan obyek wisata alam yang cukup menarik untuk dikunjungi. Letaknya tidak begitu jauh dari kota Yogyakarta ± 22 Km dan mudah dicapai oleh segala macam kendaraan. Menurut ceritera , goa ini dahulu merupakan tempat pertemuan yang dipergunakan oleh Walisongo pada awal penyebaran agama Islam di pulau Jawa’. “Cerme” berasal dari kata “Ceramah”, yaitu ceramah yang dilakukan oleh Walisongo dan para pengikutnya pada waktu merencanakan pendirian Masjid Agung di Demak. Dengan Stalaktit dan Stalakmit yang indah dan unik dengan aliran air yang jernih dan sejuk, pengunjung akan merasa senang dan santai menyusuri lorong – lorong goa, dengan begitu segala kepenatan akibat kesibukan dan rutinitas kehidupan dapat sirna begitu saja. Para pengunjung yang bermaksud memasuki goa, sebaiknya menghubungi juru kunci agar memperoleh keterangan dan panduan yang benar. Di samping goa Cerme sebagai goa utama di sekitarnya masih ada beberapa goa lebih kecil yang biasa digunakan sebagai tempat bersemedi antara lain goa Dalang, goa Ledek, goa Badut dan goa Kaum. Sepanjang perjalanan menyusuri lorong goa, mulai dari pintu masuk di dusun Srunggo, Imogiri, Bantul para pengunjung akan menjumpai bekas panggung pertemuan, air Zam – zam, mustoko, air suci, watu kaji, pelungguhan / paseban, kahyangan, grojogan sewu, air penguripan, gamelan, batu gilang, lumbung padi, gedung sekakap, kraton, panggung, goa lawa dan watu gantung, kemudian sampai di pintu keluar di desa Ploso, Giritirto, Panggang, Gunungkidul. Gua selarong Di masa silam Goa Selarong merupakan markas besar dari laskar Pangeran Dipo-negoro, dalam perjuangan-nya melawan pemerintah Hindia Belanda, antara tahun 1825 – 1830. Kini goa tersebut menjadi salah satu obyek wisata peninggalan sejarah yang mengandung nilai – nilai luhur, utamanya berkaitan dengan program pembinaan generasi muda dan khususnya dalam rangka menciptakan dan membangun semangat patriotisme dan nasionalisme di kalangan generasi muda. Goa Selarong jauhnya 13 kilometer di sebelah Selatan kota Yogyakarta.

Hasil kebun dari masyarakat setempat adalah buah jambu biji (jambu kluthuk), yang dapat dibeli sebagai oleh – oleh, disamping itu fasilitas seperti toilet, gardu pandang sebagai sarana untuk menikmati pemandangan sekitar Goa dengan hamparan lembah yang begitu indah. Gua Kiskendo Merupakan goa alam di pegunungan Menoreh yang terletak 1.200 m di atas permukaan laut yang berhawa sejuk, dari bentuk serta keadaannya sangat serupa dengan apa yang tersirat dalam legenda Istana Goa Kiskendo (yang merupakan fragmen dari cerita Ramayana), tempat tinggal raksasa Mahesasura yang berkepala kerbau dan lembusura yang berkepala sapi. Dalam kisah pewayangan , di tempat ini terjadi pertempuran antara Subali – Sugriwa dengan raja Mahesasura dan patih Lembusura yang menghuni goa ini. Di samping itu keadaan – keadaan geologis dari goa – goa yang ada di daerah berbatu kapur (lime – stone), di dalam goa Kiskendo ini terdapat banyak stalaktit dan stalagmit yang aneh namun indah bentuknya. Di dalam goa ini mengalir sungai dibawah tanah yang dalam cerita pewayangan, dan dalam pertempuran antara Subali – Sugriwa dan Mahesasura – Lembusura, mengalirkan air berwarna merah dan putih. Gua Seropan Goa Seropan, Goa ini terletak di Kecamatan Semanu dekat jalan raya Wonosari-Rongkop, dengan ciri khas didalamnya terdapat air terjun cukup tinggi 7 m dan pemandangan alami sungai bawah tanah serta stalagmit dan stalagtit yang menakjubkan Desa Kasongan Terletak di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, berjarak sekitar 6 km dari kota Yogyakarta, Dusun Kasongan sudah terkenal sejak lama. Terdapat banyak produk kualitas ekspor yang tersedia : peralatan rumah tangga seperti piring, mangkuk dan guci. Pengunjung tidak hanya dapat berbelanja tetapi juga dapat menikmati secara langsung proses pembuatan keramik sambil bertanya jawab dengan pengrajin. Desa Wisata Pucung Pucung dikenal sebagai desa perajin patung primitive. Desa tetangga Kasongan ini sangat produktif dengan patung primitive yang terbuat dari kayu mahoni dan jati. Ide dan desain patung-patung ini bersumber dari pola dan tema tradisional dari berbagai daerah seperti Asmat, Dayak, Aborigin dan sebagainya. Tema ini kemudian dikembangkan menjadi ornament benda fungsional seprti meja sudut, tempat lilin, dan lain-lain, atau berdiri sendiri sebagai elemen estetik. Desa Wisata Tembi Tembi adalah nama sebuah desa di Selatan Yogyakarta. Nama dsa ini kemudian diadaptasikan menjadi sebuah lembaga kebudayaan Rumah Budaya Tembi (Rumah Budaya TEMBI) menempati lahan seluas 3000 m2, memiliki fasilitas-fasilitas antara lain: Pendopo, Ruang Galeri, Perpustakaan dan Ruang Baca Perpustakaan, Rumah Dokumentasi Budaya. Desa Wisata Pundong Pundong merupakan wilayah Kecamatan di Kabupaten Bantul yang memiliki sebuah Desa yang bernama Panjang Rejo. Dusun Panjang Rejo merupakan salah satu Dusun yang memiliki Potensi Industri Kerajinan Grabah dan merupakan mata pencaharian pokok masyarakat