Agroforrestry Indonesia

TINJAUAN PUSTAKA

Kartasubrata (2003) menyatakan bahwa istilah perhutanan sosial pertama kali digunakan oleh Wastoby pada tahun 1968 pada Konggres Kehutanan negara-negara persemakmuran yang diselenggarakan di New Delhi, India. Wastoby mendifinisikan perhutanan sosial sebagai ilmu kehutanan yang bertujuan pada produk untuk pemenuhan produksi dan manfaat rekreasi bagi masyarakat.

Definisi FAO (1978) yang menyatakan bahwa perhutanan sosial adalah suatu keadaan dimana masyarakat lokal dilibatkan secara intensif dalam kegiatan pengelolaan hutan.

Tiwari (1983) dimana ia menyatakan bahwa perhutanan sosial adalah ilmu dan seni penanaman pohon dan atau tumbuhan lain pada lahan yang dimungkinkan untuk tujuan tertentu, didalam maupun di luar kawasan hutan, dan mengelolanya secara intensif dengan melibatkan masyarakat dan pengelolaan ini terintegrasi dengan kegiatan lain, yang mengakibatkan terjadinya keseimbangan dan saling mengisi penggunaan lahan dengan maksud untuk menyediakan barang dan jasa secara luas baik kepada individu penggarap maupun masyarakat. Kekurang akuratan yang dikemukakan dalam konsep ini adalah bahwa darimana titik tolak perhutanan sosial akan dimulai, dan masyarakat mana yang menjadi aktor utama dalam perhutanan sosial tidak dijelaskan.

Noronha dan Spears pada tahun 1988. Meskipun demikian, ada sesuatu yang baru dalam konsep yang mereka tawarkan, yaitu pentingnya kata arti kata “sosial” dalam perhutanan sosial dan perbedaan perhutanan sosial dengan pengelolaan hutan yang komersiil. Noronha dan Spears (1988) menyatakan bahwa arti perhutanan sosial tidak dapat dikumpulkan dari suatu gambaran berbagai kegiatan yang dilakukan di bawah program-program. Inti baru dari program-program ini terletak pada kata “sosial”- yaitu program-program melayani kebutuhan lokal melalui keterlibatan aktif pemanfaat dalam rancangan dan pelaksanaan upaya penghutanan kembali dan bersama-sama memanfaatkan hasil-hasil hutan. Hal ini dapat diartikan bahwa keberhasilan sebuah program perhutanan sosial tergantung pada respon masyarakat yang hidup di sekitar kawasan program. Lebih lanjut dinyatakan pula bahwa tujuan perhutanan sosial berbeda dari rencana kehutanan yang biasa (dan komersial) dalam 3 (tiga) hal, yaitu (1) Perhutanan sosial meliputi produksi dan penggunaan hasil-hasil hutan dalam satu sektor perekonomian, terutama yang tidak diedarkan sebagai uang (non-monetized); (2) Perhutanan sosial menyangkut partipasi langsung pemanfaat; (3) Termasuk sikap dan ketrampilan yang berbeda dari segi ahli kehutanan yang harus memberikan peranannya sebagai pelindung hutan terhadap penduduk dan bekerja bersama penduduk untuk menanam pohon.

Dalam hubungannya dengan peubah-peubah sosiologi yang harus diperhatikan, (Cernea, 1988) menyatakan ada 4 peubah, yaitu:

(1)   Sistem penguasaan lahan

(2)   Sistem hak (bagi) hasil

(3)   Sistem kekuasaan lokal dan wewenang

(4)   Struktur sosial.

Sedangkan Noroha dan Spears (1998) menyatakan bahwa peubah-peubah sosiologi yang harus diperhatikan dalam perhutanan sosial adalah:

(1)   Lahan;

(2)   penduduk;

(3)   Tenaga Kerja; dan

(4)   kelompok sosial.

Sebuah konsep perhutanan sosial yang lengkap adalah hasil seminar internasional yang bertema “Social Forestry and Sustainable Development” di Yogyakarta tahun 1994. Ada beberapa pengertian yang disepakati tentang perhutanan sosial pada seminar tersebut, yaitu: (1) Perhutanan sosial adalah nama kolektif untuk strategi-strategi pengelolaan hutan yang memberikan perhatian khusus kepada pemerataan distribusi produksi hasil hutan dalam kaitannya dengan kebutuhan berbagai kelompok dalam masyarakat dan partisipatif aktif dari organisasi dan penduduk lokal di dalam pengelolaan sumberdaya hutan  dan biomasa kayu; (2) Perhutanan sosial dapat diartikan sebagai suatu strategi pembangunan atau intervensi rimbawan profesional dan organisasi pembangunan lainnya dengan tujuan untuk menstimulasi keterlibatan aktif penduduk lokal dalam berbagai macam kegiatan pengelolaan hutan skala kecil, sebagai suatu tujuan antara untuk meningkatkan keadaan kehidupan masyarakat tersebut; (3) Perhutanan sosial adalah suatu strategi yang difokuskan pada pemecahan masalah penduduk lokal disamping mengelola lingkungan wilayah. Oleh karena itu hasil utama dari perhutanan sosial tidak hanya kayu, namun hutan dapat diarahkan untuk memproduksi beragam komoditas sesuai dengan kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut, termasuk kayu bakar, bahan makanan, pakan ternak, buah-buahan, air, hewan, alam, keindahan, perburuan dan sebagainya; (4) Perhutanan sosial secara mendasar ditujukan kepada peningkatan produktivitas, pemerataan dan kelestarian dalam pembangunan sumberdaya hutan dan sumberdaya alam melalui partisipasi aktif masyarakat. Paradigma perhutanan sosial memiliki nilai-nilai esensial dalam pembangunan kehutanan, yaitu memposisikan rakyat/ masyarakat yang utama dalam pengelolaan, partisipasi dalam pengambilan keputusan dan pemerataan sosial dan pentingnya peranan sistem asli masyarakat serta mempertahankan biodiversitas (Awang, 2000).

Bagaimana peubah lahan untuk konteks Indonesia, perlukah diperhatikan? Jawabnya adalah “ya”. Mengapa? Salah satunya adalah karena adanya perbedaan antara Indonesia dengan Negara lain dalam hal strategi/ politik agrarianya. Hingga saat ini, undang-undang mengenai lahan yang berlaku di Indonesia adalah Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) nomer 5 tahun 1960. Rahardjo (1999) menyatakan bahwa salah satu pertimbangan ditetapkannya UUPA tersebut adalah untuk meniadakan dualisme hukum adat dan hukum nasional. Sebagaimana diketahui, masalah perbenturan yang bersumber pada adanya dualisme ini telah terjadi sejak jaman kolonial.

Halim (2000) menyatakan bahwa tanah-tanah yang telah dikuasai negara ini kemudian dijual kepada pengusaha Belanda secara sewa (erfpach) dengan masa konsesi 75 tahun dan dapat diwariskan atau diperjualbelikan. Ada juga sebagian dari tanah yang dikuasai ini yang kemudian dijual kepada pribumi, tetapi pribumi Timur Asing, seperti India, Cina dan Arab. Melalui UUPA pemerintah pada masa itu berusaha kembali untuk mendistribusikan tanah-tanah tersebut kepada rakyat, seperti tertuang dalam pidato Presiden Soekarno berjudul “JAREK (Jalannya Revolusi Kita)”, dimana ditegaskan bahwa revolusi Indonesia tidak akan berarti tanpa adanya reformasi Agraria.

Diah Y. Raharjo 1 dan Ujjwal Pradhan 2 Pengelolaan Sumberdaya Hutan Berbasis Masyarakat (PSHBM) merupakan salah satu alternatif atau pilihan dalam pengelolaan sumberdaya hutan yang saat ini sedang mengalami keterpurukan, sebagai akibat akumulasi dari kesalahan kesalahan pengurusan dimasa lalu. Kesalahan dari pengelolaan dimasa lalu pada intinya adalah pada pengurusan yang sektoral dan sentralistik dan tidak patuh pada prinsip pengelolaan berkelanjutan yang secara jelas menekankan pada aspek ekonomi, ekologi dan equity (keadilan). Ketidakpatuhan tersebut juga memperlihatkan pada pengurusan yang mangkir terhadap amanah Undang Undang Dasar 1945 pasal 33 yang memandatkan bahwa hutan sebagai sumberdaya alam harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pilihan pada sistem PSHBM yang akan memberikan alternatif ataupun mengganti sistem yang selama ini digunakan, bukanlah hal yang mudah dan dapat dipahami secara keseluruhan, baik oleh Pemerintah, Praktisi maupun oleh Masyarakat itu sendiri. Bagi kepentingan dan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan dan berkeadilan, prasyarat utama yang tidak bisa ditawar lagi apalagi diperdebatkan adalah pilihan terhadap sistem pengelolaan yang dapat memenuhi aspek ekonomi, ekologi dan equity (triple “e”). Bangkitnya pilihan baru dalam pembangunan kehutanan juga adalah disebabkan oleh pengelolaan yang dilakukan oleh Pemerintah, tidak cukup mampu memenuhi prasyarat utama tersebut, yang dibuktikan dengan adalanya de-forestrasi dan degradasi lingkungan serta dengan semakin banyaknya jumlah masyarakat miskin yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Model pengelolaan yang ada tidak mampu memperlihatkan keseimbangan triple “e” tersebut . Sehingga pertanyaan kritis pada konsep maupun praktik PSHBM adalah apakah “berbasis masyarakat” dapat memberikan jaminan bahwa triple “e” dapat dipenuhi oleh PSHBM?. Apapun argumentasinya (secara tradisionil maupun ilmiah), praktik-praktik PSHBM harus dapat menjawab pertanyaan kritis tersebut dengan memperlihatkan dan membuktikanya di lapangan.

Campbell (1997), mempunyai pemikiran lain yaitu berbasis masyarakat adalah lebih pada proses perubahan sikap dan orientasi, mekanisme institusional dan administratif dan metoda manajemen dari pengelolaan sumberdaya hutan. Tahapan yang diusulkan adalah 20 (dua puluh) langkah pergeseran yang diperlukan dalam mewujudkan pengelolaan sumberdaya hutan berbasis masyarakat (kehutanan masyarakat)

Dalam Undang-undang 41 Tahun 1999, tentang Kehutanan, telah mengatur bentuk-bentuk atau akses pengelolaan oleh masyarakat seperti Hutan Desa (HD = hutan yang dikelola oleh desa, untuk kemandirian ekonomi desa); Hutan Adat (HA= Hutan Negara yang dikelola oleh Masyarakat Hukum Adat. Definisi ini masih menjadi perdebatan); Hutan Kemasyarakatan (HKM = Hutan Negara yang dikelola oleh kelompok masyarakat, dimana kawasannya telah dibebaskan dari ijin pemanfaatan pihak ke tiga); Hutan Hak (Hhak = belum jelas definisinya, namun dapat berada di KBK dan KBNK); Hutan Rakyat (Hutan yang milik rakyat dan berada di luar kawasan hutan negara), Hutan dengan Tujuan Khusus (KDTK).

