Kehutanan

Karya : Adhi Surya Perdana (2006)

PENGENALAN TIPE-TIPE HUTAN

A. Hutan Mangrove

1. Kondisi Umum

a. Letak dan Posisi Geografis

Hutan mangrove sekitar perairan Sungai Donan termasuk kedalam kawasan hutan payau Cilacap yang terletak diantara 108042’ – 109042’ Bujur Timur dan 7030’ – 7044’ Lintang Selatan, terbentang sepanjang pantai selatan Jawa Tengah. Suatu hal yang istimewa adalah bahwa hutan mangrove ini terdapat dipantai selatan pulau Jawa dengan gelombang Samudera Indonesia cukup besar dan pantai-pantai yang cukup terjal. Hutan mangrove Cilacap terbentuk karena lindungan Pulau Nusakambangan dan aliran Sungai Citanduy. Aliran Sungai Citanduy yang masuk Segara Anakan bercampur dengan air laut Samudera Indonesia dan membentuk perairan payau yang ditumbuhi oleh hutan mangrove (Wirjodarmodjo et al. 1978).

Hutan mangrove Segara Anakan terbentuk dari proses pengendapan lumpur dari sungai Citanduy dan Cibeureum yang kemudian bermuara di Segara Anakan. Hutan mangrove ini terbentang mulai dari sungai Donan sampai sungai Citanduy di perbatasan provinsi Jawa Barat. Hutan mangrove Segara Anakan memiliki karakteristik yang unik bila dibandingkan dengan hutan tanaman mangrove di wana Wisata Payau Tritih. Vegetasi yang tumbuh memiliki profil yang cenderung lebih kecil  dibandingkan dengan vegetasi yang tumbuh secara normal. Selain itu dijumpai pula perbedaaan vegetasi berdasarkan tekstur tanah yang ditumbuhi.

b. Topografi dan Jenis Tanah

Kawasan hutan mangrove Cilacap merupakan lanjutan dataran rendah cilacap dan berbatasan dengan Segara Anakan. Ketinggian tanah pada umumnya berkisar antara 0 – 20 meter di atas permukaan laut dan terdapat muara beberapa sungai seperti sungai Citanduy, Cibeureum, Donan dan sungai-sungai kecil lainnya. Sungai-sungai tersebut banyak membawa partikel-partikel tanah sehingga terjadi endapan Lumpur yang cukup cepat. Dengan banyaknya endapan Lumpur tersebut terjadilah banyak tanah-tanah timbul dan pulau-pulau kecil (Haditenojo dan Abas, 1982).

Berdasarkan peta tanah, tanah yang terdapat di wilayah hutan mangrove Cilacap terbagi dalam tiga jenis yang semuanya termasuk golongan Alluvial hidromorf berwarna kelabu. Sepanjang Sungai Citanduy adalah asosiasi Alluvial berwarna kelabu dan Planosol berwarna coklat keabu-abuan (Haditenojo dan Abas, 1982).

c. Iklim

Sebagian besar hutan mangrove Cilacap mempunyai iklim basah (tipe hujan B) yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh besar terhadap komposisi jenis tegakan maupun terhadap pembentukan hutan mangrove. Di daerah Cilacap curah hujan maksimum dalam satu tahun mencapai 3.720 mm. Di bagian Utara hutan Cilacap curah hujan maksimum terjadi pada bulan Februari (400 mm) dan minimum pada bulan Juli (90 mm), sedangkan di bagian Selatan curah hujan maksmum terjadi pada bulan November (480 mm) dan minimum Juli (90 mm) (Haditenojo dan Abas, 1982).

2. Komponen Vegetasi

a. Jenis-jenis Tumbuhan

Jenis-jenis tumbuhan yang umum dijumpai di hutan mangrove Cilacap kebanyakan dari keluarga Rhizoporaceae, Meliaceae, Avicenniaceae, Sonneratiaceae, dan lain-lain (Suryominoto, 1980 dalam Dewi, 1993).

Pada hutan mangrove Cilacap terdapat zonasi yang khas dari garis pantai kea rah darat. Zonasi ini merupakan pencerminan dari adeanya perbedaan faktor-faktor lingkungan antara zona yang satu dengan zona yang lain. Faktor-faktor lingkungan tersebut antara lain salinitas, lamanya genangan air selama sehari semalam, frekuensi genangan dalam sebulan dan tipe tanah (Haditenojo dan Abas, 1982).

Zonasi tersebut dari tepi laut atau muara sungai kepedalaman berturut-turut ialah sebagai berikut :

  1. Zona I (zona Avicennia , terletak paling depan, yaitu : di perbatasan antara laut atau sungai dengan daratan). Tumbuhan yang dominan adalah jenis api-api (Avicennia) dan seringkali merupakan komunitas murni,
  2. Zona II (zona Rhizophora), terletak di belakang zona Avicennia. Rhizophora merupakan jenis tumbuhan yang dominan pada zona ini, sedangkan jenis-jenis Avicennia jauh berkurang. Ciri khas pada zona ini adalah adanya substrat berupa Lumpur yang cukup dalam dengan genangan air antara 0.5 -  1.5 meter,
  3. Zona III (zona Bruguiera), terletak di belakang zona Rhizophora, dengan kondisi tanah relative agak keras dan terdapat sedikit genangan air laut. Zona ini dipandang sebagai zona peralihan dari hutan mangrove ke hutan darat ; dan
  4. Zona IV (zona hutan darat kering), merupakan zona yang paling belakang. Pengaruh air laut pada zona ini hampir tidak ada lagi, karena letaknya relative jauh dari pantai yaitu berada di belakang zona Bruguier. Jennies-jenis tumbuhan yang berkembang di daerah ini merupakan jenis tumbuhan darat biasa.

De Haan (1931) dalam Fatah (1981), telah membagi hutan mangrove atas 5 tipe/ zone vegetasi yang sesuai dengan tempat tumbuhnya, yaitu :

  1. Tipe api-api (Avicennia spp.). Jenis ini merupakan jenis pionir hutan mangrove yang terdiri dari A. marina, dan A. officinalis yang tumbuh dekat laut. Sedangkan jenis pionir yang tumbuh pada tempat yang agak tawar airnya terdiri dari Sonneratia alba, seperti terdapat di sepanjang sungai. Menurut Richards (1952), api-api di Malaysia umumnya tumbuh pada lumpur–lumpur dalam yang kaya bahan organic dan kadang-kadang pada tepi – tepi pantai berpasir yang dangkal.
  2. Tipe bakau-bakauan (Rhizophora spp.). Jenis yang paling dekat dengan laut adalah R. mucronata sedangkan pada sebelah dalamnya sebagian besar ditumbuhi oleh R. apiculata. Famili Rhizophoraceae adalah yang terpenting dalam hutan mangrove yang terdiri dari paling banyak spesies. Famili ini berbeda dengan jenis lain dalam berkemampuan berkecambahnya biji sebelum buah jatuh dari pohon (Brown, 1953). Di daerah bakau kadang-kadang di tumbuhi oleh Ceriops candolleana dan Bruguiera parviflora.
  3. Tipe kandeka (Bruiguiera spp.) dan B. gymnorrhiza. Adalah jenis yang paling panjang umurnya dibandingkan dengan jenis-jenis lain dalam lingkungan Rhizophoraceae dan dapat tumbuh lebih ke darat di bandingkan dengan bakau-bakauan. Pohon ini dapat tumbuh di bawah naungan, buahnya pendek, mudah menyebar pada tempat-tempat yang agak tinggi. Sering bercampur dengan Xylocarpus granatum, Herritiera littoralis ataupun dengan Excoecaria agallocha.
  4. Tipe nipah. Nypa fruticans merupakan tipe peralihan dan dapat tumbuh menyesuaikan diri pada tempat-tempat yang airnya agak asin dan tergenang hingga air tawar yag kurang dipengaruhi air asin.
  5. Tipe hutan payau air tawar. Tempat ini hanya dipengaruhi pasang musim. Pada musim barat tergenang air, pada musim timur kering. Pengeruh pasang surut terhadap daerah ini kurang sekali. Tegakan utamanya sangat banyak jenisnya, yaitu Lagerstroemia spp., Callophyllum inophyllum, Terminalia catappa, Hibicus tiliacens.