setempat dan unik, berupa Aksesoris (Vas Bunga, Asbak, Tempat pensil/lilin, dll) serta berupa mainan dan cindera mata untuk pengantin. Disamping sebagai pusat Industri Grabah dea Panjang Rejo dengan alam pedesaan karakter kehidupan masyarakat dan dilengkapi berbagai kesenian tradisional. Keberadaan Pundong, Desa Panjang Rejo sangat strategis, disebelah timur ± 1 km. jalan menuju ke Parangtritis atau ± 25 km. arah selatan Yogyakarta. Untuk mencapai Pundong Desa Panjangrejo dijangkau dengan alat angkutan umum menuju Parangtritis. Desa Wisata Krebet Terletak di Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, ± 12 km sebelah barat daya dari Yogyakarta. Terdapt ± 400 pengrajin yang bekerja di 14 Sanggar Seni dengan produk atau kerajinan utama, topeng, batik, patung kayu, patung asmat. Selain itu di dusun ini juga tersedia penginapan berbentuk khas tradisional dalam rangka menarik wisatawan untuk dating dan menginap. Setiap bulan September diadakan Upacara Ritual Bersih Dusun untuk mensyukuri hasil panen masyarakat setempat. Desa Wisata Tanjung Desa Wisata Tanjung terletak 5 km sebelah Utara Monumen Jogja Kembali (Monjali). Disana terdapat rumah Joglo di Desa Wisata Tanjung. Bangunannya yang besar serta halamannya yang luas dan Pendoponya yang dapat menampung 100-200 orang lesehan. Tiang penyangga di bagian depan bangunan tersebut terbuat dari kayu nagka yang sudah berumur ± 200 tahun, pada tiang dan dinding kayu di ruang bagian dalam terdapat relief gaya kuno. Desa Tanjung meliputi 3 (tiga) pendukuhan yaitu: Tanjung, Panasan, dan Bantarjo. Jumlah penduduknya ± 1.595 orang dan rumah penduduk ± 320 buah, dibagi dalam 6 RW dan 11 RT. Mayoritas penduduknya adalah petani. Sawah yang ada disekitarnya untuk latihan Mluku, Nggaru, Tandur, Panen, Angon Bebek dan lain-lain. Sedangkan sawah atau jurit malam dipergunakan untuk Pramuka menguji mental dan dapat menjadi muatan local / local content untuk pelajaran-pelajaran di sekolah bagi bapak dan ibu guru. Desa Wisata Ketingan Desa Wisata Ketingan merupakan habitat dari ribuan burung Kuntul dan Blekok yang saat in sudah sangat langka ditemui di Pulau Jawa. Lokasi Desa Wisata Ketingan terletak di Desa Tirtiadi, Mlati Sleman, 10 km dari Kota Yogyakarta. Desa Wisata Ketingan disamping memiliki nuansa kehidupan pedesaan yang masih kental dengan adat Jawa, juga memiliki potensi Idustri kerajinan rumah tangga berupa Industri emping Mlinjo, Industri Kerajinan Bambu dan Jamu Tradisional Jawa, sehingga sangat cocok sebagai Obyek Wisata Pendidikan. Desa Wisata Bobung Patok Hampir semua masyarakat bermata pencaharian menjadi pengrajin topeng kayu dan kerajinan batik kayu lainnya. Bobung juga sangat mudah dijangkau sarana lalu lintas yang ada, termasuk bus wisata. Wilayah ini berjarak sekitar 30 km arah timur kota Yogyakarta. Untuk menuju desa wisata initidaklah terlalu sulit, selain lokasi jalannya yang sudah beraspal juga dilalui dengan angkutan umum. Agro Wisata Salak Pondoh Merupakan kawasan seluas ± 75 ha yang oleh masyarakat setempat ditanami khusus tanaman salak pondoh. Obyek wista inidengan haw sejuk akan hidup dengan mudah khususnya buah salak pondoh, saat ini sudah terebar di seluruh Jawa. Lokasi obyek wisata ini masuk wilayah Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi,Kabupaten Sleman ± 25 km arah Utara Yogyakarta,jalan beraspal baik dapat ditempuh dengan kendaraan bus, dan mini bus. Fasilitas yang ada gardu pandang, kolam pemancingan, becak air, arena bermain anak-anak, tempat pertemuan, jalan setapak ke kebun salak dan kios penjualan salak pondoh. Agro Wisata Buah Naga Kebun agrowisata yang terletak pinggiran Pantai Glagah memiliki lahan seluas 2,2 hektar (ha) yang sudah dihijaukan buah berwarna merah (dikenal dengan nama buah naga) dan yang sedang dalam perintisan seluas 2,8 ha. Buah naga banyak disukai warga Amerika. Sebab selain rasanya yang enak juga bisa menstabilkan gula darah, serta meningkatkan stamina tubuh. Kecuali itu juga bisa untuk memulihkan kinerja saraf jantung. Pengelola kebun agrowisata bernama “Kusumo Wanadri” itu adalah Romo DR Paulus Tribrata Br M Th MM. selain untuk berkebun ternyata di lahan itu juga untuk tempat pembinaan bagi anak nakal, preman, serta pecandu narkoba. Agro Wisata Kebun Plasma Nutfah Pisang Kebun Plasma Nutfah Pisang adalah sebuah kebun berbagai macam varietas pisang yang terdapt di seluruh Indonesia maupun mancanegara. Keberadaan kebun ini dikhususkan untuk wisata pendidikan dan penelitian. Areal seluas 2,5 ha ini berlokasi di bagian selatan kota Yogyakarta tepatnya di desa Malangan. Jarak tempuh dari pusat kota kira-kira 8 km. Meskipun berlokasi di pinggiran kota, namun dapat memberikan sentuhan suasana khas dan alami sehinga menciptakan daya tarik tersendiri. Lapangan Golf Cangkringan Lapangan golf bertaraf internasional dengan 18 hole, memiliki nuansakhas berlatar belakang pamandangan gunung Merapi , terletak 23 km ke arah utara dari kota Yogyakarta, di Cangkringan , Sleman, Yogyakarta.