Wiersum (1987: 136) memberikan tiga strategi umum social forestry, yaitu (a) community or communal forestry, yaitu hutan yang dikelola oleh masyarakat secara kolektif, dapat dilaksanakan pada lahan komunal, lahan milik perorangan, maupun lahan negara; (b) farm forestry, yaitu hutan yang dikelola oleh individu atau perorangan, dapat dilaksanakan pada lahan yang dikuasai oleh masyarakat secara kolektif, lahan milik perorangan maupun milik negara; dan (c) public managed forestry for local community development, yaitu hutan yang dikelola oleh negara untuk pembangunan masyrakat lokal yang dapat dilaksanakan pada lahan komunal, lahan milik perorangan maupun lahan negara. Dalam contoh (c) ini di Indonesia.

Prof. Dr. Ir. Syekhfani MS menyatakan bahwa masih terdapat kendala yang menghambat perkembangan sistem pertanian organik, antara lain kebiasaan petani yang masih pupuk/pestisida minded, belum ada jaminan pasar/harga khusus untuk produk, kebiasaan masyarakat yang belum mengkonsumsi produk organik, pengelolaan ladang secara intensif yang umumnya masih tercemar limbah/pestisida/pupuk, dan penetapan arah paradigma pertanian masa depan yang belum jelas, yang sangat ditentukan political will dari pemerintah. Oleh karena itu, dosen sebagai pengemban Tridharma Perguruan Tinggi, perlu ikut serta dalam pengkajian prospek pengembangan pertanian organik di Indonesia, baik di bidang teknologi, sosial, maupun ekonomi.

Evans (1998:34), mengatakan bahwa masyarakat di luar Jawa mengalami nasib yang lebih baik (dibandingkan masyarakat di Jawa), dengan tingginya harga komoditi yang diperdagangkan (setidaknya dalam bentuk rupiah).

Fraser (1998:143-145), contohnya, mengatakan bahwa sebagian besar dari hilangnya tutupan hutan di Indonesia yang diperkirakan sebesar 1 juta ha per tahun dapat dijelaskan dengan pertumbuhan populasi petani kecil yang tinggal di kawasan hutan.

Aliadi (1999) menyatakan bahwa konsep hutan kemasyarakatan secara tegas menegasikan praktek-praktek pengelolaan hutan yang berbasis negara (sentralistik, seragam, komersial, anti ekologi, dan anti rakyat). Masih dalam tulisan yang sama, LATIN (sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat di Bogor) cenderung memposisikan konsep hutan kemasyarakatan ini sebagai paradigma pengelolaan sumberdaya hutan yang memegang teguh prinsip-prinsip populis, partisipatif, desentralisasi, spesifik lokal dan pluralisme.

Foresta dan Michon (2000) menyatakan bahwa secara ilmu, agroforestri adalah penggabungan antara ilmu kehutanan dan agronomi, serta memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan. Sedangkan Pramuharsanto (2002) menyatakan bahwa agroforestri merupakan salah satu sistem yang dikembangkan dalam pengelolaan lahan yang berasaskan kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan. Sistem ini mengkombinasikan antara produksi tanaman pertanian (termasuk tanaman pohon-pohonan) dan tanaman hutan dan/ atau hewan secara bersamaan atau berurutan pada unit lahan yang sama. Cara-cara yang diterapkan untuk pengelolaan lahan merupakan cara/ sistem yang sesuai dengan kebudayaan penduduk setempat.

Menurut Mubyarto dkk. (1992), per-saingan yang dirasakan di sektor tradisional, khususnya sektor pertanian adalah ancaman bagi kesejahteraan masyarakat Kalimantan Timur yang sebagian besar sangat tergantung pada hutan dan lingkungannya, termasuk sis-tem pertanian ladang berpindah.

PEMBAHASAN

AGROFORESTRY INDONESIA

MENGENAI SISTEM PENDEKATAN

Pola perubahan lingkungan daerah lahan hutan tropika berkaitan erat dengan pembukaan hutan alam yang menimbulkan erosi, kepunahan flora dan fauna, dan perluasan lahan kritis. Permasalahan semakin berat sehingga mendorong munculnya aliran ilmu baru yang mengenali dan mengembangkan keberadaan ilmu pertanian daerah tropika, yaitu ilmu agroforestry. Agroforestry menggabungkan ilmu kehutanan dengan agronomi, serta memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan. Bertujuan untuk usaha mencegah perluasan tanah tandus dan kerusakkan tanah dan mendorong pelestarian sumberdaya daya hutan serta peningkatan mutu intensifikasi pertanian dan diversivikasi silvikultur

Pengertian agroforestry menungkinkan pembahasan dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti ekologi, agronomi, kehutanan, botani, geografi maupun ekonomi. Agroforestry adalah nama bagi sistem-sistem dan teknologi penggunaan lahan dimana pepohonan berumur panjang dan tanaman pangan dan pakan ternak berumur pendek diusahakan pada Petak lahan yang sama dalam suatu pengaturan ruang dan waktu. Dalam sistem agroforestry terjadi interaksi ekologi dan ekonomi dengan unsur-unsurnya. Perpaduan-perpaduan sederhana bukanlah satu-satunya praktik agroforestry. Hal ini memungkinkan dilakukan pemilahan secara tegas sistem-sistem aagroforestry, baik yang bersifat eksperimental maupun yang telah diterapkan secara luas di kawasan humid tropika.

Sistem agroforestry sederahan yaitu perpaduan-perpaduan sistem kovensional yang terdiri atas sejumlah kecil unsur, menggambarkan apa yang kini dikenal sebagai skema agroforestry klasik. Bentuk agroforestry yang sering dibahas adalah tumpangsari, yang merupakan sistem taungnya Indonesia yang diwajibkan di areal hutan jati di Jawa. Sistem-sistem agroforetry sedehana juga menjadi ciri umum pada pertanian komersil. Agroforestry sedehana dapat dijumpai di pertanian tradisional.

Sistem agroforestry kompleks (agroforest) adalah sitem-sistem yang terdiri dari sejumlah unsur pepohonan,penampakan fisik dan dinamika dalamnya mirip dengan hutan alam primer maupun sekunder. Sistem ini bukanlah hutan yang ditata lambat laun melalui tranformasi ekosistem secara alami, melainkan mirip dengan pembentukan hutan jatidi lahan perum perhutani di Jawa dalam sistem tumpangsari. Bedanya dengan sistem tersebut adalah milik perum perhutani dan pada tahap dewasa tidak ada pemaduan dengan tanaman beramanfaat lainnya. Sebaliknya sitem agroforestry kompleks, pepohonan dimiliki oleh petani dan pada tahap dewasa petani tetap memadukan bermacam-macam tanaman yang bermanfaat. Pemaduan terus berlangsung pada keseluruhan masa keberadaan agroforest. Dalam konteks ini agroforest berada di tengah-tengah, antara sistem pertanian dan hutan.

Sistem agroforetry kompleks di Indonesia umumnya petani-petani membuka hutan alam secara tetap menempati dan mengelola tanah-tanah terbaik, tidak ada lagi interaksi erat antara lingkungan dan hutan. Pepohonan umunya tidak lagi masuk dalam pertanian, kecuali dalam fruit orchard (kebun monokultur buah). Pola budidaya ini membutuhkan biaya yang tinggi dan teknologi canggih. Di sisi lain, hutan-hutan dikelola untuk memproduksi kayu secara ekslusif, tanpa sentuhan dari dunia pertanian. Hal ini dilakukan dengan mengukuhkan penguasaan atas tanah dan sumberdaya hutan, melalui pengembangan silvikultur dan pengamanan pengawasan hutan yang memaksa para petani menyingkir dari hutan. Upaya pengukuhan atas upaya sumberdaya lahan dan hutan mulanya ditetapkan oleh pemerintah kolonial barat terhadap daerah jajahanya di daerah tropika. Dalam ilmu agronomi barat, keberadaan pepohonan hutan cenderung diabaikan sehingga pertuambuhan luas lahan pertanian sama artinya dengan lenyapnya hutan-hutna alam. Sebaliknya dalam silvikultur barat, keadaan petani yang cenderung keberadaanya diabaikan sehingga eksploitasi pengelolaan hutan selalu berbenturan dengan kepentingan petani yang lebih diposisikan sebagai pencuri. Sekarang ini sistem-sistem agroforest tersebut sepertinya merupakan sistem usahatani yang hanya diterapkan pada petani-petani kecil.

Cikal bakal agroforest bertujuan untuk memahami bagaimana proses rekontruksi dan pemeliharaan, pengamatan terhadap pratik-praktik pengeloaan sunberdaya alam oleh penduduk setempat penting dilakukan. Manipulasi yang bersifat melindungi sumberdaya alam ini dilakukan mengiringi praktik perladangan gilir-balik. Akan tetapi, pada saat pembukaan ladang, tanaman yang dianggap bermanfaat diselamatkan. Dengan cara demikian, pada saat itu bentuk penggunaan lahan yang diterapkan sudah bersifat sebagai agroforest.

Aneka agroforest dengan contoh kebun pekarangan di pulau jawa yang memadukan tanaman yang bermanfaat asal hutan dengan khas pertanian. Kehadiran dan campur tangan manusia secara terus-menerus, membuat kebun tersebut menjadi yang benar-benar buatan (artificial), meskipun tetap bisa ditemukan sifat khas vegetasi hutan. Kekayaan jenisnya pada lahan 400m2 terdapat lebih dari 50 jenis tanaman, sementara ± 300 jenis tanaman dapat ditemukan dilikungan desa sekitar Bogor, Jawa barat. Seperti halnya semua pekarangan (homegarden) tropika yang dikategorikan sebagai sistem agroforest kompleks, kebun pekarangan di pulau jawa adalah sistem yang sangat khas. Keuntungan sosial-ekonomi dan ekologi dari kebun-kebun tradisional harus mendapatkan pengakuan. Sebagai contoh, dapat dapat peranan kebun dalam perbaikan gizi, peningkatan pendapatan, cadangan sumberdaya saat ekonomi sulit, perlindungan tanah dan pelestarian kultivar.

Agroforest sebagai penghubung dua dunia bentuk, fungsi dan perkembangan perkebunan agroforestry dipengaruhi oleh berbagai kriteria ekologis dan sosial diantaranya: sifat dan ketersediaan sumberdaya di hutan, arah dan besarnya tekanan manusia terhadap sumberdaya hutan, organisasi dan dinamika ushatani yang dilaksanakan, sifat dan aturan sosial serta adat istiadat setempat, tekanan kependudukan dan ekonomi, sifat hubungan antara masyarakat setempat dengan ‘dunia luar’, prilaku ekologis dari unsur-unsur pembentukan agroforest, stabilitas struktur agroforest, serta cara pelestarian yang dilakukan. Namun, semua agroforest memiliki ciri tetap yaitu tidak ada produksi bahan makanan pokok (beras, ubi kayu) di dalam agroforest, meskipun sebagian besar kebutuhan petani yang lain masih tersedia di pertanian masyarakat. Agroforest merupakan bagian dari lingkungan pertanian, karena didalamnya terdapat berbagai tanaman yang bernilai komersil, seperti: rempah-rempah dan kopi. Kadang-kadang agroforest terbuka bagi tanaman pangan. Misalnya saat peremajaan pohon kulit manis atau penanaman bibit kopi selama satu atau dua tahun pertama tanaman komersil tersebut diselingi tanaman semusim. Dengan berkembangnya agroforest peran hutan alam sebagai sumber bahan nabati semakin lama semakin menghilang. Apabila tuntutan yang lain sebagai hutan alam, yaitu sebagai cadangan lahan untuk perluasan pertanian, juga berkurang maka upaya perlindungan terhadap hutan alam bisa menjadi efisien. Evolusi masih terus berlanjut. Hasil-hasil hutan alam yang dulu berlimpah kini sulit didapatkan, dan sumber-sumber daya dalam kebun-kebun agroforest tersebut kini semakin penting. Kecenderungan ini menyEbabkan pesatnya agroforest di daerah-daerah yang semula berupa ladang berputar dan hutan sekunder.