Berbagai faktor yang mempengaruhi kehidupan hutan mangrove diantaranya adalah iklim, suhu air, sedimentasi, pasang surut, relief, salinitas, dan lingkungan terhadap gangguan gelombang dan arus laut (Soemodihardjo et al., 1986)

Galloway (1982) dalam Soemodihardjo et al. (1986), membagi lingkuangan mangrove menjadi ennam kelas yaitu : (1) daratan alluvial (alluvial plains), (2) dataran pasang surut (tidal plains), (3) gosong dan goba (barrier and lagoon), (4) gabungan antara alluvial dan gosong (composite alluvial plains and barrier), (5) lembah sungai tenggelam (drowned river valleys), dan (6) pantai karang  (coral coast).

b. Tinjauan Jenis Rhizophora stylosa Griff.

Menurut Samingan (1975) Rhizophora stylosa termasuk kedalam suku Rhizophoraceae. Jenis ini mempunyai akar tunjang melengkung, dari daha-dahan turun akar gantung. Daun selalu hijau dengan ujung tulang daun di pucuk dan di kuncup bulat. Di bawah daun berbintik-bintik hitam. Mempunyai calyk 4, corola 4 tak berlekuk, stamen 8, bakal buah setengah di bawah. Rhizophora stylosa mempunyai tangkai bintik lebih panjang (4 – 5 mm) bentuk benang, tiba-tiba beralih ke bakal buah. Karangan bunga berbunga 2 – 16, lebih panjang dari tangkai daun. Daun-daun pelindung hanya melekat pada basis dan tangkai sari bentuk benang 4 – 6 mm.

Secara ekologis Rhizophora menrupakan penyusun vegetasi mangrove muda. Pada tipe vegetasi ini dicirikan oleh satu lapis tajuk hutan yang seragam tingginya dari jenis Rhizophora dan berperan juga sebagai jenis pioneer di tempat-tempat yang posisinya terlindung dari hempasan ombak yang kuat, atau berkembang setelah kolonisasi dari jenis Avicennia dan Sonneratia yang kemudian Rhizophora tumbuh di antaranya (Sukardjo, 1981). Rhizophora stylosa tumbuh terbatas pasa pantai berpasir dan selalu merupakan pohon kecil, tidak seperti Rhizophora apiculata dan Rhizophora mucronata yang dapat mencapai tinggi sekitar 35 – 40 m apabila tumbuh pada habitat yang baik (Samingan, 1975).

c. Sistem Perakaran Mangrove

Untuk membantu respirasi dan untuk menopang berdirinya tumbuhan, pohon mangrove mempunyai system perakaran yang khas untuk beradaptasi pada tanah berlumpur yang bersifat anaerob dan terhadap penggenangan pasang surut secara periodic. Akar yang berbentuk jangkar memberi dukungan secara mekanik berdirinya pohon, sementara akar-akar yang halus berperan untuk mengambil makanan dan asimilasi oksigen dari atas permukaan endapan Lumpur (Kusmana, 1993).

Tipe-tipe akar untuk beradapatasi pada jenis-jenis pohon mangrove antar lain akar biasa yang menyembul ke permukan tanah dan membengkok ke bawah (Lumnitzera spp.); berbentuk kurva, akar lutut (Bruguiera spp); akar yang tegak ke atas atau berlawanan dengan arah bumi (Avicennia spp); seluruh akar mendatar menjadi sebuah akar penopang yang yang tertekan (Xylocarpus spp.); akar napas berupas tiang (Rhizophora spp.) (Chapman, 1975b dalam Kusmana, 1993).

Menurut Bowman  (1971) dan Davis (1940) dalam Kartawinata et al. (1978), akar pada jenis-janis mangrove berfungsi sebagai penahan lumpur dan karenanya berperan dalam perluasan lahan mangrove.


3. Komponen Satwa Liar

Pada saat pelaksanaan praktek lapang, kami kelompok tiga tidak menemukana satwa liar.

4. Kondisi Fisik Lingkungan

a. Kondisi Perairan

Di dalam ekosistem rawa , seperti daerah hutan mangrove Cilacap, air merupakan salah satu factor fisik yang penting. Air dapat membawa bermacam-macam zat, sehingga dengan mengetahui kualitas air secara menyeluruh akan dapat diketahui pula keadaaan lingkungan secara umum di daerah tersebut (Hardjosuwarno et al. 1978 dalam Dewi, 1993).

Dari penelitian mengenai kualitas perairan di daerah Cilacap pada tahun 1984 oleh Bachtiar dan Prasetyo (1984) dalam Dewi (1993) diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Bahwa keberadaan logam berat di air sejak tahun 1977 sampai akhir tahun 1983 tidak terjadi perubahan yang mencolok, kecuali kandungan Cu dan minyak mengalami kenaikan cukup nyata. Namun demikian, sejak tahun 1980 dapat dikatakan bahwa pada umumnya kandungan logam berat dan minyak di dalam perairan Doanan telah melampaui nilai ambang batas yang ditentukan; dan
  2. Kecenderungan adanya kenaikan logam pada sedimen dari tahun ke tahun berkaitan erat terutama dengan kegiatan kilang minyak Cilacap. Dari hasil analisis contoh air buangan kilang minyak Cilacap diduga telah dibuang merkuri sebanyak ±1,769 kg / tahun.

Berdasarkan penelitian dari Martodigdo et al. (1986) dalam Dewi (1993), pada tahun 1986 bahwa kualitas perairan kawasan hutan mangrove Cilacap adalah sebagai berikut : suhu air berkisar antara 27ºC – 29ºC, salinitas 9,0 – 11, 5 %, pH 7,9 – 9,0, CO2 4,5 – 6,2 ppm, O2 terlarut 5,4 – 6,5 ppm dan DMA 2,5 – 3,2. Disamping itu Hardjosuwarno et al. (1982) dalam Dewi (1983) melaporkan bahwa parameter perairan di sungai Donan yang merupakan daerah yang paling dekat dengan lokasi kilang minyak Pertamina Cilacap umumnya menunjukkan nilai tertinggi yaitu : tingkat kekeruhan 96 unit, COD 3.187,2 ppm, zat padat terlarut 29.087 ppm dan hanya daya hantar listrik 36.00 mikromhos / cm.

b. Sedimentasi

Tipe-tipe endapan di rawa tersususn oleh tanah yang gembur, lembek, berpasir atau Lumpur berlempung. Bahan-bahan ini sama dengan endapan di daerah payau. Proses pengendapan menyiapkan pendangkalan perairan untuk tumbuhnya anakan mangrove yang menyebabkan mangrove maju ke arah laut (Reimold and Queen, 1974). Pertambahan daratan pada daerah pantai oleh endapan Lumpur adalah factor utama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan mangrove (Hagen, 1980 dan Steenis, 1941 dalam Reimold and Queen, 1974).