Belanja di Jogja Jogja sangat dikenal sebagai surganya kerajinan setelah Bali. Di Jogja Anda tidak hanya bisa membeli aneka macam kerajinan, tapi juga dapat melihat proses pembuatannya. Jogja kin sudah menjelma sebagai kota tujuan berbelanja di Jawa bagian tengah. Setiap akhir pekan atau hari libur ribuan turis domestik memadati kota Jogja untuk berbelanja selepas mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada. Kawasan utama belanja di Jogja ada di sepanjang jalan Malioboro. Berbagai macam barang dijual di sini, dari kualitas rendah sampai barang-barang berkualitas. Ratusan toko berjajar di sepanjang jalan ini, beberapa dari toko tersebut masih mempertahankan arsitektur asli mereka. Unik dan menarik! Di jalan ini juga terdapat Malioboro Mall, pusat belanja utama di Jogja Sepanjang hari di sepanjang kakilima para pedagang kakilima tak kenal lelah menawarkan dagangan mereka kepada orang yang lewat. Mulai dari pakaian, sepatu, kerajinan, dan lain-lain. Diperlukan keahlian tawar-menawar dengan mereka, agar tidak mendapat harga yang terlalu mahal. Pusat belanja kedua di Jogja adalah sepanjang Jalan Solo. Suasana di jalan ini hanpir mirip dengan Malioboro, toko-toko berjajar di kiri-kanan jalan dengan pedagang kakilima berjejalan di trotoarnya. Sebuah Mall berdiri di ujung barat Jalan Solo yaitu Galeria mall. Batik dan Perak Batik merupakan kerajinan Jawa yang sangat populer. Ada dua macam jenis Batik, batik tulis dan dan batik cetak. Batik tulis jauh lebih mahal harganya dibanding batik cetak, karena pembuatannya membutuhkan waktu dan keahlian tersendiri. Batik dapat dijumpai dalam berbagai macam rupa, mulai kemeja, celana, kebaya, dan lain-lain. Motif dan gayanya pun lain-lain, ada Jogja, Solo, Pekalongan, dan lain-lain. Ratusan penjual batik tersebar di seluruh penjuru Jogja, mulai kelas kakilima sampai kelas butik. Silakan klik DI SINI dan lihat di bagian batik untuk menemukan toko dan pengrajin batik di Jogja. Jogja juga dikenal dengan kerajinan peraknya. Ratusan pengrajin dapat Anda temukan di kota ini terutama di daerah Kotagede. Di sana Anda dapat temukan puluhan toko dan pengrajin perak yang menjual kerajinan perak. Dari mulai perhiasan, patung, hingga peralatan rumah tangga. Silakan klik DI SINI dan lihat di bagian perak untuk menemukan lokasi-lokasi toko dan pengrajin perak di Jogja. Pusat Penjualan Buku “Taman Pintar” Pusat Pelestarian Satwa Jogja Pusat Pelestarian satwa Jogjakarta (PPSJ) ini merupakan suatu Lembaga yang dirancang dalam rangka merehabilitasi satwa sebelum dikembalikan ke habitatnya. Lokasi PPSJ terletak di Desa Paingan Sendangsari Pengasih Kulonprogo, 4 km dari Kota Wates atau 25 km dari kota Yogyakarta, yang menempati area seluas 13 ha di atas perbukitan Menoreh dengan panorama yang sangat indah. Disamping sebagai pusat Rehabilitasi satwa, PPSJ juga dapat dimanfaatkan sebagai Obyek Wisata Pendidikan, meningat PPSJ inidilengkapi dengan saran pertemuan, seminar, dan fasilitas Akomodasi. Pabrik Cerutu Tarumartani Sejarah perusahaan cerutu Taru Martani dimulai tahun 1918 saat seorang produsen carutu dri Belanda mendirikan perusahaan cerutu Perseorangan di Yogyakarta. Sejak tahun 1918, Taru Martani senantiasa menciptakan formulasi campuran tembakau cerutu yang bercita rasa tinggi guna memenuhi keinginan dari pecinta cerutu sejati. Saat ini Tatu Martani memproduksi 14 jenis cerutu yang sudah dikenal di seluruh dunia, yaitu: Cigarillos, Extra Cigarillos, Senioritas, Panatella, Half Corona, Corona, Super Corona/Grand Corona, Boheme, Royal Perfecto, Rothschild, and Churchill. Taru Martani saat ini memproduksi 3 formulasi campuran caerutu yaitu: Natur Cigar (murni tembakau), Flavaour Cigar (tambakau dengan saus /aroma mint, amaretto, vanilla, rum dan hazelnut), dan mild cigar (tabakau ringan) Keunikan pembuatan cerutu taru Martani adalah Karen asemua proses pembuatannya dilakukan secara manual, dengan tangan. Oleh Karen aitu dapat dikatakan setiap batang cerutu dibuat dengan ketelitian tinggi dan menjadi hasil karya yang terpilih. Empat belas jenis cerutu produksi Taru Martani saat ini telah menjadi komoditi ekspor yang cukup menjanjikan. Pasarannnya merambah Negara Belanda, Belgia, Jerman, Cekoslovakia, Amerika, Asia, dan dalam waktu dekat Taru Martani akan melebarkan sayap ke Wisata Herbal Mahkota Dewa Paket Wisata Herbal Mahkotadewa Ny. Ning Harmanto adalah satu paket wisata yang terdiri dari Klinik, Kebun dan Kedai Herbal Mahkotadewa Ny. Ning Harmanto yang terletak di Jl. MT. Haryono 46 Yogyakarta. Klinik herbak yang melayani konsultasi dan pemeriksaan kesehatan gratis , rekomendasi pengobatan dengan obat herbal dalam bentuk teh racik, kapsul, instant, suplemen, minyak dan teredia juga kosmetik herbal. Penyakit yang ditangani: kanker, hipertensi, diabetes mellitus, asam urat, hepatitis, asma, dll. Kebun herbal. Berbagai jenis tanaman obat dalam melengkapi koleksi anda. Pemandu kami dengan senang hati siap membantu anda untuk mengenal dan mempelajari khasiat berbagai tanaman obat. Keletihan dan kepenatan anda dalam rutinitas sehari-hari akan hilang ketika beristirahat di Kedai Herbal kami.