Agroforestry di Indonesia memiliki cirri-ciri ekologi, ekonomi dan sosial budaya, yang khas. Yang membedakan sistem pertanian maupun agroforestry lainnya. Ciri-ciri tersebut membedakan agroforestry dari silvikultur atau kehutanan masyarakat (community forestry) lain yang dikenal dewasa ini. Agroforestry merupakan manusia yang dikembangkan dalam rangka pengembangan dan peletarian sumberdaya hutan, dan bukan merupakan upaya pengelolaan hutan alam. Karena memiliki struktur yang serupa dengan hutan alam, umumnya agroforestry memiliki penampilan seperti hutan alam primer atau sekunder. Karena dominasi pepohonan dan keanekaragaman tetumbuhan yang pada tahap awal berasal dari hutan alam, agroforestry dapat ketiru sebagai hutan alam. Agroforestry adalah struktur yang dibangun oleh masyarakat setempat dalam rangka diversifikasi produksi, melengkapi produksi bahan pangan yang dihasilkan untuk kebutuhan sendiri dari lahan tanaman semusim. Meskipun agroforestry tidak selalu menampilkan sesuatu perpaduan antara tanaman pertanian semusim dan pepohonan hutan, agroforestry menyentuh inti paradigma agroforestry, yaitu mempertemukan hutan dan pertanian dimana struktur hutan di padukan dengan logika pertanian. Agroforestry lahir dari praktik tradisional pengelolaan hutan yang dikembangkan terus menerus oleh masyarakat setempat. Hamparan luas agroforestry yang dewasa ini bukan merupakan hasil proyek-proyek penghutanan kembali yang dilaksanakan pemerintah. Melainkan agroforetry adalah hasil konsepsi, investasi, dan perencanaan jangka panjang petani. Dibentuk berdasarkan sistem pengetahuan dan tradisi hutan setempat, dan di kelola menggunakan tehnik-tehnik praktik-praktik terpadu yang sederhana. Perkembangan dan pengelolaan agroforestry juga dikontrol oleh sistem-sistem sosial budaya yang menjamin hak dan kewajiban secara jelas. Pengelolaan dan pembentukan agroforestry berciri kesederhanaan tehnik dan keluwesan ekonomi. Karena agroforestry dikembangkan secara bertahap oleh para petani, pemeliharaan dan pemanenan hasil-hasilnya tidak membutuhkan teknologi canggih, maupun modal investasi dan tenaga kerja yang besar. Keanekaragaman produksi agroforestry, meski kurang memungkinkan petani mengumpulkan modal dengan cepat, merupakan jaminan penting bagi petani menghadapi resiko-resiko yang melekat pada perkembangan semua sistem produksi.

Di Indonesia pemilahan nampak sangat mencolok; kebanyakan dari agroforestry diarahkan untuk model-model agroforest sederhana, seperti dalam renovasi kebun, pengembangan pengembangan lahan gundul, dan rehabilitasi kritis. Dengan mengabaikan mutu obyektif sistem-sistem agroforestry kompleks pada  tataran ekologi maupun ekonomi, dari segi pembentukan maupun cara kerjanya, sebetulnya sistem agroforestry tidak ada kaitannya dengan ekologi hutan. Berbeda dengan sistem agroforestry sederhana, keanekaragaman unsure yang terpadu dalam sistem agroforestry kompleks yang membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.

Pendekatan terpadu kajian agroforestry, pendekatan ini memungkinkan untuk mengindetifikasi dan mengenali ciri-ciri ekologi dari berbagai sistem kompleks. Mutlak dibutuhkan suatu pendekatan yang memadukan ilmu-ilmu ekologi, kehutanan,agronomi, sosiologi dan antrhopologi. Di dalam kerangka penelitian hal ini berkembang dengan kajian atas yang berkembang dengan mandiri, apalagi jika dibandingkan dengan eksperimental.

CONTOH AGROFORETRY INDONESIA

Kebun Pepohonan Campuran Di Sekitar Bogor, Jawa Barat

Sistem pepohonan di pulau jawa merupakan contoh pengelolaan lahan yang berasal dari daerah tropika. Sebagaimana pekarangan lain di dunia, pekarangan di Indonesia masih bertahan sampai saat ini sebagai sistem skala kecil yang memadukan berbagai fungsi ekologi, ekonpmi dan sosial. Kajian mengenai kecenderungan masa kini kebun pepohonan campuran di sekitar Bogor dan Jakarta mungkin dapat memberikan gambaran. Di daerah ini benturan antara kota dan desa, antara sistem produksi pangan tradisional dan pertanian komersial modern, antara lahan petanian dan tempat pemukiman semakin hari semakin terasa. Walaupun kajian dilakukan terhadap suatu  wilayah yang relatif kecilyakno kawasan desa, tetapi hasil kajian dapat dapat mewakilkan kecenderungan fenomena yang terjadi di desa sekitar Bogor.

Ciri biologi dan ekologi kebun tradisional, komposisi flora dan struktur vegetasi kebun tradisional memiliki ciri khas ekosistem hutan alam. Lebih dari 150 spesies tumbuhan diantara 250 spesies yang terdapat di wilayah kebun pedesaan ciri khas hutan pedesaan kebanyakkan dari ekosistem hutan setempat. Umumnya satu bidang berukuran 300-500m2 dan dapat berisi 50 spesies dan herba. Kekayaan flora bertambah besar karena banyak spesies pohon yang merupakan varietas dan kultivar yang berasal dari spesies asli yang tumbuh secara alami atau melalui seleksi yang seksama. Struktur vegetasi kebun mirip dengan strukur hutan alam. Kerapatan rata-rata tegakan pohon mencapai sekitar 800 tua per ha dan 900 pohon muda dengan tinggi lebih dari 1 m. seluruh penumpikan tajuk pohon mencapai 200% dari luas petak, berarti kebanyakan pohon bertumpang tindih. Susunan vertikal kebun bervariasi berlapis-lapis. Pohon tua yang produktif memempati ruang pada beberapa pola paduan yangb berlapis.

Satu paduan tinggi dari pohon buah yang mencuat (durian, petai, kwini, embacang dan kemang) mencapai ketingian 35 m dengan pentup tajuk pohon 75% dari lahan tanah. Satu paduan kanopi yang merupakan bagian terbesar paduan pepohonan dengan penutup tajuk pohon sekitar 100%, terdiri dari spesies buah-buahan (rambutan, menteng, duku, jambu-jambuan, manggis dan kecapi) dan spesies sayuran dengan ketinggian 15 sampai 25 m. Satu atau dua paduan kanopi bawah yang tidak utuh dengan palem (aren, pinang dan salak) dan pohon-pohon kecil (gandaria, belimbing, rukem, lobi-lobi dan ceremai) Satu pohon herba, berupa jenis-jenis herba dan perdu tahan naungan yang melindungi semaian dan anakan pohon lapisan di atasnya.

Selama sekitar 25 tahun, peningkatan kebutuhan terhadap tempat pemukiman dan lahan pertanian intensif, mengakibatkan perubahan cepat pada kebun-kebun tradisional. Hal ini secara berangsur-angsur menghilangkan ciri-ciri asli hutan dan mengubahnya menjadi pekarangan yang sederhana atau kebun intensif.

Selama 20 tahun belakangan ini laju pertumbuhan penduduk kawasan mencapai 5% per tahun. Tuntutan yang meningkatkan atas lahan untuk bangunan rumah merupakan alasan utama konversi kebun. Jika masih memungkinkan maka tanah kosong di sekeliling rumah diubah menjadi pekarangan. Halaman depan biasanya disediakan untuk tanaman hias dan spesies pecinta sinar berdaur pendek (pisang, pepaya,  singkong, talas dan polong-polongan merambat). Pohon besar dari tegakan kebun lama ditebang dan diganti dengan spesies yang bernilai komersil yang tahan sinar matahari seperti cengkeh, pala, nangka, mangga varietas unggul, rambutan atau jambu. Tetapi banyak tempat, jarak antara rumah sangat rapat sehingga ada lahan pekarangan.

Konversi kebun tradisional untuk perluasan tanaman komersil peningkatan prioritas kegiatan sumber pendapatan tunai juga menyebabkan konversi kebun. Tampaknya,  berkebun secara tradisional sudah dianggap sebagia kerja sia-sia karena keuntungan ekonomi yang cukup kecil.

Proses transformasi, konversi kebun seringkali mengakibatkan perubahab drastis pada paduan vegetasi tradisional. Ada berbagai contoh proses intensifikasi terpadu dimana konversi dilakukan tanpa mengubah tumbuhan atas, konversi perpusat pada pengembangan paduan tumbuhan bawah di dalam kebun yang sebelumnya kurang diamanfaatkan. Untuk membuat relung yang tepat bagi spesies ini petani harus melakukan panjarangan pada kanopi tradisional. Biasanya antara 40% sampai 80% yegakan pohon asli ditebangi secara selektif, hanya pohon jenis buah yang disegi ekonomi, sedangkan spesies yang bernilai tinggi dilestarikan. Proses transformasi dipengaruhi oleh tehnik peladangan berputar yang sering dianggap kuno. Kayu yang bernilai mahal di manfaatkan dan rerumputan disekitar dibakar ditempat. Segera setelah pembakaran, lahan ditanami tanaman berdaur pendek  pisang dan pepaya untuk tanaman kota, sayuran seperti cabe, singkong, tanaman merambat dan talas untuk dimakan sendiri dan untuk pasar kota, kopi untuk konsumsi sendiri dan pasar nasional dan di sela-sela ditanamami semaian pohon-pohon komersil paduan tanaman berdaur diperbaharui dengan teratur samapi tegakan baru tanaman komersil mulai beproduksi, yakni sekitar 4 tahun.

Tipe kebun baru; kebun campuran komersil, paduan pohon yang menjulang tinggi biasanya didominasi dengan tajuk antara 20% sampai 50%. Paduan utama berupa kanopi agak rendah (antara 5 sampai 15 m) didominasi oleh durian atau pala dan dapat dipadukan dengan mangga serta rambutan varietas unggul. Tajuk penutup berkisar antara 50 sampai 75%, sehingga bagian bawahnya terkena sinar matahari, bagian bawahnya ditumbuhi spesies rumput, pecinta sinar yang umum (Melastomatotaceae, Asteraceae, Poaceae, Malvaceae) yang sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Beberapa kebun baru yang lain dikhususkan untuk produksi buah campuran dan kayu lunak untuk campuran industri dan pasar kota. Spesies kayu yang cepat tumbuh membentuk kanopi tinggi, mencapai 25 sampai 30 m. Di bawahnya berbagai jenis pohon buah okulasi dapat berproduksi penuh.