5. Sistem Pengelolaan

Hutan mangrove dikelola oleh pihak Perum Perhutani RPH Cilacap, BKPH Rawa Timur, KPH Banyumas Barat. Pengelolaan hutan mangrove di RPH Cilacap diarahkan pada pengawetan keanekaragaman ekosistem jenis tumbuhan dan satwa liar agar tetap lestari dengan penggolongan kawasan hutan konservasi. lahan mangrove yang seharusnya ditanami tanaman mangrove, disamping itu pula dimanfaatkan pembuatan empang parit yang mempunyai manfaat multi fungsi membudidyakan kayu putih dan melindungi hutan mangrove dari penjarahan masyarakat selain itu pula menghasilkan pekerjaan sampingan bagi masyarakat dalam pemijahan ikan yang terdiri dari ikan mujair dan bandeng serta udang yang mempunyai nilai jual tinggi pasaran. Kemudian memdapatkan perlindungan dari akar dan daun mangrove untuk pengembangbiakan telur dalam penetasan.

6. Peranan / manfaat dan Permasalahan Mangrove

a. Peranan atau Manfaat Mangrove

Menurut Sukardjo ( 1981 ), peranan ekosistem mangrove adalah seperti di bawah ini :

1. Mangrove di bidang kehutanan

Di Indonesia mangrove sejak dulu telah dieksploitasi untuk berbagai macam kegunaan, yaitu kayu baker, akar, arang, industri kayu lapis, kertas, dan lain-lain. Potensi ekonomi ini terutama dihasilkan oleh Rhizophora spp., Bruguiera spp., dan Ceriops spp. Nilai devisa yang diperoleh dari eksport log dan arang saja mencapai US $ 3.971.061 pada tahun 1978 ( Burbridge dan Koesoebiono, 1980 ).

2. Mangrove di bidang perikanan

Ekosistem mangrove telah terbukti sebagai penghasil bahan organic yang produktif, yang merupakan mata rantai utama jaringan makanan di ekosistem pantai. Selanjutnya, ekosistem mangrove ini berfungsi pula sebagai tempat memijah, bertalur, membesarkan anak, dan tempat hidup berbagai jenis binatang, ikan, udang, dan berbagai jenis laut lainnya. Kelayakan ekosistem mangrove untuk tempat memijah, bertalur dan membesarkan anak berbagai jenis ikan/ udang disebabkan ekosistem mangrove kaya akan persediaan makanan, yang “applicable” bagi semua organisme laut, jarang atau bahkan tidak ada predator, dan kondisi tempat yang  sangat “suitable” untuk tempat hidup (Odum dan Heald,1975 ).

3. Mangrove di bidang pertanian

Pemanfaatan lahan  mangrove untuk keperluan lahan pertanian telah lama dikenal di Indonesia. Terbukti dengan adanya pembukaan areal hutan mangrove untuk pesawahan telah pula sukses menjadi sawah permanen, misalnya di Cilacap ( Wirjodarmodjo et al., 1978). Tanaman budidaya yang telah ditanam di lahan mangrove antara lain : kelapa, dapat tumbuh dengan baik dan subur (misalnya, di Sungsang- Banyuasin).

4. Mangrove dan pemanfaatan tradisional

Berbagai jenis tumbuhan mangrove telah dikenal sebagai sumber bahan untuk keperluan rumah tangga. Nipah, merupakan jenis yang sangat popular untuk industri rumah tangga (atap rumah, pembungkus rokok, pembungkus makanan), bahkan air niranya dapat dimanfaatkan untuk pemanis makanan atau minuman.

Pada situasi yang mendesak, beberapa jenis mangrove dapat dimakan (misalnya, buah Sonneratia caseolaria, daun muda Avicennia spp.).

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Hutan Mangrove

hutan mangrove yang merupakan ekosistem penyangga antara daratan dan lautan memegang peranan penting dalam mendukung produktivitas laut yang berada di dekatnya atau di sekitarnya. Sebaliknya hutan mangrove sangat bergantung pada unsur hara yang terbawa oleh aliran sungai dari daratan (Abdullah, 1986).

Sandy ( 1968 ) dalam Hardjowigono ( 1986 ) menyebutkan bahwa wilayah yang baik untuk ditumbuhi hutan mangrove adalah wilayah yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

  1. Air tenang,
  2. Air payau,
  3. Endapan Lumpur, dan
  4. Lereng endapan tidak lebih dari 0,25-0,50 %

Sedangkan lebar jalur hijau hutan mangrove dipengaruhi oleh tinggi pasang surut, yang menentukan lebarnya jangkauan air pasang di tempat-tempat tersebut.

Menurut Nybakken (1992), factor fisik yang mempengaruhi hutan bakau yang utama adalah adanya gerakan air yang minimal yang mempunyai pengaruh yang nyata. Gerakan air yang lambat menyebabkan partikel sdiman yang halus cenderung mengendap dan berkumpul di dasar. Hasilnya berupa Lumpur yang akan menjadi substrat pada hutan mangrove. Tetapi menurut Saenger ( 1981 ), bila proses pengendapan berlangsung sangat cepat, dapat menyebabkan kematian dari beberapa tanaman di hutan mangrove. Hal ini disebabkan penyerapan oksigen oleh akar menjadi terganggu.

Perluasan hutan atau biasa juga disebut tanah timbul diduga berawal dengan adanya serasah yang mengandung bahan organic dan terhambat pada system perakaran sehingga berbagai substrat yang dibawa dari daratan mengendap dan akhirnya tumbuh bibit baru yang selanjutnya juga akan membantu proses pengendapan Lumpur. Seterusnya hutan mangrove akan tumbuh seiring dengan penambahan lahan ( Sukardjo, 1987 ).

c.    Permasalahan

1. Pencemaran Ekosistem Mangrove

Vegetasi mangrove dianggap sebagai spesies suksesi awal. Oleh karena itu kecenderungan untuk menyerap dan mengakumulasi logam-logam berat juga dimungkinkan terjadi pada ekosistem ini pada tanaman ( Silva et al., 1989 )

Hardjosuwarno et al. ( 1978 ) dalam Hardjosuwarno ( 1982 ) melaporkan bahwa pengamatan vegetasi mangrove tahun 1974 di sungai Donan daerah semprotan yang merupakan masa sebelum pabrik kilang minyak beroprasi, tidak ada petunjuk tentang perubahan fisik atau gejala kematian tumbuhan mangrove. Setelah pabrik kilang minyak beroprasi diadakan pemantauan pada tahun 1977, ternyata pada stasiun-stasiun yang dekat dengan kilang minyak pada bulan April 1977 mulai ada gejala kerusakan dan pada bulan Agustus 1978 banyak mangrove yang mati. Tumbuhan yang peka terhadap pencemaran minyak adalah Rhozophora, Sonnerati, Ceriops, Aegiceras dan Avicennia.

B. Hutan Pantai

1. Kondisi Umum

Hutan pantai yang berada di Cilacap khususnya di daerah pantai Permisan Nusakambangan dengan ketinggian 1-35 mdpl dan luasnya ± 200 ha, tanah kering, berpasir, berbatu, tidak terpengaruh iklim, kemampuannya bertahan terhadap angin dan berada di atas garis pasang tertinggi. Hutan pantai membentang dari batas pasang tertinggi hingga ke daerah awal dataran normal dan mempunyai batas zone vegetasi dengan hutan mangrove yang terlihat jelas dan merupakan kelanjutan dari hutan mangrove. Pada hutan Permisan Nusakambangan, keanekaragaman hayatinya sangat tinggi. Hal itu dicirikan dengan banyaknya jenis vegetasi yang ditemukan.