Dalam nuansa alami siap melayani anda dengan sajian Menu Herbal dlaam bentuk jamu, antara lain tersedia jamu Sehat Pria dan Wanita, jamu pelangsing, Wedang Wedding yaitu: Rempeyek Daun dewa, Daun Tempuyung, Daun Sambung Nyowo, dsb. Taman Pintar Jogja / Jogja Science Park Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, adalah sesuatu yang seharusnya disyukuri karena menjanjikan kemudahan bagi peningkatan peradaban manusia. Akan tetapi perkembangan ilmu pengetahuan juga menyembunyikan tantangan berupa sikap manusia atas laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Program pembangunan Taman Pintar secara umum terbagi dalam perencanaan secara umum, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta perencanaan dan pelaksanaan materi isi. Perencanaan materi isi mempunyai arahan untuk dapat menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada keseluruhan kelompok sasaran. Pendekatan untuk menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan melalui berbagai media dengan tujuan meningkatkan apresiasi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara garis besar materi isi Taman Pintar terbagi menurut kelompok usia dan penekanan materi. Menurut kelompok usia terbagi atas usia tingkat pra sekolah hingga taman kanak – kanak dan sekolah dasar hingga sekolah menengah, sedangkan menurut penekanan materi diwujudkan dalam interaksi antara pengunjung dengan materi yang disampaikan melalui anjungan yang ada. Anjungan sebagai media untuk menyampaikan materi isi disusun secara menyeluruh mulai dari anjungan sebagai sarana permanainan, anjungan yang bersifat pengenalan, anjungan materi dasar eksakta hingga anjungan yang memaparkan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perencanaan anjungan materi isi disusun dengan konsep permainan dan pemaparan yang diikuti dengan penjelasan materi yang disampaikan. Konsep materi isi disusun dalam bentuk sub – sub tema sekaligus zonasi ruang untuk kemudian diwujudkan dalam bentuk anjungan – anjungan sebagai media untuk menyampaikan materi yang terkandung. Wijilan, Sentra Gudeg Jogja Menyebut gudeg Jogja, otomatis ingatan kita akan tertuju pada sebuah kampung yang terletak di sebelah timur Alun-alun Utara Kraton Jogja. Dari kampung inilah, masakan khas yang berbahan dasar ‘gori’ ini menjadi populer hingga seantero dunia. Tak heran wisatawan yang berkunjung ke Jogja rasanya kurang lengkap jika belum menyantap gudeg di tempat ini. Warung gudeg yang berderet di sebelah selatan Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan) ini memiliki sejarah panjang. Ibu Slamet adalah orang pertama yang merintis usaha warung gudeg di tahun 1942. Beberapa tahun kemudian warung gudeg di daerah itu bertambah dua, yakni Warung gudeg Campur Sari dan Warung Gudeg Ibu Djuwariah yang kemudian dikenal dengan sebutan Gudeg Yu Djum yang begitu terkenal sampai sekarang. Ketiga warung gudeg tersebut mampu bertahan hingga 40 tahun. Sayangnya, tahun 1980’an Warung Campur Sari tutup. Baru 13 tahun kemudian muncul satu lagi warung gudeg dengan label Gudeg Ibu Lies. Dan sampai sekarang, warung gudeg yang berjajar di sepanjang jalan Wijilan ini tak kurang dari sepuluh buah. Gudeg Wijilan memang bercita rasa khas, berbeda dengan gudeg pada umumnya. Gudegnya kering dengan rasa manis. Cara memasaknya pun berbeda, buah nangka muda (gori) direbus di atas tunggu sekitar 100 derajat celcius selama 24 jam untuk menguapkan kuahnya. Sebagai lauk pelengkap, daging ayam kampung dan telur bebek dipindang yang kemudian direbus. Sedangkan rasa pedas merupakan paduan sayur tempe dan sambal krecek. Ketahanan gudeg Wijilan ini memang cocok sebagai oleh-oleh, karena merupakan gudeg kering, maka tidak mudah basi dan mampu bertahan hingga 3 hari. Tak heran jika gudeg dari Wijilan ini sudah “terbang” ke berpabagi pelosok tanah air, bahkan dunia. Harganya pun variatif, mulai dari Rp 20.000,- sampai Rp 100.000,-, tergantung lauk yang dipilih dan jenis kemasannya. Bahkan ada yang menawarkan paket hemat Rp 5.000, dengan lauk tahu, tempe, dan telur. Seperti kemasan gudeg-gudeg di tempat lain, oleh-oleh khas Jogja ini dapat dikemas menarik dengan menggunakan ‘besek’ (tempat dari anyaman bambu) atau menggunakan ‘kendil’ (guci dari tanah liat yang dibakar). Yang lebih unik, beberapa penjual gudeg Wijilan ini dengan senang hati akan memperlihatkan proses pembuatan gudegnya jika pengunjung menghendaki. Bahkan, di warung Gudeg Yu Djum menawarkan paket wisata memasak gudeg kering bagi Anda yang ingin memasak sendiri. Anda akan mendapat arahan langsung dari Yu Djum. Seharian penuh Anda akan belajar membuat gudeg, dari mulai merajang ‘gori’, meracik bumbu, membuat telur pindang, sampai mengeringkan kuah gudeg di atas api. Melengkapi sajian nasi gudeg Wijilan akan lebih pas disertai minuman the poci gula batu. Dijamin Anda akan ketagihan. Kedai-kedai Makan Nostalgia Konsep rumah makan bagi kalangan berduit identik dengan suasana modern. Tetapi konvensi seperti itu tidak berlaku bagi beberapa warung makan ‘kelas kaki lima’ di Jogja. Meski konsep berdagang mereka sangat tradisional, toh mereka yang berkantong tebal pun rela mengantri berlama-lamauntuk mendapatkan sepiring makanan yang dipesan. Warung sederhana dengan tempat dan pernagkat yang sederhana, namun cita rasanya tak akan mudah dilupakan. Beberapa warung sederhana yang biasa dijadikan tempat ‘rekreasi’ kaum borjuis ini antara