Evolusi pola dan struktur flora, kebun tradisional dengan kekayaan flora dan struktur yang kompleks merupakan sisa terakhir dari ekosistem hutan asli yang dahulu menutupi seluruh wilayah. Kebun tradisional menyisakan tempat berlindung berbagai spesies hutan yang sebagian dimanfaatkan manusia. Karena itu kebun tradisional merupakann cadangan plasma nutfah terakhir bagi tumbuhan asli yang berasal dari hutan dataran rendah. Proses konversi kepada pemekaran struktur baru ekosistem desa. Kemiripan kebun dan hutan menghilang. Penyederhanaan ini mengarah pada perubahan penting dalam ekologi hutan. Pengurangan spesies pohon yang kurang berharga bersama dengan pengurangan relung-relung gelap yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup dan perkembangan pepohonan hutan mengarah pada erosi plasma nutfah. Seluruh aset penting bagi keberhasilan holtikultura tradisional. Tegakan homogen dari spesies unggul sangat rentan terhadap serangan hama, sementara semakin langkanya relung-relung yang disukai binatang pemangsa serangga atau tumbuhan penangkai serangga  dapat menambah kerusakan akibat serangga pada tanaman.

Pengelolaan kebun tradisional, tidak secara langsung memberikan perlakuan menyeluruh terhadap vegetasi. Caranya, dengan perlakuan individual sewaktu-waktu terhadap semaian dan pohon untuk meningkatkan hasil buah, pemilihan anakan, penjarangan kanopi supaya cahaya matahari masuk atau penyiangan atau penyiangan tumbuhan bawah secara selektif untuk merangsang pertumbuhan tanaman yang berharga. Pengeluaran biomassa oleh manusia tetap rendah dibandingkan dengan biomassa yang tegak. Regenerasi kesuburan tanah mudah dipertahankan oleh pembusukan serasak (daun, ranting, dan cangkang buah yang berjatuhan). Tidak da penggunaan pupuk kimia, hanya kadang-kadang ada domba merumput di kebun dan meninggalkan pupuk organik. Evolusi praktik pada kebun konversi, dibandingkan dengan kebun tradisional kebun konversi tampakseperti struktur buatan yang dibentuk untuk menghasilkan biomassa pilihan secara paksa. Keberhasilan produksi ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh pengendalian teknis yang teratur terhadap proses produksi dan reproduksi. Tingkatan produksi dipertahankan melalui masukan pupuk kimia atau organik secara teratur, tetapi karena tidak ada perimbangan antara tingginya volume biomassa yang dikeluarkan (buah, rumput, kayu) dengan biomassa yang diadaur (hanya sampah daun) dan mengingat hambatan ekonomi yang erat kaitannya dengan penggunaan pupuk, maka masalah pemeliharaan kesuburan tanah jangka panjang akan terancam punah.

Manfaat ekonomi kebun (usaha kebun komersil), konversi kebun dibarengi dengan spesialisasi kegunaan ekonomi, kecuali pada pekarangan yang baru dibentuk, proposi hasil dialokasikan untuk konsumsi sendiri biasanya menurun ketika penanaman untuk tujuan komersil. Orientasi komersil saat ini memiliki 2 aspek yang saling menunjang yaitu produksi buah untuk pasar lokal yang berkembang pesat dan produksi tanaman ekspor yang menjangkau pasar yang menguntungkan namun sulit diramalkan. Strategi ekonomi rumah tangga usaha tani (pengelolaan hasil kebun tradisional), kebun dikelola sedemikian rupa sehingga dapat melindungi kebebasan ekonomi rumah tangga. Sebagai tambahan penting disamping padi, kebun memberikan tambahan pangan dasar dan material sepanjang tahun, seperti dalam penanaman pepohonan di Indonesia. Kebun adalah penggati hutan yang memungkinkan terjadi beberapa aktivitas pengumpulan sumberdaya secara terbuka  bagi seluruh penduduk desa. Keragaman tanaman kebun, dimensi serbaguna kebanyakan spesies dan fungsi produksi ganda kebun secara keseluruhan dapat mengurangi resiko kegagalan ekonomi baru bagi kebun komersil, setelah melakukan konversi maka kebun akan kehilangan dimensi serbagunanya. Kebun yang dikonversi tidak memasok produk tambahan dasar atau produk minor “hutan”. Kebebasan ekonomi keluarga yang mendasar ekonomi secara total dan menjamin kelangsungan produksi. Stratetegi kini, kini mulai menurun secara drastic. Dewasa ini berkebun  dan aktivitas terkait merupakan strategi untuk memperoleh penghasilan tunai, untuk membangun modal.

Usaha kebun dan perubahan tatanan sosio-ekonomi dan sosio-ekonomi masyarakat,  konversi kebun yang ditentukan oleh perubahan ekonomi nasional merupakan faktor penentu utama pembentukan hirarki dan aturan-aturan masyarakat desa. Peningkatan tekanan penduduk dan perkembangan ekonomi pasar yang pesat merupakan dua faktor yang membawakan sosio-profesi kebanyakan petani. Fungsi sosial yang menghilang menurut tradisi, petak kebun tidak pernah dipagari. Semua orang bebas lewat, boleh memungut buah non-komersil, dan orang tidak punya lahan boleh memungut produk-produk yang tidak dibutuhkan pemilik kebun. Hal ini mempunyai 2 implikasi penting. Pertama, adanya relokasi hasil kebun yang penting  mengingat adanya perbedaan pembagian kekayaan diantara orang desa. Produk sampingan seperti kayu mati, sayuran liar dan sebagaian buah-buahan, rumput dan sebagainya dibagikan kepada orang-orang miskin dengan imbalan pretise bagi pemilik tanah. Kedua, adanya akses bebas ke ruang hidup bagi seluruh penduduk desa. Petak yang dikonversikan cenderung dipagari terutama kebun cengkeh yang dipagari kawat berduri dan secara drastis mengurangi ruang hidup dan kebebasan ruang gerak penduduk. Realokasi lahan kebun melalui pasar dan perkembangn criteria ekonomi baru mengenai usaha kebun, mengandung konsekuensi  penting terhadap hirarki sosial, seacara tradisional kekuasaan dipegang oleh pemimpin agama dan tuan tanah, tetapi ini kini berubah dengan kehadiran desa kelas baru yang kuat secara ekonomi dan keuangan. Peranan konversi kebun dalam perimbangan baru antara desa dan kota, pertambahan penduduk serta pemekaran kota mengakibatkan peningkatan permintaan lahan untuk pemukiman penghuni kota yang ingin tinggal di desa. Namun kebangkitan kebun sebagai lahan pertanian yang bernilai tingggi, terlihat dari semakin intensifnya pasar tanah diantara petani sendiri. Tentu dapat mengekangpaling sedikit untuk beberapa tahun proses pemilikan lahan desa oleh orang yang bukan penduduk desa. Konversi kebun memberi perimbangan baru dalam hubungan anatara kota dan desa.

Kesimpulan, di Jawa Barat sudah lama mencapai ambang batas pemekaran dan kini perjuangan menemukan strategi intensifikasi baru tengah dilakukan. Budidaya dilahan terbuka yang sejak beberapa dekade lalu berubah dari padi untuk kebutuhan sehari-hari dengan singkong untuk tujuan komersil tidak dapat lagi menyediakan lapangan kerja ataupun peluang keuntungan. Kebun campuran pepohonan campuran di pedesaan nampaknya tempat terakhir untuk intensifikasi pertanian lebih lanjut melalui usaha kebun petani masih mampu melakukan masalah ekonomi. Dalam konteks tekanan penduduk yang tinggi, konversi, kebun memainkan peran mendasar dalam adaptasi masyarakat desa ke arah ekonomi modern. Perkembangan budidaya pohon komersil membangkitkan dan membantu perubahan sosial ekonomi pada tingkat desa dan rumah tangga. Budidaya buah-buahan yang semula dihubungkan dengan kebutuhan ekonomi sehari-hari dan diperlakukan sebagai kegiatan pengumpulan semata, kini dikelola sebagai kegiatan pertanian yang sebenarnyadan dikaitkan dengan ekonomi produksi. Dengan konversi, kebun batas potensi produksi kebun meningkat dalam arti pendapatan per hektar. Usaha kebun mencerminkan prioritas yang diberikan pada penanaman pepohonan. Pemilik kebun akan segera memiliki kekuatan dalam ekonomi desa. Konsesuensinya ia akan menjadi bagian penting dalam tatanan masyarakat desa.

PERANAN AGROFORESTRY

Sistem Agroforest Bagi Dunia Kehutanan dan Pertanian

Dewasa ini kebijakan kehutanan di Indonesia adalah meningkatan upaya pengeloalaan hutan terpadu, pelestarian hutan dan pembangunan tanaman penghasil kayu. Tetapi sampai sejauh ini, perlibatan masyararkat setempat dalam proyek-proyek hutan tanaman penghasil kayu, program pelestarian hutan dan diversifikasi pola kehutanan untuk pengelolaan ekosistem hutan yang serbaguna dan berkesinambungan, ternyata belum menunjukan keberhasilan. Agroforest merupakan sistem pengelolaan hutan yang tepat guna, yang sesuai dengan kebutuhan petani dan yang tumbuh dihalaman setempat. Oleh karena itu, bagi kalangan kehutanan, agroforest perlu dijadikan bentuk pendekatan baru dalam kerangka pelestarian hutan dan pembangunan untuk wilayah-wilayah dimana perlindungan hutan secara total tidak mungkin bisa dilakukan.

Sistem-sistem agroforest tersebut menawarkan alternatif penting terhadap model-model silvikultur yang berkembang saat ini. Agroforest dapat merangsang pengertian tehnik pengelolaan sumberdaya hutan yang orisinil, dan berpotensi meyempurnakan program-progam kehutanan masyarakat. Agroforest di Indonesia merupakankebun pepohonan yang dibangun setelah vegetasi asli dibuka, dilanjutkan dengan penanaman spesies yang berharga, pengkayaan alami dan sedikit pengarahan. Tehnik-tehnik pembuatan dan perawatannya, semestinya menarik bagi kalangan ahli kehutanan.

Bagi pembangunan, sistem-sistem agroforestry kompleks menyediakan model pertanian komersil yang asli, menguntungkan dan berkesinambungan dan sesuai dengan keadaan petani kecil. Bagi daerah tropika yang lembab, agroforest adalah model peralihan dari perladangan berputar dari pertanian yang menetap produktif dan berkesinambungan. Bagi daerah-daerah dimana agroforets sudah berkembang mapan, masa peralihan tersebut telah dilakukan secara berhasil, hanya dengan sedikit masukan.