Hutan pantai berada di daerah pantai di ketinggian 0-200 mdpl, tanah pasir berbatu karang atau lempung,  tidak terpengaruh iklim dan berada di atas garis pasang tertinggi. Hutan pantai membentang dari batas pasang tertinggi hingga ke daerah awal dataran normal dan mempunyai batas zone vegetasi dengan hutan mangrove yang terlihat jelas dan merupakan kelanjutan dari hutan mangrove. Hutan mangrove posisinya disangga oleh hutan pantai, sehingga trerbentuknya asosiasi antara hutan mangrove dan hutan pantai sangat ideal yang berperan sebagai penahan abrasi laut. Pada hutan Permisan Nusakambangan, keanekaragaman hayati sangat tinggi. Hal itu dicirikan dengan banyaknya jenis vegetasi. Jenis pohon di hutan pantai memiliki bentuk yang khas berbelit-belit dan sambung-menyambung. Tipe hutan ini terutama  ditemukan di pantai selatan Jawa, pantai barat daya Sumatera, dan pantai Sulawesi. Jenis tumbuhan yang sering ditemui yaitu Barringtonia asiatica, Calophullum spp, Casuarina equeisetifolia, Hibiscus tiliaceus, Terminalia catappa, Cocos nucifera, dan Pandanus sp.

2. Komponen Vegetasi

Komponen yang ditemui di hutan pantai Nusakambangan yaitu Dedekan, Gading alas, Keloran, Langkap, Nyamplung, Prumpung, Rasamala dan Wiru. Dengan nilai perhitungan kerapatan (Ind/Ha) yaitu 537.5 Ind/Ha, kerapatan relatif (%) yaitu 100%, frekuensi yaitu 5,5 ; frekuensi relatif (%) yaitu 100%, dan Indeks Nilai Penting (%) yaitu 200%. Pohon yang mendominasi di areal pengamatan yaitu prumpung dengan jumlah 21 individu.

3. Komponen Satwa Liar

Satwa liar yang terdapat di kawasan ini sangat banyak sekali mulai dari berbagi jenis burung, berbagi mamalia dan jenis hewan invertebrata lainnya.  Pengamatan di lakukan dengan beberapa cara di antaranya dengan melakuakan pengamatan mata secara langsung terhadap suatu jenis binatang, melalui suara yang di keluarkannya,  bahakan melalui jejak kaki dan kotoran yang di tinggalkannya.

Untuk jenis mamalia yang ditemukan dilokasi pengamatan yaitu tupai yang  dilihat secara langsung dengan jumlah individu 1 ekor sedangkan jenis Aves yaitu burung pantai dengan jumlah individu 2 ekor yang dilihat secara langsung dibatang pohon.

4. Kondisi Fisik Lingkunagan

Hutan pantai dengan keadaan areal hutan yang agak curam berkisar antara kelerengan 20 – 50 %. Keadaan tanah yang terdapat pada areal hutan terdiri dari pasir, batu krikil, serta adanya campuran batu karang yang bercampur dengan tanah pada areal hutan. Hutan pantai yang diamati berada pada ketinggian 1 – 40 mdpl. Suhu yang berada dikawasan yaitu 27.50 C dengan kelembaban 65 % namun hutan pantai tidak terpengaruh oleh iklim lingkungan.

5. Sistem Pengelolaan

Dilihat dari segi pengelolaannya hutan pantai Permisaan  yang berada di kawasan Nusa Kambangan, yang mana kawasan ini merupakan kawasan Depatemen Kehakiman.  Dengan keberadaanya yang di kuasai oleh Departemen Kehakiman ini maka pihak Perum Perhutani tidak mempunyai hak dan wewenang untuk mengelola kawasan ini. Mengingat kedaan lingkungan kawasan ini berpotensi untuk di jadikan sebagai kawasan wisata dan banyaknya para pengunjung yang datang maka kawasan ini di jadikan sebagai kawasan wisata yang tebuka untuk umum. Namun untuk bidang pertanian hanya dimanfaatkan oleh narapidana binaan lapas nusakambangan  untuk bercocok tanam pada lahan yang telah disediakan pihak tahanan nusakambangan.

6. Peranan/manfaat dan Permasalahan

Hutan pantai mempunyai peranan yang sangat penting di dalam mempertahankan keberadaan kawasan yang berada di sekitar pantai dari akibat intrusi air laut, hutan pantai ini juga berfugsi sebagi tempat hidupnya berbagai tanaman khas pantai dan tempat hidup berbagai satwa endemik.

Permasalahan yang timbul yaitu adanya pembukaan lahan, pertambangan semen, perburuan satwa liar yang sekrang hampir punah dan pencurian kayu. Hal tersebut di atas akan merusak ekosistem yang ada di hutan pantai. Sulitnya tumbuh kembali vegetasi yang ada dan memerlukan waktu yang lama, kurangnya tingkat keamanan. Dan  ombak dari laut lepas yang sangat besar memungkinkan abrasi yang besar dan dapat mengakibatkan kerusakan.

C. Hutan Dataran Rendah

1. Kondisi Umum

Praktek ini juga diadakan di hutan dataran rendah di RKPH Cilacap, BKPH Rawa Timur, dan KPH Banyumas Barat yang termasuk ke dalam wilayah pengelolaan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Hutan dataran randah ini terletak pada ketinggian 150 mdpl. Luas hutan dataran rendah ini belum diketahui secara pasti, dikarenakan belum ada data dari pihak Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah.

Hutan dataran rendah yang dikunjungi pada praktek pengenalan hutan ini adalah berlokasi dipulau Nusakambangan tepatnya di Gua Ratu Kabupaten Cilacap. Hutan dataran rendah ini ketinggiannya mencapai 50 mdpl.

Hutan dataran rendah dengan iklim basah namun ekosistem pohon tidak terpengaruh oleh iklim, jenis tanahnya yaitu tanah latosol dan regosol dengan kedaan tanah yang berwarna hitam dan gembur, kondisi lingkungan yang selalu hijau merupakan salah satu dari ciri utama dari tife hutan ini dan ciri-ciri pohon beranekaragam dengan bentuk yang khas yang menyesuaikan dengan keadaan tempat tumbuh. Fauna yang terdapat mempunyai banyak jenis yang beranekaragam yang tersebar dikawasaan dataran rendah daerah pengamatan.

2. Komponen Vegetasi

Kenekaragaman yang terdapat pada tipe hutan dataran rendah ini sangat beragam. Jenis tiang yang temukan pada saat pengamatan yaitu Kruing, Plasan, Saratan, Sinduk, dan Wareng. Dengan analisis data lapangan : kerapatan (Ind/Ha) yaitu 75 Ind/Ha, kerapatan relatif (%) yaitu 100%, Frekuensi (F) yaitu 3, Frekuensi relatif yaitu 100%, LBDS (m3/ha) yaitu 0.081, dominansi (D) yaitu plasan dengan nilai 0,213 sedangkan total dominansi yaitu 1,013 ; dominansi relatif (%) yaitu 100% dan nilai Indeks Nilai Penting (INP) yaitu 300 %.