lain: – Soto Sulung Stasiun Tugu berlokasi di ruko parkir selatan Stasiun Tugu – Soto Cak Noer berlokasi di daerah Jalan Cebongan – Es Teller Kridosono berlokasi di utara Sport Hall Kridosono Walaupun modernisasi sudah menjelajahi hamper seluruh sendi kehidupan, namun warung-warung tersebut tak pernah ditinggalkan penggemarnya. Konsep marketing mereka hanya mengandalkan ‘mulut’ pelanggan yang pernah merasakan kelezatan hidangan yang pernah menikmati masakan mereka. Fanatisme itu sangat dirasakan oleh Maryono, pemilik Soto Sulung Tugu. “Mencengangkan”, katanya, ada pelanggan yang sejak dari mahasiswa sampai jadi pejabat tinggi negara masih suka ‘nongkrong’ di warungnya yang bisa dikatakan tidak mengalami perubahan sejak dulu. “Apabila bulan Juni-Juli, masa liburan sekolah, bekas mahasiswa yang dulu suka nongkrong di sini masih sering bernostalgia. Yang paling sering ya Pak Mahfud MD (mantan Menhankam), dan Pak Hasbalah ( mantan Men HAM)”, cerita Maryono. Hal serupa juga dituturkan Cak Noer, pemilik Soto Cak Noer. Kebanyakan pelanggan lama sejak masih sekolah SMA dan semasa kuliah saat masih memulai usaha dengan mendorong gerobag soto di daerah Poncowinatan di tahun 1982’an. “ Sampai sekarang, meski warung sudah pindah berkali-kali, pelanggan saya tetap mencari dan menjadi pelanggan tetap di sini”, jelas Cak Noer. Sedangkan Es Teller Kridosono begitu melekat bagi lulusan mahasiswa UGM dan SMA Negeri 3 Jogja. “Saat mereka liburan ke Jogja, pasti mereka menyempatkan mampir, meski sekarang sudah menjadi pejabat negara. Bahkan mereka kadang membawa seluruh anggota keluarga mereka. Di sinilah mereka bercerita saat mereka melewatkan masa-masa kuliah atau sekolah di Jogja”, jelas Winuranto Adi pemilik Es Teller Kridosono. Kedai Nostalgia, bisa jadi sebutan yang pas. Walaupun ada sedikit inovasi, itu jelas dilakukan sebagai penambah kenikmatan. Namun, citarasa dan suasana tradisional tak bisa direkayasa. Jika Anda datang ke Jogja sempatkanlah mampir di tempat-tempat makan ini, siapa tahu bisa menjadi Kedai Nostalgia Anda juga. (Jo) Beberapa tempat makan tradisional lain yang direkomendasikan: – Soto Sapi Pak Soleh, berlokasi di Jl. HOS Cokroaminoto – Gudeg Permata, berlokasi di sebelah barat Bioskop Permata – Bakmi Bu Ning, berlokasi di sebelah barat jembatan Taman Sari – Bakmi Kadin, berlokasi di barat Gereja Bintaran Tips Berbelanja 1. Berhati-hatilah dengan orang-orang yang keliatan sok dekat dan memaksa menjadi pemandu wisata Anda meskipun tidak diminta. Mereka akan membujuk Anda untuk pergi ke toko-toko tertentu dengan mengatakan keburukan toko-toko yang lain. Mereka melakukan ini untuk mendapatkan komisi dari toko tersebut. 2. Berhati-hatilah dengan Becak seribu’an. Pengemudi beck akan menawari Anda dengan 1000 rupiah bisa berkeliling Malioboro. Kenyataanya, mereka hanya akan membawa Anda ke toko-toko tertentu untuk membeli barang-barang tertentu yang kadang tidak Anda butuhkan. 3. Jika Anda mencoba menawar barang di kaki lima, mulailah dengan penawaran separo harga. 4. Sebelum memutuskan membeli sesuatu dari sebuah toko (penjual), cobalah untuk membandingkan harga di tempat lainnya. 5. Berhati-hatilah selama berjalan-jalan di Malioboro, kadang-kadang ada banyak pencuri dan copet disana. Berburu Souvenir Khas Jogja Sampai ke Tempat Asal Ke Jogja, pulang bawa souvenir itu pasti. Batik, perak Kotagede dan gerabah Kasongan merupakan icon. Satu lagi, kaos oblong Dagadu tentunya. Namun, souvenir khas Jogja bukan Cuma itu, di berbagai daerah bermunculan sentra industri kerajinan dengan desain yang unik. Di desa Palgading (ke arah Kaliurang), Ngaglik, Sleman merupakan sentra pengrajin tas handmade. Bahkan produk tas dari daerah ini menjadi langganan tetap bagi importer manca negara. Selain tas dari bahan kulit, pengrajin desa Palgading ini juga memanfaatkan bahan dasar alamiah seperti mendong. Pelepah pisang, enceng gondok, bahkan kertas koran dan kertas semen. Kerapian dan kekuatan merupakan keunggulan dari tas produksi Palgading. Di daerah Sumber Agung, Moyudan, Sleman terdapat sentra pembuatan perabot rumah tangga dari bambu. Dari kotak sampah, tempat tisu sampai tempat aksesoris dibuat dengan bentuk yang unik dan menarik. Bahkan produknya sudah diekspor sampai ke negara-negara Eropa. Di tempat ini, wisatawan dapat memesan perabotan sesuai dengan keinginan. Desa Wisata Gendeng (sebelah selatan Jogja) merupakan sentra perajin Wayang Kulit. Paling tidak saat ini terdapat 10 orang perajin. Terbuat dari kulit Kambing dan Kerbau pilihan, pembuatan wayang ternyata sangatlah rumit. Selain untuk hiasan dinding, ternyata kerajinan Wayang Kulit ini juga bisa diperuntukkan buat kap lampu, kipas, souvenir perkawinan, gantungan kunci bahkan pembatas buku. Di Jogja, tak ada lagi yang identik dengan perak selain Kotagede. Selain toko-toko yang berjejer di pinggir jalan, di lorong-lorong kecil terdapat banyak perajin rumahan. Setiap toko memiliki dapur-dapur perak dimana wisatawan bisa melihat secara langsung proses pembuatannya. Proses dari bentuk lempengan-lempengan putih hingga menjadi perhiasan seperti kalung, anting, cincin atau perabot lainnya seperti sendok, tempat garam, miniatur kendaraan sampai miniatur candi. Bahkan disini terdapat museum perak, tepatnya di Jl. Kemasan, Kotagede, dimana wisatawan dapat mengetahui secara detail sejarah dan perkembangannya sampai saat ini. Kasongan identik dengan gerabah.