Peranan petani dalam pelestarian sumberdaya hutan alam, hutan hujan tropis merupakan vegetasi alami di sebagaian kepulauan Indonesia. Tetapi saat ini hutan yamg di jangkau, terutama di daerah dataran rendah, segera atau akan segera diekploitasi untuk mendapatkan kayu dan atau lahan pertanian pertanian perkebunan. Penetapan kawasan hutan negara mengakibatkan larangan bagi petani untuk memanfaatkan sumberdaya hutan tanpa memberikan alternatif. Antara daerah yang dilindungi dengan lahan pertanian yang mengelilinginya seringkali terlihat perbedaan yang teramat tajam, karena tidak ada daerah peralihan. Hal ini merangsang pencurian dan perambahan yang tidak dapat dihindari. Petani merambah daerah yang dilindungi itu dalam usaha mendapatkan lahan atau bahan-bahan  kebutuhan. Akibatnya konflik kepentingan antara usaha perlindungan hutan secara total dan kebutuhan utama petani semakin lama semakin meruncing. Upaya pengelolaan sumberdaya hutan yang semakin lama semakin menipis, sejauh ini berakhir dengan konflik yang takmauk akal pertanian dan pihak kehutanan.

Pelestarian keanekaragaman telah menjadi tema sentral dalam konteks pelestrarian alam. Semakin banyak perhatian yang diberikan pada pengembangan kebijakan pelestarian yang efisien, terpadu dan diterima masyarakat setempat. Namun sampai saat ini strategi konvensional masih bergantung pada upaya pelestarian ganda in-situ (hutan yang dilindungi) dan ex-situ yang hasilnya terbatas (bank gen dan benih, taman botani dan zoology). Kekayaan spesies hewan dan tumbuhan di daerah tropika lembab sangat luar biasa. Maka potensi pelestarian secara ex-situ akan sangat terbatas. Karena itu, upaya pelestarian yang utama ditempuh adalah dengan memusatkan perhatian pada peningkatan status dan perlindungan kawasan hutan negara.

Sistem-sistem yang terbukti menguntungkan secara ekonomi, sejalan dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi, serta lestari ekologi dalam jangka panjang ini, merupakan satu-satunya sistem pemanfaatn lahan di daerah hutan tropika yang memungkinkan perpaduan produksi pertanian intensif dengan pelestarian kekayaan keanekaragaman hayati. Meskipun memiliki implikasi penipisan ekosistem hutan alam,  sistem-sistem ini dapat menggantikan  vegetasi alam dengan satu komunitas kompleks spesies-spesies pepohonan berumur panjang, yang umumnya masih mengabaikan semua jenis agroforest yang dibangun petani itu. Peranan petani bagi pelestarian warisan flora dan fauna di bumi ini seyogyanya tidak diabaikan.

Agroforest: potensi masa depan yang terancam

Agroforest bisa bertahan sampai saat ini berkat pemaduan inovasi teknik dan strategi yang terus-menerus, berevolusinya Agroforest dan masyarakat berjalan secara parallel. Tetapi, dewasa ini terjadi kesenjangan yang semakin melebar antara masyarakat petani yang melakukan modernisasi melalui penteragaman tanaman dengan model agroforest yang di pandang oleh pihak yang berwenang di bidang pertanian dan kehutanan (dan juga sering oleh petani sendiri) sebagai sistem yang primitif, produktivitasnya rendah, dan telalu sewrawut. Akses peteni terhadap pembangunan dianggap hanya bisa dicapai melalui perkebunan monokultur yang teratur rapi. Dalam konteks ini agroforest adalah ekosistem pertanian yang paling terancam di Indonesia

Di seliruh Indonesia tesebar banyak contah agroforest tua. Dewasa ini banyak kebun tua itu dimodifikasi secara drastis, beberapa diantaranya bahkan lenyap. Berbagai alasan melatarbelakanginya, mulai dari masalah kelembagaan, legal dan administratif, sampai perubahan sosial-ekonomi yang terjadi dalam sistem produksi dan masyarakat pedesaan. Agroforest hanya dapat menjadi pilihan sejauh agroforest tersebut dapat menjawab kebutuhan petani. Agroforest hanya dapat di reproduksi dalam konteks masyarakat yang koheren dan berstruktur mapan.

Keanekaragaman yang merupakan inti agroforest dapat terancam dengan hadirnya unsur-unsur baru dalam dunia petani. Kebutuhan uang dapat mengakibatkan penebangan pohon-pohon warisan. Kepuasan jangka pendek dapat mengakibatkan penggantian spesies sekunder atau yang lambat yang tumbuh tapi cepat pula mati. Ketidakpastian masa depan menghambat investasi jangka panjang. Keterabngan penyuluhan pertanian yang melalui bebagai media (koran, radio, televisi, buku) menyebarkan informasi yang mendukung mono kultur, padahal usaha peningkatan pendaoatan melalui perkebunan monokultur merupakan ancaman kelestarian keaneka ragaman hayati agroforest.

Karena tidak dapat memasok pendapatan langsung yang mencukupi misalnya di Kalaimantan barat, pasar biji tengkawang hasil tembawang sedemikia buruk dan monopolistik penduduk memilih menjual batang pohon tengkawang untuk kayu dengan harga rendah 3 dolar AS sampai 5 dolar AS per batang. Agroforest juga terancam karena kurang dihargai oleh pemiliknya sendiri. Didorong oleh pihak-pihak penyuluh pertanian, petani lebih suka berpaling pada sistem-sistem pertanian yang terkesan lebih modern yakni perkebunan monokultur dengan kebutuhan masukan tanbahan yang tinggi. Agroforest juga terancam oleh faktor lain selain ekonomi, seperti lemahnya pengaturan-pengaturan tradisional (dari keluarga, kepala suku, tetua adat, dll).

Yang terakhir, agroforest sering dirancukan dengan hutan alam dan banyakyang berada di kawasan yang tidak secara resmi diakui sebagai lahan pertanian. Banyak agroforest tumbang di tebang chainsaw perusahaan penebangan kayu, seperti yang telah terjadi pada agroforest damar di Bengkulu atau yang srdang terjadi pada agroforst buah-buahan campuran(lembo) di Kalimantan timur. Agroforestdi tebangi untuk proyek transmigrasi, seperti terjadi pada agroforest damar di Ipuh, Bengkulu. Agroforest ditebangi untuk memberi ruang kepada perkebunan kayu yang cepat tumbuh (HTI), seperti kasus enyedihkan yang terjadi pada agroforest rotan di Kalimantan Timur. Kerangka hukum dan administrasi pemerintahan yang merugikan ini, harus diubah dulu untuk memberi prospek lebih cerah bagi masa depan pengembamgan agroforest.

Mengatasi Konsepsi dan Pengertian Keliru : Peran Penyebaran Penemuan Ilmiah. Selain sistem kebun pekarangan di Jwa yang telah diteliti dengan seksama (Universitas Padjadjaran di Bandung, Universutas Gajah Mada di Yogyakarta, LIPI), sistem-sitem agroforestmasih relatih diabaikan dalam pengembangan agroforestri. Meskipun mencangkup luasan jutaan hektare, sistem-sistem agroforestri kompleks tidak disebutkan dalam kategori-kategori pengunaan lahan yang dewasa ini di pakai di Indonesia. Di dunia pertanian walaupun kehutanan belum ada konsep mengenai sistem tersebut. Penyangkalan keberadaan dan masa depan sisitem-sistem tersebut!

Mengapa sistem-sitem agroforestri kompleks ini tidak diperhitungkan? Tindakan ini merupakan akibat dari beberapa interpretasi yang keliru terhadap struktur dan kualitas agroforest itu sndiri, bebrapa tabu dan praduga mengenai agroforestri dan pelaku budidaya agroforest di Indonesia.

Interpretasi yang keliru mengenai agroforest

Masalah penampilan

Kesulitan pertama bagi pengakuan sistem agroforest komplekss secara global adalah karena agroforest sulit diidentifikasi. Keragaman bentuk dan kemiripan dengan vegetasi hutan alam menyulitkan banyak orang untuk mengenali cirri-ciri umum secara jelas. Kebanyakan agroforest dianggap sebagai hutan alam, baik hutan sekunder (seperti terjadi dengan hutan karet) atau sebagai hutan primer (seperti terjadi pada kebun-kebun Dipterocarpaceae di Kalimantan ddan Sumatra)

Pada peta-peta tata guna lahan yang resmi sampai kini, pada umumnya, agroforest disebut sebagai hutan sekunder, semak belukar, hutan rusak, atau tanah kosong. Karena itu agroforest disatukan dengan jeniss lahan-lahan rusak yang dijadikan sasaran untuk direhabilitasi. Sebagai contoh, satu proyek rehabilitasi hutan di Pantai Barat Lampung pernah direncanakan untuk mengubah ribuan hektare lahan yang diatas peta disebut sebagai hutan rusak dan semak belukar menjadi areal perkebunan akasia. Padahal sesungguhnya yang disebut laha rusak dan semak belukar tersebut merupakan kebun damar, agroforest Dipterocarpaceae yang produktif, seimbang, dan berkesinambungan! Untunglah setraelah diadakan survei lapangan yang memungkinkan diidentifikasikannya kebun damar yang ada, pihak kehutanan membatalkan rencana tersebut dan kini mulai mendukung petani dengan praktik-praktik tradisionalnya.

Sangat jelas adanya kebutuhan mendesak agar pakar geografi dan pengindraan jarak jug menanggapi persoalaan ini: bagaimana mengenali agroforest dengan sarana-sarana pembutan peta yang tersidia saat ini. Hanya pengakuan dari ahli geografi modern yang akan mampu merangsang pergeseran dalam kategorisasi konvensional sistem tat guna lahan, menuju penerimaan secara lebih meluas agroforest sebagai bagian terpaadu pemanfaatan lahan.

Bila pepohonan menyembunyikan agroforest

Persoalan kedua, dan ini mungkin merupakan persoalan yang utama, berhubungan dengan keaneka ragaman unsur serta konsekuensiya terhadap cirri-ciri fisik agroforest. Jumlah unsure yang banyak dan letak yang tersebar membuat agroforest berkesan semrawut dan kotor. Kesan ini tak pelak lagi membuat kebanyakan pengamat terutama ahli pertanian dan ahli agroforestri yang hanya terbiasa debgan sistem monokultur yang rapih dan bersih atau sistem dengan perpaduan sedikit unsure menafsirkannya sebagai tanda-tanda tidak di urus dan diterlantarkan. Maka retorika yang muncul adalah: Untuk apa memperhatikan kebun-kebun yang tidak diurus dan terlantar? Tidak ada gunanya!

Mestinya ahli kehutanan bisa lebih menghargai agroforest, karena bentuk fisik yang sangat menyerupai hutan alam dan secara teknis merupakan sukses dalam silvikultur. Tetapi kalangan tidak memberi penghargaan semestinya, Karena rata-rata mereka ‘alergi” terhadap setiap jenis hutan buatan petani atau menganggap bahwa hutan harus secara tegas berada diluar sentuhan tangan petani.