Jenis pohon yang temukan pada saat pengamatan yaitu Klepu, Mindri, Plasan, Tolok, Wareng dan Waru. Dengan analisi data : kerapatan (Ind/Ha) yaitu 100 Ind/Ha, kerapatan relatif (%) yaitu 100%, Frekuensi (F) yaitu 4, Frekuensi relatif yaitu 100%, LBDS total (m3/ha) yaitu 0.854, dominansi (D) yaitu tolok dengan nilai 2,425 sedangkan total dominansi yaitu 1,013 ; dominansi relatif (%) yaitu 100% dan nilai Indeks Nilai Penting (INP) yaitu 300 %.

3. Komponen Satwa Liar

Jenis satwa liar yang temukan dilokasi pengamatan yaitu percit sebanyak 4 ekor yang dilihat secara langsung dan musang sebanyak 1 ekor yang dilihat melalui tanda yang ditinggalkannya.dilokasi pengamatan.


4. Kondisi Fisik Lingkungan

Kondisi fisik di hutan dataran rendah yaitu kondisi tanah kering dan agak sedikit berbau.  Tidak dipengaruhi pasang sururt air laut.  Hutan dataran rendah terletak pada ketinggian < 50 mdpl dengan topografi berbukit dan banyak terdapat karang-karang yang tajam. Tanahnya agak bergelombang dengan kelerengan 20 – 35 % dan memiliki pH≤7, suhu di dalam hutannya berkisar 26.5˚C dan kelembabannya 75 %.

5. Sistem Pengelolaan

Pengelolaan hutan dataran rendah yang terdapat di pulau Nusakambangan kabupaten Cilacap ini adalah kerja sama antara pihak Perum Perhutani dengan Departemen Pariwisata dan Departemen Kehakiman. Secara teknis Perum Perhutani mengelola kawasan ini secara alami tanpa ada campur tangan dari pihak manapun.  System pengelolaan dengan prinsip kelestarian dengan cara perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan.

Sistem pengelolaan hutan dataran rendah diarahkan pada usaha perlindungan dan kelestarian sumber daya alam hayati baik flora maupun fauna. Pengelolaannya dibiarkn secara alami karena merupakan hutan lindung dan diharapkan menjadi tempat wisata bagi wisatawan domestik.

6. Peranan/manfaat dan Permasalahan

Manfaat dari hutan dataran rendah adalah sebagai tempat tinggal dan tempat cari makan bagi hewan dan tumbuhan di sekitarnya Selain itu dapat menciptakan iklim mikro bagi lingkunagn sekitarnya.

Permasalahan yang muncul yaitu belum maksimalnya promosi dan bahaya terhadap pembukaan lahan dan pencurian. Harapan terhadap hutan dataran rendah yaitu dapat menjaga keseimbangan iklim lingkungan serta menjaga keseimbangan flora dan fauna yang hidup pada daerah tersebut.

D. Hutan Pegunungan.

1. Kondisi Umum

Hutan hujan pegunungan merupakan areal hutan yang terletak pada ketinggian 1000-2400 mdpl. Jenis tumbuhan yangb hidup di daerah ini cukup banyak se[erti jenis puspa dan damar.

Kawasan Gunung Slamet merupakan salah satu hutan pegunungan di Indonesia yang memiliki ketinggian 3400 mdpl. Daerah ini terbagi kedalam dua bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gunung Slamet Barat dan KPh Gunung Slamet Timur. Secara administratif pemerintahan kawasan Gunung Slamet berada di dua kawasan yaitu Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purwokerto.

Luas kawasan Gunung Slamet sekitar 33.000 hektar. Dari luasan tersebut sekitar 4872,45 Ha merupakan daerah terkenal yaitu Wanawisata Baturraden yang terletak di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Baturraden BKPH Gunung Slamet Barat. Pada bagian selatamn Gunb\ung Slamet seluas 3,4 Ha pada ketinggian 600-800 mdpl terdapat hutan tanaman Agathis. Daerah tersebut memiliki curah hujan rat-rata 5000 mm per tahun dan suhu rata-rata 18-28oC.

Selain wanawisata Baturraden, di kawasan gunung ini jugaterdapat bumi perkemahan, sumber air panas yaitu pancuran tiga dan pancuran tujuh.

2. Komponen Vegetasi

Kondisi fisik lingkungan hutan pegunungan dimana kondisi tanahnya masih tetap kering dengan jenis tanah Andosol.  Begitupun topografi lapangan, relaitf bergelombang dengan kemiringan 65-75 % dan suhu rata-rata adalah 20.5°C. Pada pengamatan yang kami lakukan yaitu ada 2 lokasi pengamatan yaitu penggungan atas (1800 mdpl) dan bawah (1500 mdpl)..

Dengan analisis data jenis pohon pada pegunugan atas ; kerapatan (Ind/Ha) yaitu 341,67 Ind/Ha, kerapatan relatif (%) yaitu 100%, frekuensi (F) yaitu 6,08 ; frekuensi relatif (%) yaitu 100%, Dominansi (D) yaitu pasang dengan jumlah 34 individu dan nilai analisis data yaitu 24,667 kemudian dominansi total berjumlah 51,75 ; dominansi relatif (%) yaitu 100%, dan Indeks Nilai Penting (%) yaitu 300 %

Analisis data jenis pohon pada pegunugan bawah; kerapatan (Ind/Ha) yaitu 222,92 Ind/Ha, kerapatan relatif (%) yaitu 100%, frekuensi (F) yaitu 4,17 ; frekuensi relatif (%) yaitu 100%, Dominansi (D) yaitu Wuru klepu dengan jumlah 19 individu dan nilai analisis data yaitu 3,660 kemudian dominansi total berjumlah 25,80 ; dominansi relatif (%) yaitu 100%, dan Indeks Nilai Penting (%) yaitu 300 % .

3. Komponen Satwa

Jenis satwa yang ditemukan pada pengamatan di pegunungan atas yaitu jenis Aves (burung) terdiri dari Pacetan 6 ekor yang dilihat secara langsung, Seriangan 8 ekor yang dilihat secara langsung, Petutut 7 ekor dilihat secara langsung dan 2 ekor yang terdengar melalui suara, Percit 8 ekor yang dilihat secara langsung, Depyu 6 ekor yang dilihat secara langsung, Totor 8 ekor yang dilihat secara langsung, berkeset 5 ekor yang dilihat secara langsung dan puyuh hutan 1 ekor yang dilihat secara langsung. Jenis mamalia yang ditemui yaitu musang 1 ekor yang dilihat melalui kotoran yang tertinggal dengan lokasi hutan sebagai tempat bersarang, tringgiling 1 ekor yang dilihat dari jejak pada tanah dengan lokasi hutan sebagai tempat bersarang, segum 1 ekor yang dilihat melalui kotoran yang tertinggal dengan lokasi hutan sebagai tempat mencari makanan dan babi hutan 1 ekor yang dilihat melalui jejak kaki yang tertinggal dengan lokasi hutan sebagai tempat tinggal.

Satwa liar yang berada pada lokasi pegunungan bawah yaitu jenis Aves (burung) yang terdiri dari crocotan 1 ekor yang terdengar melalui suara, elang jawa 2 ekor yang terlihat langsung pada saat terbang dilangit, kapinis 5 ekor yang terlihat langsung pada saat terbang, lombokan 2 ekor yang terlihat langsung, pacit 3 ekor yang terdengar melalui suara, petortor 5 ekor yang dilihat secara langsung, petutut 3 ekor yang terlihat secara langsung dan 1 ekor yang terdengar melalui suara, protokan 1 ekor yang terlihat secara lagsung, seriangan 7 ekor yang terlihat secara langsung, dan uaua 1 ekor yang terdengar melalui suara. Sedangkan jenis mamalia terdiri dari musang 1 ekor yang meninggalkan kotoran kemudian jenis reptilia bunglon 1 ekor yang terlihat langsung dan tringgiling 1 ind yang terlihat langsung di areal pengamatan.