Produk gerabah Kasongan sangat unik dan kuat. Motif desain dan warganya memiliki ciri tersendiri, percampuran dari berbagai unsur etnik nusantara. Kekuatan gerabah Kasongan ini sudah diakui, karena melalui proses 2 kali pembakaran. Bagi anak-anak muda, nama Dagadu sudah bagitu melekat. Kaos oblong yang memiliki desain unik dengan kata-kata menggelitik, sepertinya sudah menjadi souvenir wajib bagi anak-anak muda. Namun jangan salah, ‘Dagadu Aseli’ hanya bisa diperoleh di dua outlet yang terletak di daerah Pakuningratan dan Basement Mal Malioboro. Selebihnya? Karena saking baik hatinya ‘pemilik merek’ kaos Dagadu ini bebas ditiru dan dipasarkan. Daerah-daerah tersebut baru merupakan contoh kecil, karena masih banyak lagi sentra-sentra pambuatan cendera mata khas Jogja yang tersebar nyaris merata di seluruh wilayah. Gak percaya? Buktikan saja.*(Jo / dari berbagai sumber) —————————————- nDalem Joyokusuman Jogja Sebuah bangunan kuno milik keluarga Kraton Ngayogjakarta, persisnya di Jl. Rotowijayan 5 ini memang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang sengaja lewat atau mampir di rumah peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono VII ini. Bangunan kuno gaya aristocrat itu kini disulap menjadi sebuah Boutigue Restautant nDalem Joyokusuman. Ditempat ini, setelah melewati pendopo, wisatawan dapat menikmati satu demi satu ruangan yang dulu pernah dipakai Ngarso Dalem Hangmengkubuwono IX beserta keluarganya. Ada tenpat tidur, busana klangenan Sultan Jogja, dan pringgitan serta senthong yang banyak digunakan untuk ruang santai keluarga kraton dan putra-putrinya. Saat in tempat ini terbuka untuk umum. Memang ada aturan tertentu yang diterapkan di nDalem Joyokusuman ini yang harus dipatuhi para wisatawan, seperti harus ijin untuk memotret gambar-gambar koleksi kraton Jogja yang termasyur ini. Bagi pengunjung yang akan masuk ke nDalem Joyokusuman ini hanya ditarik ongkos sangat murah, Rp. 4000. Sedang turis asing dikenai biaya $1 Amerika. Menurut BRAY Hj Joyokusumo, -pemilik Boutigue Restaurant nDalem Joyokusuman, saat ditemui Exploring Jogja mengaku tempat ini selalu penuh oleh tamu khususnya wisatawan asing. “Hampir 99% tamu yang mampir ke sini turis asing, selebihnya tamu lokal,” ungkap BRAY Joyokusumo. Sebagai Boutigue Restaurant, pengunjung dapat memesan berbagai ragam makanan dan minuman. Yang menarik, makanan dan minuman yang dijual disini semuanya makanan klangenan Raja Jogja seperti kupat opor, pastel krupuk, sambel goreng kreni, telor gurih, lodheh telo, bubuk dele, rujak penganten dan sebagainya. Sedang minuman yang disediakan meliputi secang, pisang ijo, perdopo, telo liwet, sambel mijen, stup jambu dan banyak lagi. “Makanan dan minuman yang kami sajikan di sini termasuk langka karena hanya keluarga kraton yang bikin,” ungkap BRAY Joyokusumo. Masih di lingkungan nDalem Joyokusuman, sisi timur bangunan ada Joy teh dan roti yang menjual aneka roti dan tempat minum teh sambil bersantai. Tempat ini bisa jadi alternatif saat santai, romantis di malam hari karena cahaya lampu yang berkilau. Bagi anda yang belum pernah mengunjungi nDalem Joyokusuman, tentu akan penasaran. Sebagai daya tarik wisata, rumah kraton ini memang layak dikunjungi sembari menikmati makanan dan minuman ala kraton Jogja.