Memang sulit bagi pakar-pakar serta kalangan kehutanan dan pertanian yang terbiasa dengan kerapian dan kebersihan sistem monokultur yang sederhana atau yang akrab denagan hutan perawan untuk menghargai agroforest. Sebagai sebuah cabang ilmu, agroforestri baru belakangan ini memasuki kurikulum perguruan tinggi.

Evaluasi ekonomi agroforest: sekedar menjauhi unsur-unsurnya?

Sebab lain penafsiran yang keliru terhadap ilai ekonomi agroforest adalah produktivitas masing-masing unsurnya yang relatif rendah. Biasanya produktivitas dari unsur-unsurdalam sistem agroforest lebih rendah dibandingkan produktivitas unsur yang sama dalam sistem monokultur. Hal tersebut disebabkan pengunaan bibit yang tidak diseleksi secara genetik, tidak dilakukan pemupukan dan praktik pemanenan yang belum optimal. Akibatnya pada pandangan sepentas saja sistem agroforest sudah tampak kurang menguntungkan dibandingkan dengan sistam monokultur.

Contohnya adalah agroforest karet. Berdasarkan pendekatan reduksionis, agroforest karet biasanya dianggap primitif dan tidak menguntungkan baik dalam pembutan, perawatan, dan reproduksi. Karena itu maka sebaiknya sistem agroforest karet di hapuskan saja dan di ganti dengan sistem monokultur yang konvensional.

Pada tahap awal, karet dipadukan dengan tanaman musiman penghasil bahan pangan dan uang tunai seperti padi, pisang, sayuran, nanas  dan sebagainya. Hal ini dipandang memperlambat pertumbuhan bibit karet, tetapi miliki arti penting bagi petani. Padahal dengan cara ini petani mendiversivikasisumber pendapatannya atau malah menjadisatu-satunya sumber penghasilan pada satu sampai tiga tahun pertama, memungkinkan berswasembada pangan, dan memberi jaminan menghadapi kemungkinan kemerosotan harga karet (jika ia memiliki kebun karet yang lain). Selain itu tanaman paduan itu melindungi karet dari serangan gulma dan menghemat tenaga penyiangan yang dibutuhhkan untuk melindungi bibit karet.

Di kebun dewasa, hasil lateks jug dibawah hasil perkebunan monokultur yang bersal dari klon pilihan yang dipupuk dengan cermat. Hasil karet agroforest hanya berkisar antara sepertiga sampai setengah hasil perkebunan monokultur, terutama disebabkan oleh mutu genetic pohon karet yang kurang baik, praktik penyadapan yang tidak sesuai, serta pemaduan dengan unsure-unsur non-karet yang oleh peneliti dan penyuluh konvensional dianggap sebagai gulma pengganggu.

‘Gulma Penggangu’ tersebut, yang dapat mencapai 50% dari tegakan tanaman, ternyata mampu memasok buah-buahan, sayuran, tanaman obat dan kebutuhan lain untuk memenuhi kebutuhan gizi dan menjaga kesehatan keluarga. Juga dihasilkan bahan-bahan kayu untuk pagar 9pada daur penanaman berikut) sehingga petani tidak perlu membeli kawat berduri dan bahan bangunan yang dewasa ini sedang menanjak nilai ekonominya seiring dengan lenyapnya hutan alam disekitarnya. Semua produk sampingan ini, meskipun di daerah terpencil biasanya tidak dipasarkan dengan baik, tetap penting bagi penduduk desa. Jika di gabungkan semua unsure tersebut dapat meningkatkan nilai agroforest karet tersebut. Agroforest juga menghasilkan dalam jumlah besar kayu bakar, meskipun nilai ekonomi yang sangat rendah tetapi sangat oenting bagi rumah tangga pedesaan. Agroforest yang mampu memasok kayu bakar berlimpah, bagi petani ini lebih menguntungkan ketimbang kebun monokultur. Keunungan tersebut tidak dapat di tampilkan melaluiangka-angka langsung tetapi membawa dampak yang nyata terhadap keseimbangan ekonomi rumah tangga dan agro-ekosistem pedesaan.

Unsur ‘gulma pengganggu’ juga memainkan peran ekonomi penting yang lain, sama sekitar delapan tahun pertama pembuatan kebun karet baru, setalah tahap pemaduan dengan tanaman musiman, tanaman penggangu ini meminimalkan kebutuhan penangglangan tanaman pengganggu agresif dan mamalia pengganggu. Semak-semak yang tumbuh sendiri bertindak sebagai tanaman penutup tanah yang murah menghadapi saingan paling ganas alang-alang dan krinyu yang untuk menanggulangi dengan cara ‘modern’ membutuhkan herbisida mahal, dan kemunculannya langsung meningkatkan resiko kebakara pada musim kering. Semak yang tumbuh sendiri melindungi pohon karet muda dari gangguan binatang, serupa dengan perlindungan pagar kayu ataupun kawatberduri. Diperkiran semak-semak tersebut dapat menghemat uang sampai Rp 0,5 juta per ha pda tahun 1993, yang tidak harus dibelanjakan petani untuk peralatan, herbisida, dan tenaga kerja yang jika tidak ada semak harus diheluarkan melindungi tanaman karet hingga usia siap sadap.

Unsur selain karet juga dapat memperpanjang usia ekonomi kebun. Melalui regenerasi pohon karet secara alami maka pohon-pohon awal mulai mati petani dapat segera mulai menyadap pohon yang lebih muda. Lahan yng sama dapat terus dieksploitasi paling sedikit selama 40 tahun bandingkan dengan rata-rata 28 tahun pada perkebunan monokultur sebelum penanaman kembali.

Uraian di atas menyiratkan bahwa metode dan cara mengkaji nilai ekonomi sistem agroforest masih perlu dirumuskan secara lebih seksama dan berhati-hati. Pengukuran nilai agroforest mensyaratkan pendekatan yang menyeluruh; menghargai produksi dan fungsi dan memadukan kualitas disamping kuantitas. persoalaan ‘primitifisme’ dan ‘tradisionalisme’ kalangan ilmuwan dan penyuluh sering kali menganggap sistem agroforest kompleks sebagai sisa-sisa pertanian primitif yang tak patut dibanggakan : sitaem seperti ini menceritakan keterbelakangan. Anggapan negatife juga serupa ditunjukan kepada perladangan berputar dan penduduk yang memukimi hutan. Bukankah pada masa indonesia modern  ini seharusnya sistem-sistem primitif seperti itu sudah tidak ada lagi? Ketertarikan beberapa ilmuwan terhadap sistem-sistem ini dianggap sebagai ekosistem, ketyertarikan orang kota terhadap benda antik pedesaan yang indah.

Perlu digaris bawahi bahwa sejak awal pembentukannya sampai saat ini, agroforest senantiasa mengalami proses inovasi dan modifikasi yang berkesinambungan. Prosesperubahan ini merupakan akkiibat perubahan ekologi, ekonomi, kependudukan dan pertukaran komersil (selama sebelum dan sesudah penjajahan, terutama diluar jawa). Sistem-sistem agroforest yamg ada sekarang ini seharusnya dimengerti ebagai produk modern dari evolusi panjang , adaptasi dan inovasi, uji coba dan kegagalan, dan pemaduan spesies-spesies dan strategi-strategi agroforestri baru.

Bebarapa Prioritas bagi Masa Depan Agroforest

Apa yang dapat diperbuat bagi pengetahuan sisitem-sistem agroforest masyarakat setempat? Yang pertama dibutuhkan adalah pengakuan total dari ilmuwan, pelakupembangunan, lembaga pemerintahan, lembaga penyuluhan dan pihak terkait lain mengenai keberadaan dan keunggulan sistem-sistem agroforest. Hal ini hanya dapat dicapai melalaui pendekatan yang menyeluruh terhadap sistem-sistem tersebut, mensyaratkan kerjasama erat antara ilmu-ilmu biologi dan ilmu sosial yamg menggaris bawahi secara tegas peran penting sistem-sistem itu dari aspek penampilan permukaan, produksi, beragam manfaat, presentasi penduduk yang terlibat dan sebagainya. Tetapi faktor terpenting yang harus diupayakan adalah menghasilkan konsolidasi konkrit dan modernisasi model agroforest secara sukses.

Meskipun agroforest dapat dianggap sebagai ekosistem pertanian yang paling terancam di Indonesia dapat menjadi dasar model pembangunan berkesinambungan orisinil yang berguna bukan hanya bagi Indonesia tetapi bagi baanyak kawasan hutan di seluruh wilayah humid tropika.

Konsolidasi model agroforest membutuhkan beberapa jenis tindakan, diantaranya:

Informasi lebih lanjut mengenai sistem agroforest yang ada. Harmonisasi dan pengembangan dokumentasi  sistem yamg ada

Kerja dokumentasi yang sudah dimulai jangan sampai berhenti dibutuhkan lebih banyak informasi tentang sisitem-sistem yang ada agar bisa terlindungi dan berkembang, dan juga untuk menyempurnakan konsep-konsep sistem agroforestri. Pendekatan dan penemuan ilmiah perlu diharmonisasikan untuk meemperoleh data yang dapat di perbandingkan dab diekstrapolasikan. Dokumentasi yang ada seharusnya dibuat terjangkau bagi kalangan awam, terutama penduduk pedesaan di seluruh Indonesia.

Multidisipliner dan interdisipliner

Kriteria kritis sukses penelitian agroforest terletak pada sifat multidisipliner. Peneliti yang menangani sistem-sistem semacam ini, baik yang berasal ; dari ilmu-ilmu ekologi, botani ekonomi atapun sosiologi seharusnya tidak hanya mampu bekerjasama erat dengan ilmuwan dari disiplin ilmu lain, tetapi terlebih lagi, mereka harus mampu mengevaluasi, memahami, dan menghargai kriteria ilmiah dari bidang-bidang ilmu yang melengkapi disiplin ilmu mereka sendiri. Terutama karena adanya hubungan terus-menerus antara pola-pola biologi sosial-ekonomi, dan budaya dalam evolusi kompleksitas agroforest, saat menyentuh agroforest seharusnya tidak lagi ada jarak antara ilmu-ilmu biologi dan ilmu-ilmu sosial. Spesialis agroforestri seharusnya melatih diri sejauh mungkin dalam memahami konsep-konsep, metode, dan penalaran baru yang bersumber dari bidang lainya.

CONTOH TANAMAN AGROFORESTRY

Tanaman Eucalyptus sudah dikenal sejak abad 18, dan perkembangan tanaman ini maju pesat pada tahun 1980 setelah Kongres Kehutanan Sedunia ke VIII di Jakarta tahun 1978. Tidak lama setelah perkembangan tanaman Eucalyptus berlangsung, maka pada tahun 1988 timbul kritik dan protes terhadap tanaman Eucalyptus karena adanya indikasi pengaruh negatif terhadap lingkungan.      Salah satu aspek lingkungan yang dikhawatirkan menjadi buruk adalah aspek hidrologi karena adanya isu bahwa Eucalyptus memperburuk keseimbangan hidrologi dari Eucalyptus yang akan dibahas dalam artikel ini adalah : evapotranspirasi, intersepsi air hujan oleh tajuk, aliran batang, air lolos dan aliran permukaan. Rangkuman hasil penelitian mengenai aspek hidrologi dari Eucalyptus ini dimaksudkan untuk memberikan klarifikasi tentang kekhawatiran pengaruh buruk dari Eucalyptus. Khususnya pada aspek hidrologi tidak seluruhnya benar. Hal tersebut terlihat dari kehilangan air hujan oleh intersepsi tajuk relatif kecil, air lolos dan aliran batang relatif besar sedang erosinya relatif kecil.