4. Kondisi Fisik Lingkungan

Berdasarkan pada kondisi suhu udara, curah hujan, pengaruh angin dan letak geografis maka iklim wilayah hutan di KPH Banyumas Timur oleh Scmidth dan Ferguson dapat digolongkan kedalam tipe iklim A yaitu iklim hutan tropis basah. Suhu udara berkisar antara 18oC sampai dengan 30oC dan kelembaban 55-85%. Rata-rata curah hujan tahunan 3340 mm per tahun. Adapun jenis tanah yang berada di wilayah KPH Banyumas Timur termasuk kedalam jenis tanah andosol dengan pH ≤ 7.

5. Sistem Pengelolaan

Hutan pegunungan ini dikelola oleh Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah KPH Banyumas Timur BKPH Baturraden, dalam pengelolaan hutan ini tidak ada perlakuan khusus namun dibiarkan tumbuh secara alami karena hutan pegunungan termasuk kedalam hutan alam, sehingga tidak ada campur tangan manusia dalam permudaaan maupun pemeliharaannya. Namun pada tahun 2006 – seterusnya kawasan wisata baturaden akan dijadikan kebunraya yang terbuka untuk umum dan pelajar ataupun para pakar peneliti yang akan memperoleh data lapangan di baturaden.

6. Peranan/manfaat dan Permasalahan

Hutan pegunungan mempunyai peranan penting bagi penataan air dan sebagai hutan lindung bagi wilayah di bawahnya, mencegah erosi, sebagai penyeimbang lingkungan, pencegah banjir, sumber plasma nutfah, pengatur iklim mikro, sebagai ekosistem penting bagi flora dan fauna yang endemik, daerah resapan air, sebagai kawasan wana wisata pegunungan, dan sebagai tempat atau habitat bagi satwa liar yang tinggal di dalamnya.

Permasalahan yang ada di hutan pegunungan ini adalah penebangan liar oleh masyarakat sekitar hutan. Hal ini disebabkan karena masyarakat sekitar hutan tidak memiliki penghasilan yang tetap untuk menghidupi atau untuk memenuhi kebutuhannya sehingga sasaran utama dalam mencari penghasilan yaitu dari hutan walaupun jumlahnya hanya sedikit.

Tercatat pada taahun 1994 terjadi penurunan jumlah pencurian pohon, namun kerugiannya naik yaitu:

  • Tahun 1994, pencurian 1.044 pohon
  • Tahun 1993, pencurian 2.727 pohon (turun 60%)

Jumlah kerugian Rp 18.578.000,-

Sedangkan pada tahun 1994 kerugian mencapai Rp 33.881.000,-

E. HutanTanaman Pinus

1. Kondisi Umum

Hutan  sub pegunungan yang berada di kawasan KPH Banyumas Timur, BKPH Gunung Slamat Barat, RPH Baturraden dengan ketinggian 900-1500 mdpl yang memiliki ciri beriklim basah, vegetasinya selalu hijau, terdapat stratifikasi tajuk, dan dipengaruhi oleh iklim. Hutan ini merupakan peralihan dari hutan dataran rendah ke hutan pegunungan

Perum Perhutani membuat tanaman Pinus berdasarkan Surat Keputusan Direksi Perum Perhutani. Adapun tujuan pembuatan hutan Pinus adalah untuk rehabilitasi lahan, hutan lindung, dan hutan produksi. Jenis tanaman pendukung kawasan hutan KPH Banyumas Timur didominasi oleh jenis Pinus merkusii. Kelas perusahaan Pinus di KPH Banyumas Timur meliputi areal seluas 29.071,60. Kelas hutan untuk produksi seluas 22.497,80, dan kelas hutan non produksi seluas 6.573,80 ha.

2. Komponen Vegetasi

Pinus merkusii jungh et de Vries termasuk dari family pinaceae. Jenis ini memliki daerah sala, uyeum, sulu, tusam, surugi, sigi dan pimus (Samingan,1982).

Tegakan Pinus merkusii pada kebun benih hanya dimanfaatkan sebagai produksi benih karena kwalitas dari tegakan sudah terpilih melui proses pemilihan dan penelitian secara genetik maupun keadaan fisik.

Tegakan Pinus merkusii yang berada dikawasan hutan produksi yang letaknya di Serang diperuntukan untuka pemanfaatan getah secar optimal, Pinus merkusii yang berumur muda menghasilkan getah lebih banyak dari pada umur tua. Produksi getah makin menurun dengan makin tuanya tegakan pinus, hal ini sesuai dengan berkurangnya jumlah pohon perhektar sebagai akibat dilakukannya tebang penjarangan dalam rangka pemeliharaan hutan agar tetap terjaga kwalitas dan kuantitas produksi (Srijono, 1977). Selanjutnya menurut Rochidayat (1977), penjarangan tegakan pinus yang dilakukan pada tingkatan tertentu dapat meningkatkan produksi getah Pinus merkusii.

3. Komponen Satwa Liar

Jenis satwa yang kami temuakan yaitu jenis mamalia berupa musang dan bajing yang terlihat mencari makan kemudian jenis Aves (burung) hanya terdengar melalui suara tanpa melihat langsung.

4. Kondisi Fisik Lingkungan

Kondisi fisik lingkungan pada tipe hutan sub pegunungan ini yaitu jenis tanahnya Andosol, suhu rata-rata pada saat pengamatan 19-25°C dan kelembaban 70-85% topografinya berbukit-bukit dengan kemiringan 35%.

5. Sistem Pengelolaan

Hutan pinus ini dikelola langsung oleh Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah  BKPH Banyumas Timur yang bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada (UGM). Sampai saat ini sudah dilakukan penjarangan untuk meningkatkan produksi kayu maupun buah. Pohon yang dijarangi merupakan pohon yang mempunyai kondisi fisik dan genetiknya tidak baik, sedangkan pohon tinggal merupakan pohon plus. Namun pada kawasan kebun benih di daerah baturaden hanya dimanfaatkan benih yang hasilkan dari tegakan Pinus merkusii yang berdiri dan dijadikan sebagai kawasan wisata.

6. Peranan/manfaat dan Permasalahan

Peranan hutan tanaman Pinus selain sebagai pengatur tata air ( fungsi hidrologi), juga berfungsi sebagai konservasi tanah dan pemeliharaan lingkungan hidup. Pada umumnya manfaat hutan tanaman Pinus yaitu secara ekonomis yang terbagi menjadi dua yaitu hasil kayu dan non kayu. Sifat-sifat yang menguntungkan dari Pinus seperti mudah dikerjakan, mempunyai penampilan yang menarik dan dapat diawetkan dengan mudah. Sehingga membuat kayu Pinus dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, sedangkan untuk hasil hutan non kayu berupa getah yang bisa diolah menjadi golongan dan terpentin. Fungsi utama dari hutan Pinus adalah sebagai kebun benih.

Permasalahan yang dapat ditemukan di hutan tanaman Pinus adalah pemasaran kayu pinus yang masih terbatas yang berada dikawasan produsi dan terhambatnya pertumbuhan pohon Pinus karena pengaruh iklim dan hidrologi tanah yang kurang teratur serta produksi getah yang tidak tetap pada masa panen getah. Selain itu juga permasalahan mengenai produksi buah yang terkadang tidak dapat memenuhi kebutuhan yang telah ditargetkan oleh Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah Baturaden.