*(nur) ————————— Kampung Turis Prawirotaman Yogyakarta Banyak masyarakat menyebutnya sebagai “kampung turis”. Sebuah kawasan wisata yang tidak pernah sepi. Kawasan ini memang memiliki keunikan tersendiri. Selain dilengkapi sarana hotel dari kelas melati maupun bintang, kawasan wisata ini juga menyediakan banyak cindera mata khas Jogja. Kampung Prawirotaman sendiri lokasinya mudah dicapai, karena berjarak sekitar 5 kilometer arah selatan Jogja. Banyak turis asing maupun domestik yang menyenangi kawasan ini karena berbagai kemudahan fasilitas yang ditawarkan. Seperti hotel maupun penginapan serta café-café yang jumlahnya mencapai puluhan. Sementara harga berbagai cindera mata juga tergolong miring seperti handicraft dan batik yang mudah didapat di sekitar Prawirotaman. Pada musim liburan, kawasan ini selalu ramai oleh pengunjung, baik dari Jogjakarta maupun kota lain di luar kota Jogja, sementara untuk turis asing bulan Juli-Agustus selalu ramai, karena pada bulan-bulan itu musim turis asing banyak datang ke Jogja. Sederet hotel bintang maupun melati bisa dengan mudah didapat di sini, seperti Hotel Matahari, Hotel Erlangga, Hotel Duta, sedang cafenya mulai dari Café Janur, Laba-laba Café, De Javo. Kenaikan harga bahan bakar minyak dan peristiwa bom Bali beberapa waktu lalu tampaknya cukup memukul para pengelola restoran dan penginapan di kawasan ini. Hingga jumlah tamu yang menginap menurun drastis. “Bayangkan mas, sebelum peristiwa kenaikan bahan bakar minyak dan peristiwa bom Bali, jumlah tamu yang menginap cukup lumayan, tapi kini menurun sangat drastis, untuk menutup operasional saja kami sangat kesulitan,” tandas Joko Pilantoro, pemilik Duta Guest House ketika ditemui Exploring Jogja. Meski wisatawan yang mengunjungi Prawirotaman saat in imengalami penurunan, tapi banyak pihak masih optimis kawasan “kampung turis” Prawirotaman ini akan pulih kembali seperti beberapa waktu lalu.*(Nur) —————————————————– Plengkung Wijilan, Simbol Pemuda Pemberani Tahun 1785, pada saat Sri Sultan Hamengku Buwono II bertahta di Kraton Ngayogjakarta Hadiningrat, dibangunlah sebuah tembok terbuat dari batu bata sepanjang 5 km sebagai benteng pertahanan dari serangan Belanda. Tembok yang mengelilingi kraton Tahun 1785, pada sat Sri Sultan Hamengkubuwono II bertahta di Kraton ngayogjakarta Hadiningrat, dibangunlah sebuah tembok terbuat dari batu bata sepanjang 5 km sebagai benteng pertahanan dari serangan Belanda. Tembok yang mengelilingi kraton ini kemudian biasa disebut benteng, dan memiliki 5 buah pintu gerbang yang menghubungkan dunia di dalam kraton (njeron beteng) dengan dunia luar kraton. Karena bentuk pintu gerbang yang melengkung itulah orang-orang menyebutnya ‘plengkung’. Saat ini, hanya Plengkung Wijilan dan Plengkung Gading yang masih tampak utuh. Sedang 3 plengkung yang lain telah runtuh. Plengkung Wijilan sebenarnya menyandang nama resmi sebagai Plengkung Tarunasura, yang memiliki makna filosofi “Pemuda Pemberani”. Sedangkan masyarakat sekitar menyebutnya dengan Plengkung Wijilan”, karena tempat ini merupakan pintu masuk dank e luar ke kompleks kraton, atau orang Jawa menyebutnya ‘wijil’. Namun, kenapa kemudian wilayah ‘njeron beteng’ yang termasuk Kecamatan Kraton ini kemudian menjadi sentra gudheg Jogja? Bisa jadi, di sini merupakan pusat dari pemasok makanan untuk prajurit-prajurit muda Kraton Ngayogjakarta yang gagah berani, siap menghadapi serbuan tentara Belanda Mungkin* (Jo) ————————————– Gak Mau Susah? Cari saja di Malioboro Malioboro merupakan Jogja kecil. Pasar tradisional, pedagang kaki lima sampai pusat perbelanjaan modern ada di sana. Lagi pula, Malioboro merupakan tempat persinggahan tetap bagi wisatawan yang datang ke Jogja. Ribuan pedagang kaki lima dan pertokoan menawarkan pilihan souvenir untuk oleh-oleh sahabat, teman atau orang di rumah. Di Malioboro, souvenir barang yang dijual bisa didapat dengan harga yang sangat murah. Sementara, pertokoannya menawarkan beragam motif pakaian dan kain batik dengan desain eksklusif serta gift soft yang unik. Semuanya ada di sini, mulai yang berkelas sampai ke murah meriah.