PERANAN HUTAN KOTA

IDENTITAS KOTA

Jenis tanaman dan hewan yang merupakan simbol atau lambang suatu kota dapat dikoleksi pada areal hutan kota. Propinsi Sumatera Barat misalnya, flora yang dipertimbangkan untuk tujuan tersebut di atas adalah enau (Arenga pinnata) dengan alasan pohon ini serba guna. Serta istilah pagar-ruyung menyiratkan makna pagar enau. Jenis pilihan lainnya adalah kayu manis (Cinnamomum burmanii), karena potensinya besar dan banyak diekspor dari daerah ini (PKBSI, 1989). Sedangkan untuk fauna yang diusulkan adalah : Trulek kayu, pelatuk jambul jingga dan kambing gunung (Capricornis sumatranensis). Pilihan ini berdasarkan pertimbangan khas dan endemik (PKBSI 1989).

a.      PELESTARIAN PLASMA NUTFAH

Plasma nutfah merupakan bahan baku yang penting untuk pembangunan di masa depan, terutama di bidang pangan, sandang, papan, obat-obatan dan industri. Penguasaannya merupakan keuntungan komparatif yang besar bagi Indonesia di masa depan. Oleh karena itu, plasma nutfah perlu terus dilestarikan dan dikembangkan bersama untuk mempertahankan keanekaragaman hayati (Buku I Repelita V hal. 429). Hutan kota dapat dijadikan sebagai tempat koleksi keanekaragaman hayati yang tersebar di seluruh wilayah tanah air kita. Kawasan hutan kota dapat dipandang sebagai areal pelestarian di luar kawasan konservasi, karena pada areal ini dapat dilestarikan flora dan fauna secara exsitu. Salah satu tanaman yang langka adalah nam-nam (Cynometra cauliflora).

b.      PENAHAN dan PENYARINGAN PARTIKEL PADAT DARI UDARA

Udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang dihasilkan oleh kegiatan alami maupun kegiatan manusia. Dengan adanya hutan kota, partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Dengan adanya mekanisme ini jumlah debu yang melayang-layang di udara akan menurun. Partikel yang melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap (menempel) pada permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan yang mempunyai permukaan yang kasar dan sebagian lagi terserap masuk ke dalam ruang stomata daun. Ada juga partikel yang menempel pada kulit pohon, cabang dan ranting.
Manfaat dari adanya tajuk hutan kota ini adalah menjadikan udara yang lebih bersih dan sehat, jika dibandingkan dengan kondisi udara pada kondisi tanpa tajuk dari hutan kota.

c.   PENYERAP dan PENJERAT PARTIKEL TIMBAL

Kendaraan bermotor merupakan sumber utama timbal yang mencemari udara di daerah perkotaan (Goldmisth dan Hexter, 1967). diperkirakan sekitar 60-70 % dari partikel timbal di udara perkotaan berasal dari kendaraan bermotor (Krishnayya dan Bedi, 1986).
Dahlan (1989); Fakuara, Dahlan, Husin, Ekarelawan, Danur, Pringgodigdo dan Sigit (1990) menyatakan damar (Agathis alba), mahoni (Swietenia macrophylla), jamuju (Podocarpus imbricatus) dan pala (Mirystica fragrans), asam landi (Pithecelobiumdulce), johar (Cassia siamea), mempunyai kemampuan yang sedang tinggi dalam menurunkan kandungan timbal dari udara. Untuk beberapa tanaman berikut ini : glodogan (Polyalthea longifolia) keben (Barringtonia asiatica) dan tanjung (Mimusops elengi), walaupun kemampuan serapannya terhadap timbal rendah, namun tanaman tersebut tidak peka terhadap pencemar udara. Sedangkan untuk tanaman daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea) dan kesumba (Bixa orellana) mempunyai kemampuan yang sangat rendah dan sangat tidak tahan terhadap pencemar yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.

d.   PENYERAP dan PENJERAT DEBU SEMEN

Debu semen merupakan debu yang sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat mengakibatkan penyakit sementosis. Oleh karena itu debu semen yang terdapat di udara bebas harus diturunkan kadarnya.
Studi ketahanan dan kemampuan dari 11 jenis akan yaitu : mahoni (Swietenia macrophylla), bisbul (Diospyrosdiscolor), tanjung (Mimusops elengi), kenari (Canarium commune), meranti merah (Shorealeprosula), kere payung (Filicium decipiens), kayu hitam (Diospyros clebica), duwet (Eugenia cuminii), medang lilin (Litsea roxburghii) dan sempur (Dillenia ovata) telah diteliti oleh Irawati tahun 1990. Hasil penelitian ini menunjukkan, tanaman yang baik untuk dipergunakan dalam program pengembangan hutan kota di kawasan pabrik semen, karena memiliki ketahanan yang tinggi terhadap pencemaran debu semen dan kemampuan yang tinggi dalam menjerap (adsorpsi) dan menyerap (absorpsi) debu semen adalah mahoni, bisbul, tanjung, kenari, meranti merah, kere payung dan kayu hitam. Sedangkan duwet, medang lilin dan sempur kurang baik digunakan sebagai tanaman untuk penghijauan di kawasan industri pabrik semen. Ketiga jenis tanaman ini selain agak peka terhadap debu semen, juga mempunyai kemampuan yang rendah dalam menjerap dan menyerap partikel semen (Irawati, 1990).

e.   PEREDAM KEBISINGAN

Pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk meredam suara ialah yang mempunyai tajuk yang tebal dengan daun yang rindang (GREY dan DENEKE, )1978.

Dengan menanam berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan, khususnya dari kebisingan yang sumbernya berasal dari bawah. Menurut Grey dan Deneke (1978), dedaunan tanaman dapat menyerap kebisingan sampai 95%.

f.    MENGURANGI BAHAYA HUJAN ASAM

Menurut Smith (1985), pohon dapat membantu dalam mengatasi dampak negatif hujan asam melalui proses fisiologis tanaman (Gutasi).
Proses gutasi akan memberikan beberapa unsur diantaranya ialah : Ca, Na, Mg, K dan bahan organik seperti glumatin dan gula (Smith, 1981).
Menurut Henderson et al., (1977) bahan an-organik yang diturunkan ke lantai hutan dari tajuk melalui proses troughfall dengan urutan K>Ca> Mg>Na baik untuk tajuk dari tegakan daun lebar.
Hujan yang mengandung H2SO4 atau HNO3 apabila tiba di permukaan daun akan mengalami reaksi. Pada saat permukaan daun mulai dibasahi, maka asam seperti H2SO4 akan bereaksi dengan Ca yang terdapat pada daun membentuk garam CaSO4 yang bersifat netral. Dengan demikian pH air dari pada pH air hujan asam itu sendiri. Dengan demikian adanya proses intersepsi dan gutasi oleh permukaan daun akan sangat membantu dalam menaikkan pH, sehingga air hujan menjadi tidak begitu berbahaya lagi bagi lingkungan. Hasil penelitian dari Hoffman et al. (1980) menunjukkan bahwa pH air hujan yang telah melewati tajuk pohon lebih tinggi, jika dibandingkan dengan pH air hujan yang tidak melewati tajuk pohon.

g.   MENGURANGI KARBON MONOKSIDA

Bidwell dan Fraser dalam Smith (1981) mengemukakan, kacang merah (Phaseolus vulgaris) dapat menyerap gas ini sebesar 12-120 kg/km2/hari.
Mikro organisme serta tanah pada lantai hutan mempunyai peranan yang baik dalam menyerap gas ini (Bennet dan Hill, 1975). Inman dan kawan-kawan dalam Smith (1981) mengemukakan, tanah dengan mikroorganismenya dapat menyerap gas ini dari udara yang semula konsentrasinya sebesar 120 ppm (13,8 x 104 ug/m3) menjadi hampir mendekati nol hanya dalam waktu 3 jam saja.

h.   PENYERAP CO2 dan PENGHASIL O2

Hutan merupakan penyerap gas CO2 yang cukup penting, selain dari fito-plankton, ganggang dan rumput laut di samudra. Dengan berkurangnya kemampuan hutan dalam menyerap gas ini sebagai akibat menurunnya luasan hutan akibat perladangan, pembalakan dan kebakaran, maka perlu dibangun hutan kota untuk membantu mengatasi penurunan fungsi hutan tersebut.
Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan baik hutan kota, hutan alami, tanaman pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi untuk mengubah gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen. Dengan demikian proses ini sangat bermanfaat bagi manusia, karena dapat menyerap gas yang bila konsentrasinya meningkat akan beracun bagi manusia dan hewan serta akan mengakibatkan efek rumah kaca. Di lain pihak proses ini menghasilkan gas oksigen yang sangat diperlukan oleh
Widyastama (1991) mengemukakan, tanaman yang baik sebagai penyerap gas CO2 dan penghasil oksigen adalah : damar (Agathis alba), daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), lamtoro gung (Leucaena leucocephala), akasia (Acacia auriculiformis) dan beringin (ficus benyamina)

i.    PENAHAN ANGIN

Dalam mendisain hutan kota untuk menahan angin faktor yang harus diperhatikan adalah

Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat.

Daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang.

Akarnya menghunjam masuk ke dalam tanah. Jenis ini lebih tahan terhadap hembusan angin yang besar daripada tanaman yang akarnya bertebaran hanya di sekitar permukaan tanah.

Memiliki kerapatan yang cukup (50-60%).

Tinggi dan lebar jalur hutan kota cukup besar, sehingga dapat melindungi wilayah yang diinginkan dengan baik (Grey dan Deneke, 1978).

Panfilov dalam Robinette (1983) mengemukakan, angin kencang dapat dikurangi 75-80% oleh suatu penahan angin yang berupa hutan kota.

j.    PENYERAP DAN PENAPIS BAN

Daerah yang merupakan tempat penimbunan sampah sementara atau permanen mempunyai bau yang tidak sedap. Tanaman dapat digunakan untuk mengurangi bau. Tanaman dapat menyerap bau secara langsung, atau tanaman akan menahan gerakan angin yang bergerak dari sumber bau (Grey dan Deneke, 1978). Akan lebih baik lagi hasilnya, jika tanaman yang ditanam dapat mengeluarkan bau harum yang dapat menetralisir bau busuk dan menggantinya dengan bau harum. Tanaman yang dapat menghasilkan bau harum antara lain : Cempaka (Michelia champaka) dan tanjung (Mimusops elengi).

k.   MENGATASI PENGGENANGAN

Daerah bawah yang sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis tanaman yang mempunyai kemampuan evapotranspirasi yang tinggi. Jenis tanaman yang memenuhi kriteria ini adalah tanaman yang mempunyai jumlah daun yang banyak, sehingga mempunyai stomata (mulut daun) yang banyak pula.
Menurut Manan (1976) tanaman penguap yang sedang tinggi diantaranya adalah : nangka (Artocarpus integra), albizia (Paraserianthes falcataria), Acacia vilosa, Indigofera galegoides, Dalbergia spp., mahoni (Swietenia spp), jati (Tectona grandis), kihujan (Samanea saman) dan lamtoro (Leucanea glauca).

l.    MENGATASI INSTRUSI AIR LAUT

Kota-kota yang terletak di tepi pantai seperti DKI Jakarta pada beberapa tahun terakhir ini dihantui oleh intrusi air laut. Pemilihan jenis tanaman dalam pembangunan hutan kota pada kota yang mempunyai masalah intrusi air laut harus betul-betul diperhatikan karena Penanaman dengan tanaman yang kurang tahan terhadap kandungan garam yang sedang-agak tinggi akan mengakibatkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, bahkan mungkin akan mengalami kematian.