F. Hutan Tanaman Agathis

1. Kondisi Umum

Perum Perhutani membuat tanaman Pinus berdasarkan Surat Keputusan Direksi Perum Perhutani. Adapun tujuan pembuatan hutan Pinus adalah untuk rehabilitasi lahan, hutan lindung, dan hutan produksi. Jenis tanaman pendukung kawasan hutan KPH Banyumas Timur didominasi oleh jenis Pinus merkusii. Terletak pada petak 55a tempat kelompok 3 melakukan pengamatan dengan ketinggian 1200 mdpl. Kelas perusahaan Pinus di KPH Banyumas Timur meliputi areal seluas 29.071,60 ha. Kelas hutan untuk produksi seluas 22.497,80 ha, dan kelas hutan non produksi seluas 6.573,80 ha.

2. Komponen Vegetasi

Pada umumnya vegetasi yang terdapat di hutan tanaman berjenis homogen (Agathis loranthifolia) dengan jumlah individu 123 pohon dengan arela pengamatan 3 plot, jari-jari plot 17.8 meter. Analisis data yang dihasilkan: kerapatan (Ind/ha) yaitu 1230 Indv/ha, kerapatan relatif (%) yaitu 100%, frekuensi (F) yaitu 1, frekuensi relatif (%) yaitu 100%, LBDS yaitu 14,099 m3/ha, dominansi (D) yaitu 14,099, dominansi relatif yaitu 100% dan jumlah INP yaitu 300%. Kemudian diameter rata-rata yaitu 37,011 cm/plot dan tinggi total rata-rata yaitu 18,26 m/plot. Keadaan pohon Agathis selalu diamati oleh pihak perum perhutan (Polisi hutan) agar tidak terjadi permabahan hutan yang mengakibatkan menurunnya jumlah produksi kayu, hasil hutan dan non kayu.

3. Komponen Satwa Liar

Satwa liar yang kami temukan hanya berupa suara Aves (burung) yang berada diranting Agathis sehingga tidak mengenali secara jelas.

4. Kondisi Fisik Lingkungan

Hutan tanaman Agathis ini jika di lihat dari segi umur tegakannya merupakan suatu tegakan yang sudah cukup tua yang mulai ditanami pada tahun 1972 hingga kini tahun 2006.  Hutan tersebut teletak pada ketinggian 1200 mdpl, dengan keadaan kondisi tofografi yang relatif berbukit-bukit.  Jenis tanah di kawasan ini adalah dari jenis tanah Andosol dengan kriteria tanah  yang berwarna coklat tua, tanah sedikit gembur dan mengandung lempung, kadar keasaman tanah dengan pH ≤ 7 yang berarti tanah tersebut bersifat netral dan masam. Suhu udara sebesar 23.5º C untuk bola kering dan 24.5º C untuk bola basah dan kelembaban sekitar 75-80 %.

5. Sistem Pengelolaan

Hutan tanaman Agathis berfungsi sebagai hutan produksi dan untuk pengelolaannya langsung ditangani oleh Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah BKPH Banyumas Timur yang bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada dan dilakukan secara intensif. Dengan pola penjagaan kelestarian keanekaragaman yang berada didalamnya sehingga terjadi kasus perambahan dari para pemburu satwa liar dan pencuri kayu serta hasil hutan.

6. Peranan/manfaat dan Permasalahan

Peranan  atau manfaat hutan tanaman agathis dibedakan menjadi dua macam yaitu tangiable dan intangible. Yang dimaksud dengan manfaat tangiable yaitu hasil kayu dan non kayu berupa getah dari pohonnya. Sedangkan manfaat intangible yaitu sebagai pengatur tata air, membuka lapangan pekerjaan dan lain-lain. Selain itu hutan tanaman Agathis ini juga berperan sebagai penyangga sistem kehidupan dan menjaga siklus hidrologi di sekitar hutan.

Permasalahan yang timbul pada kawasan hutan Agthis yaitu perambahan liar, pencurian kayu dan hasil hutan serta pemburuan satwa liar. Sehingga perlu adanya penjagaan dan pengawasan yang ekstra daripada polisi hutan dikawasan hutan Agthis.

G. Lain-Lain

1. Kawasan Wisata Baturraden

KONDISI UMUM WISATA

A. Keadaan Umum Kawasan Obyek Wisata Baturraden

Wana Wisata Baturraden (WWB) terdiri dari obyek wisata Bumi  Perkemahan, Pancuran Tiga, Pancuran Tujuh, dan Telaga Sunyi. Keempat obyek ini mempunyai kekuatan daya tarik yang bertumpu pada panorama dan kesejukan udara hutan Damar dan Pinus di lereng gunung Slamet. Selain itu, keempat oyek wisata tersebut memiliki sarana penginapan, yaitu wisma Baturadden, silva, serta Pesanggrahan Pancuran Tujuh. Pesanggrahan Pancuran Tujuh saat ini perlu dilakukan perbaikan karena keadaannya kurang terawat.

Wana wisata Pancuran Tujuh yang merupakan obyek wisata alam dan wisata husada (pengobatan) yang kekuatan daya tarik utamanya berupa sumber air panas belerang, panorama di pedesaan di lereng gunung Slame, panorama gunung Cendana Sari dan gunung Bunder, tempat ziarah, lintas hutan indah, adn lain sebagainya.

Wana wisata Pancuran Tiga juga menawarkan daya tarik berupa sumber air panas belerang, panorama dan kesejukan udara hutan Damar dan Pinus, curug atau air terjun di tengah hutan (curug Gumawang dan curug Pancuran Tiga), lintas hutan indah dan lain sebagainya.

Wana wisata Telaga Sunyi yang merupakan obyek wisata alam dengan kekuatan daya tarik utamanya bertumpu pada panorama dan kesejukan udara htan Damar dan Pinus, sungai dengan telaga kecil yang berair bening dan melimpah, areal permainan anak-anak, pusat persemaian tanaman Pinus dan sebagainya. Lokasi keempat obyek wisata tersebut berada di lereng kaki gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah.

B. Letak Geografis dan Keadaan Alam

Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan, WWB berada dalam kecamatan Baturadden kabupaten Banyumas, dan pintu gerbang Timur WWB di Serang masuk dalam wilayah kecamatan Karangreja kabupaten Purbalingga.

  1. Batas

Batas oyek wisata alam yang berada di dalam kawasan Baturadden dan sekitarnya, yang terdiri dari Bumi Perkemahan, Pancuran Tujuh, Pancuran Tiga, dan Telaga Sunyi adalah :

-         Sebelah Utara               : Gunung Slamet

-         Sebelah Selatan            :Kecamatan BaturraDEN Kabupaten Banyumas

-         Sebelah Barat               : RPH Karanggandul

-         Sebelah Timur : RPH Serang

  1. Topografi dan Ketinggian

Topografi obyek wisata alam Baturraden pada umumnya bergelombang, karena keseluruahn obyek wisata alam terletak di daerah pegunungan atau perbukitan. Ketinggian dari permukaan laut berkisar antara 2 – 2000 mdpl dengan rincian :

  • Pancuran Tujuh : 700 – 900 mdpl dengan kemiringan lebih dari 15% ke arah Selatan
  • Pancuran Tiga   : 600 – 850 mdpl dengan kemiringan lebih dari 15% ke arah Selatan
  • Telaga Sunyi     : 600 – 800 mdpl dengan kemiringan lebih dari 15% ke arah Selatan
  • Pintu Gerbang Serang : Terletak pada ketinggian 900 mdpl.