Masih di ujung penggal Jl. Malioboro terdapat pasar Beringharjo yang masih ‘tradisional’ sebagai pasar terbesar di Jogja. Sebagai pusat ‘one stop shopping’nya Jogja, pedagang Beringharjo menawarkan bumbu dapur sampai barang-barang berteknologi tinggi. Di tempat ini pula lah, wistawan bisa mendapatkan souvenir seperti yang dijajakan pedagang Malioboro dengan harga sedikit lebih ‘miring’. Oleh-oleh khas Jogja sering kali tak terlupakan untuk dipesan adalah bakpia. Camilan yang terbuat dari kacang hikau yang dibalut kulit tepung ini sudah pula menjadi oleh-oleh wajib. Bakpia Pathok adalah trade mark, karena jenis makanan ini berasal dari daerah Pathok (barat Malioboro, -Red). Selain menjual Bakpia, toko oleh-oleh yang berjajar sepanjang jalan utama daerah Pathok ini juga menjajakan makanan kecil khas Jogja seperti geplak, yangko, serta camilan khas Jawa Tengah seperti kripik paru, gethuk trio, kripik jamur dan wajik. Pusat jajanan seperti ini juga banyak dijumpai di sepanjang Jl. Mataram, yang letaknya di sebelah timur Malioboro. Nah, bagi wisatawan yang hanya memiliki sedikit waktu ketika berkunjung ke Jogja, tempat-tempat ini bisa jadi alternatif untuk dapat belanja lengkap.*(Jo) ————————————– BOKO TRACKING : Saat Senja Tenggelam Di Kaki Langit Jogja Menanti saat matahari terbit dari atas perbukitan sambil menikmati secangkir kopi hangat, ditingkahi alunan kicau burung dari sela-sela rimbunnya pepohonan terasa begitu romantis. Aroma kehidupan pedesaan yang alami terasa begitu kental, menghadirkan kembali kenangan masa lalu yang jauh dari carut-marut problema kehidupan metropolis. Hari menjelang pagi, pukul tiga dini hari. Hawa dingin masih terasa pekat menyelimuti. Beberapa orang berjalan berbekal tongkat dan lampu senter, menyusuri jalan setapak menuju puncak bukit. Di jalan sempit berliku yang menbelah perbukitan, di antara semak belukar mereka berbaris satu-satu, tak surut langkah untuk dapat menikmati pertunjukkan alam yang fenomenal. Menyongsong semburat jingga sinarnya sang surya yang segera bangkit dari pelaminan. Fenomena alam yang luar biasa. Dari kegelapan yang begitu hening, penuh misteri dengan ilustrasi musik alam, muncul perlahan garis-garis langit dari kisi-kisi dibalik Gunung Lawu yang terlihat kokoh dan seram. Kilauan warna-warni berkejaran, menerpa hamparan sawah bagaikan gelaran permadani sutera. Paket Tracking dan Camping dengan suguhan utama kehidupan masyarakat desa yang masih murni, serta nikmatnya sajian pemandangan saat matahari terbit dan tenggelam menjadi tawaran utama paket Wisata Minat Khusus di kawasan Candi Ratu Boko ini. Kawasan Taman Wisata Ratu Boko yang terletak di atas Bukit Boko, memiliki ketinggian 195m dpl sampai 250m dpl ini memang terasa ideal. Dengan medan yang tidak begitu berat, wisatawan diberi suguhan yang penuh pesona. Dari atas lokasi wisata seluas 25 hektar, yang sebenarnya merupakan situs purbakala Candi Ratu Boko di Ds. Dawung, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, wisatawan diajak untuk santai sejenak, melupakan aktivitas keseharian khas kehidupan orang-orang kota yang penuh dengan problema. Di Plasa Andrawina, wisatawan dapat menikmati panorama kota Jogja berkatar belakang Gunung Merapi yang tampil kokoh dengan kepulan asapnya yang memutih. Candi Prambanan tampak begitu jelas di sisi utara, sedang perbukitan Seribu membentengi sisi selatan. Di Bukit Tugel yang merupakan pos terakhir untuk menikmati Matahari terbit terhampar ngarai kota Klaten di sisi timur dengan latar belakang Gunung Lawu yang nampak seram ketika sang surya mulai menggeliata di saat pagi menjelang. Menurut Sriyanto SE, Kepala Unit Taman Wisata Ratu Boko, Paket Wisata Tracking dan Camping ini awalnya merupakan pengembangan dari area Camping yang terletak di Randu Gunting. Karenan kondisinya kemudian dipandang tidak lagi memadai, sebagian lokasi kemudian dipindahkan ke Boko. “Biasanya, setelah Camping, mereka melakukan ‘jelajah alam’, jalan-jalan. Kegiatan itulah yang menginspirasi kita untuk membuat Paket Tracking, seperti yang terlebih dahulu ada di kawasan wisata Gunung Merapi. Kemudian kita bekerja sama dengan Bp. Cristian Awuy (tokoh pariwisata Jogja, -Red) melakukan survey untuk membuat area tracking yang bisa menarik minat wisatawan. Ternyata di sini alamnya bagus, karena bisa menikmati matahari terbitdan tenggelam. Setelah sarana-prasarana dipandang memadai, kita melaunching paket ini sekitar bulan Maret 2003, yang secara resmi menjadi paket wisata di Taman Wisata Ratu Boko ini,” jelas Sriyanto. Menurut Wihrjanto, Staf Operasional Taman Wisata Ratu Boko, selain menikmati saat matahari terbit dan tenggelam, sebenarnya Paket Tracking ini memiliki nilai lebih. Ketika menyusuri jalan-jalan setapak, seringkali dijumpai binatang-binatang langka yang jarang ditemui di perkotaan. Kemudian suara-suara burung dan hewan-hewan liar penghuni hutan sekitar, seakan-akan membawa wisatawan ke alam kehidupan desa jaman dulu. “Dalam melakukan tracking tidak melewati jalan aspal, tetapi jalan setapak yang masih dirimbuni semak belukar di kanan-kirinya. Kemudian wisatawan kita ajak untuk melihat aktivitas sehari-hari penduduk selitar yang masih tradisional dan khas pedesaan, rumah-rumah yang juga masih tradisional,” lanjut Wiharjanto. Sore itu jam 17.30 wib. Tampak beberapa turis asing asyik menikmati secangkir kopi hangat di Plasa Andrawina. Semburat warna kemerahan mulai menerpa. Sesekali telunjuk mereka menuding ke barat, dengan raut muka kekaguman. Saat sang surya mulai berangkat ke peraduan malam. Saying saat-saat seperti itu berlalu hanya sesaat. Hanya dalam hitungan detik. Namun begitu , kesannya begitu mendalam terbawa mimpi saat terlelap dalam dekapan malam.*(Jo) ibnu suripno: jadi, antara gejayan dan jakal itu ada uny ibnu suripno: sebelahnya ugm ibnu suripno: yo tinggal diubengi wae ibnu suripno: kalo jalan solo ya jalan utama kalo kamu masuk jogja pake jalur darat (bus ato mobil) ibnu suripno: yen di kamu yo paribasan fatmawatine ibnu suripno: nha gejayan dan jakal itu yang memotong jalan solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s