Penanaman dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang tinggi akan menguras air dari dalam tanah, sehingga konsentrasi garam adalah tanah akan meningkat. Dengan demikian penghijauan bukan lagi memecahkan masalah intrusi air asin, malah sebaliknya akan memperburuk keadaannya.

Upaya untuk mengatasi masalah ini sama dengan upaya untuk meningkatkan kandungan air tanah yaitu membangun hutan lindung kota pada daerah resapan air tanah yaitu membangun hutan lindung kota pada daerah resapan air dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah

m.. PRODUKSI TERBATAS

Hutan kota berfungsi in-tangible juga tangible. Sebagai contoh, pohon mahoni di Sukabumi sebanyak 490 pohon telah dilelang dengan harga Rp. 74 juta (Pikiran Rakyat, 18-3-1991). Penanaman dengan tanaman yang menghasilkan biji atau buah yang dapat dipergunakan untuk berbagai macam keperluan warga masyarakat dapat meningkatkan taraf gizi/kesehatan dan penghasilan masyarakat. Buah kenari untuk kerajinan tangan. Bunga tanjung diambil bunganya. Buah sawo, kawista, pala, lengkeng, duku, asem, menteng dan lain-lain dapat dimanfaatkan oleh masyarakat guna meningkatkan gizi dan kesehatan warga kota.

n.   AMELIORASI IKLIM

Salah satu masalah penting yang cukup merisaukan penduduk perkotaan adalah berkurangnya rasa kenyamanan sebagai akibat meningkatnya suhu udara di perkotaan.
Hutan kota dapat dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan agar pada saat siang hari tidak terlalu panas, sebagai akibat banyaknya jalan aspal, gedung bertingkat, jembatan layang, papan reklame, menara, antene pemancar radio, televisi dan lain-lain. sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat karena tajuk pepohonan dapat menahan radiasi balik (reradiasi) dari bumi (Grey dan Deneke, 1978 dan Robinette, 1983).
Robinette (1983) lebih jauh menjelaskan, jumlah pantulan radiasi surya suatu hutan sangat dipengaruhi oleh : panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuhnya sinar surya, keadaan cuaca dan posisi lintang.
Suhu udara pada daerah berhutan lebih nyaman dari pada daerah tidak ditumbuhi oleh tanaman. Wenda (1991) telah melakukan pengukuran suhu dan kelembaban udara pada lahan yang bervegetasi dengan berbagai kerapatan, tinggi dan luasan dari hutan kota di Bogor yang dibandingkan dengan lahan pemukiman yang didominasi oleh tembok dan jalan aspal, diperoleh hasil bahwa :  Pada areal bervegetasi suhu hanya berkisar 25,5-31,0° C dengan kelembaban 66-92%. Pada areal yang kurang bervegetasi dan didominasi oleh tembok dan jalan aspal suhu yang terjadi 27,7-33,1° C dengan kelembaban 62-78%.

Areal padang rumput mempunyai suhu 27,3-32,1° C dengan kelembaban 62-78%.

Koto (1991) juga telah melakukan penelitian di beberapa tipe vegetasi di sekitar Gedung Manggala Wanabakti. Dari penelitian ini dapat dinyatakan, hutan memiliki suhu udara yang paling rendah, jika dibandingkan dengan suhu udara di taman parkir, padang rumput dan beton.


PENUTUP

KESIMPULAN

Kajian-kajian yang dikumpulkan dal makalah ini bertujuan untuk membangun pedesaan tanpa merusak sumberdaya yang berharga, untuk membangun hutan yang dikelola secara lestari di tengah-tengah wilayah pedesaan, seyogyanya kita kembali pada sistem agroforest setempat yang secara tradisional dikenal, dipakai, dan dikelola petani.

Dalam hal agroforest asli yang dibangun masyarakat setempat, Indonesia dikaruniai keanekaragaman hayati menakjubkan. Ini erat berhubungan dengan kebhinekaan penduduk, budaya dan alam. Ada kerugian yang tak tergantikan bagi negeri ini jika kekayaan pengalaman nasional ini nantinya lenyap begitu saja dalam proses moderniaasi. Untuk itu dibutuhkan revolusi konseptual dalam pandangan dan kebijakan kalangan pertanian, kehutanan, dan agroforestry konvensional.

a.      Misi : Menjamin keberadaan hutan

Tujuan 1 : Mewujudkan kepastian hukum dan status kawasan hutan, sasaran :

*    Terselesaikannya penunjukan kawasan hutan di 4 propinsi dan beberapa review beberapa penunjukan kawasan hutan propinsi

*    Terwujudnya kelanjutan proses penetapan kawasan hutan

*    Terwujudnya penataan batas kawasan konservasi

*    Terbentuknya KPHK, KPHL, KPHP

*    Terselesaikannya permasalahan perubahan peruntukan kawasan hutan

*    Terselesaikannya permasalahan proses penggunaan kawasan hutan

*   Terkendalikannya proses perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan
Tujuan 2 : Mempertahankan fungsi hutan, sasaran :

*   Terwujudnya penegakan hukum dalam kasus pemberantasan penebangan liar

*   Terwujudnya pengendalian/penanganan kebakaran hutan yang komprehensif

b.      Misi : Mengoptimalkan manfaat hutan

Tujuan 1 : Memulihkan kondisi hutan, sasaran :

*    Tersedianya MP-RHL Nasional dan Daerah

*    Tersusunnya sistem pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Lahan

*    Tersedianya Litbang peningkatan efektivitas rehabilitasi dan pencegahan degradasi SDH

*   Terlaksananya reboisasi pada areal seluas ±927.000 Ha dan penghijauan seluas ± 1 juta Ha.

*   Tersedianya Litbang untuk peningkatan produktivitas dan kualitas produk.

*   Terlaksananya pengembangan dan pembangunan sumber benih dan pembibitan serta tersedianya benih-benih tanaman hutan yang terjamin kualitasnya

*    Terlaksananya pembangunan hutan tanaman seluas 200.000 hektar dan terlaksananya penataan kembali, pengawasan dan pengamanan areal eks HPH seluas 9 juta hektar (131 unit)

Tujuan 2 : Meningkatkan konservasi SDH, sasaran :

*    Terkelolanya kawasan konservasi serta keterwakilan ekosistem di dalam kawasan lindung lainnya dan kawasan budidaya secara terpadu

*   Terpeliharanya tingkat populasi jenis dipertahankan diatas ambang batas minimum kemampuan hidup alami secara berkelanjutan serta tingkat keragaman dan kemurnian biologis serta produktivitasnya

*    Tersedianya Litbang pengelolaan dan pelestarian keaneka ragaman hayati

Tujuan 3 : Mengoptimalkankan manfaat hasil hutan, sasaran :

*    Tersedianya informasi dan Litbang pemanfaatan dan pemasaran HHPK dan jasa hutan serta diversifikasi produk hasil hutan

*   Tersedianya informasi dan Litbang mendukung sistem pengelolaan hutan lestari

*   Tersedianya standarisasi pengelolaan hutan lestari

*   Tertata dan terselenggaranya pengelolaan hutan lestari

*   Tertata dan terselenggaranya pemanfaatan hutan produksi secara optimal

*    Terwujudnya optimalisasi multi fungsi hutan (eko wisata, jasa lingkungan dsb)

*    Terwujudnya skema pendanaan pembangunan/pengelolaan hutan melalui CDM, DNS dll

*    Terwujudnya industri primer hasil hutan kayu yang tangguh dan ramah lingkungan

*    Terselenggaranya penilaian kinerja pengelolaan hutan alam produksi lestari pada unit pengelolaan (415 unit) dan evaluasi industri primer hasil hutan (47 unit )

*   Terlaksananya penyeimbangan secara bertahap “supply-demand” kayu

*   Terwujudnya peningkatan pemanfaatan hasil hutan non kayu

Tujuan 4 : Meningkatkan manfaat sosial hutan, sasaran :

*    Terwujudnya peran serta masyarakat dan perlindungan hak-hak masyarakat dalam pengelolaan hutan

*    Tersedianya informasi dan Litbang untuk peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan kelestarian SDH sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat

*    Terwujudnya pengembangan “Social Forestry

*    Terbangunnya pengembangan aneka usaha kehutanan

*    Terbangunnya HKM, Hutan Rakyat serta kegiatan perhutanan sosial lainnya

*    Berkembangnya unit-unit usaha/koperasi masyarakat disekitar hutan produksi (usaha budidaya HHBK, pengolahan/pemasaran hasil hutan bukan kayu dan limbah kayu) sebanyak 65 unit.

SARAN

  • Lestarikan potensi alam Indonesia
  • Hindari pembalakan liar di hutan alam
  • Lindungi kekayaan sumberdaya alam Indonesia
  • Wujudkan Indonesia sebagai negara Agroforest
  • Ciptakan agroforest dengan sistem terpadu dan mengahsilkan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada alam lestari.

Daftar Pustaka

BAPEDA SUL-TENG, 2000. Potensi Dasar Sulawesi Tengah

Deskripsi kehutanan. http://www.pertanian.umm.ac.id

H de Foresta, A Kusworo, G Michon dan WA Djatmiko. 2000. Ketika kebun berupa hutan – Agroforest khas Indonesia – Sumbangan bagi masyarakat berkelanjutan. International Centre for Research in Agroforestry. Grafika desa putera. Jakarta

Konseptualisasi dan peubah sosiologi dalam perhutanan sosial. http://www.dephu.go.id

Peranan kota. http://www.lingkungan.go.id

Proses pembentukan agroforest khas. http://www.rudyct.report.com

Rencana departemen kehutanan. http://www.indonesia-embassy.or.jp

Sarijanto Titus. 2001. Kehutanan menjawab krisis. Grafika Citra Adijaya. Jakarta.

One comment on “Agroforrestry Indonesia

  1. Artikel yang menarik. Kami di Kabupaten Magelang sedang mengupayakan konservasi mataair. Setelah dilakukan studi geohidrologi, ditemukan zonasi kawasan sekitar mataair (zona 1, 2 & 3), yg merupakan titik2 imbuhan air tanah. Kebun campuran merupakan jawaban bagi masyarakat utk melakukan usaha tani yang menguntungkan secara ekonomis, sembari menjadi pahlawan “penanam”
    air.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s