C. Iklim

Kondisi iklim sangat dipengaruhi oleh suhu udara, curahn hujan pengaruh angin dan letak geografis. Berdasarkan tipe iklim Schmidht dan Ferguson, iklim di Baturraden tergolong ke dalam tipe , yaitu hujan tropis basah, dimana suhu rata-rata berkisar antara 18º – 33º C, dengan curah hujan tahunan rata-rata 3321 mm.

  1. Suhu udara

Suhu udara di obyek wisata alam Baturraden pada umumnya sejuk karena merupakan obyek wisata pegunungan. Adapun rinciannya sebagai berikut :

-         Bumi Perkemahan Baturraden   : 20º – 25º C

-         Telaga Sunyi                                         : 20º – 25º C

-         Pancuran Tujuh                                     : 20º – 25º C

-         Pancuran Tiga                                       : 20º – 25º C

  1. Curah hujan

Pada umumnya curah hujan termasuk tinggi, yaitu berkisar antara 5000 – 6000 mm/tahun. Dengan rincian sebagai berikut :

-          Bumi Perkemahan Baturraden : ± 5000 mm/ tahun

-         Telaga Sunyi                                         : ± 5000 mm/ tahun

-         Pancuran Tujuh                                     : ± 5000 – 6000 mm/ tahun

-         Pancuran Tiga                                       : ± 5000 – 6000 mm/ tahun

  1. Pengaruh iklim terhadap waktu kunjungan

Unsur pengaruh iklim ini dibagi menjadi empat kriteria, yaitu obyak dalam satu tahun dapat dikunjungi salama 10 – 12  bulan, 4 – 6 bulan, dan 4 bulan. Untuk obyek wisata alam Baturraden termasuk dalam kriteria dapat dikunjungi 10 – 12 bulan dalam satu tahunnya. Hal ini karena iklim sama sekali tidak berpengaruh terhadap waktu kunjungan, sehingga setiap obyek wisata di Baturraden dapat dikunjungi sepanjang musim.

  1. Tersedianya air bersih

Pada umumnya semua obyek wisata Baturradden termasuk dalam kriteri mudah dalam hal ketersediaan air yang dialirkan ke obyek wisata atau mudah dikirim ke tempat lain. Untuk obyek wisata alam di wilayah KPH Banyumas Timur, jarak sumber air terhadap lokasi obyek berjarak antara 0 – 3 km. Berikut rincian debit air ( liter / detik ) :

  • Bumi Perkemahan Baturraden debit airnya antara 0,5 liter / detik.
  • Wana wisata Telaga Sunyi debit airnya 2 liter / detik.
  • Wana wisata Pancuran Tujuh debit airnya lebih dari 2 liter / detik.
  • Wana wisata Pancuran Tiga debit airnya antara 1 – 2 liter / detik.

D. Daya Tarik

1. Keindahan alam

Berdasarkan pada keindahan alam dengan kriteria pandangan lepas atau variasi pandangan si dalam obyek, keserasian warna dan bangunan dalam obyek, kesantaian suasana dalam obyek dan pandangan lingkungan obyek, maka oyek wisata lama Baturraden memenuhi seluruhnya. Misalnya pandangan lepas atau variasi pandangan di dalam obyek dapat ditemui pada kawasan Bumi Perkemahan, keserasian warna dan bangunan dalam obyek dapat ditemui di seluruh obyek, pandangan lingkungan obyekdapat ditemuio di seluruh obyek wisata.

2. Keunikan sumberdaya alam

Keunikan sumeberdaya alamn didasarkan pada empat kriteria, yaitu ke unikan skala internasional, keunikan skla nasional, keunikan skala regional, dan keunikan skala lokal, yaitu tingkat kabupaten, yang berupa hutan, air terjun, sumber air panas dan panorama alam.

  1. Keutuhan sumberdaya alam

Keutuhan sumberdaya alam memiliki empat unsur, yaitu geologi, flora, fauna, dan lingkungan (ekosistem). Untuk keutuhan sumberdaya alam obyek wisata alam Baturraden, sub unsurnya dalam keadaan utuh, karena selama pengusahaan obyek wisata tidak terjadi pengrusakan pada keempat unsur keutuhan tersebut.

  1. Tersedianya sumberdaya alam

Keberadaan sumberdaya alam di WWB memiliki empat unsur nilai, yaitu nilai pengetahuan, nilai kebudayaan, nilai pengobatan, dan nilai kepercayaan. Untuk obyek wisata alam Baturraden, keempat unsur ini memiliki seluruhnya. Nilai pengetahuan dapat ditemui di seluruh obyek wisata berupa nilai perngetahuan dan jenis tegakan hutan, jenis produksi hutan dan ilmu biologi secara luas. Nilai kebudayaan dapat ditemui di Pancuran Tujuh dan Pancuran Tiga dengan upacara – upacara ritual kebudayaan dan kepercayaan. Nilai pengobatan dapat ditemui di Pancuran Tujuh dan Pancuran Tiga, berupa sumber air panas belerang yang dipercaya dapat mengobati penyakit kulit dan rheumati. Nilai kepercayaan dapat dijumpai di Pancuran Tujuh dan Pancuran Tiga berupa petilasan dan ziarah.

5. kegiatan dan kesempatan rekreasi

Kegiatan dan kesempatan untuk berekreasi di obyek wisata alam Baturraden memilih tujuh pilihan kegiatan :

  • Berkemah di Bumi Perkemahan Baturraden,
  • Mandi air hangat belerang di Pancuran Tiga dan Pancuran Tujuh,
  • Lintas hutan indah di WWB
  • Kegiatan sakral atau ziarah di Pancuran Tiga dan Pancuran Tujuh,
  • Fotografi alam di seluruh obyek wisata.
  • Bercengkrama bersama keluarga atau duduk santai dapat dilakukan di Bumi Perkemahan dan Telaga Sunyi,
  • Mengunjungi daerah pedesaan yang terletak tepat di bawah kaki gunung Slamet, dapat dilakukan di Serang serta Dukuh Kalipagu-Ketengger, dekat Pancuran Tujuh.

6. Kebersihan udara  dan lokasi

Kebersihan udara dan lokasi tersiri dari tujuh unsur, yaitu : alam, industri, jalan ramai motor, pemukiman penduduk, sampah binatang dan vandalisme. Untuk obyek wisata alam Baturraden, kebersihan kawasan biasanya hanya dipengaruhi oleh daun kering, serasah, dan sampah yang berasal dari pengunjung, terutama pengunjung usia muda.

E. Potensi Pasar

Jumlah dan kepadatan penduduk yang berpotensi menjadi potensi pasar adalah penduduk yang berada dalam radius 75 km dari obyek wisata, yaitu penduduk kabupaten Banyumas dan Purbalingga di samping dari daerah lain di propinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur serta sedikit wisatawan dari luar negeri. Berdasarkan xatatan yang ada, jumlah wisatawan yang datang ke wilayah dua kabupaten tersebut dalam lima tahun terakhir ini adalah tahun 1996 sebanyak 620.837 orang, tahun 1997 sebanyak 546.081 orang, tahun 1998 sebanyak 535.729 oran, tahun 1999 sebanyak 718.468 orang, dan tahun 2000 sebanyak 965.697 orang.

F. Sarana dan Prasarana Penunjang

Sarana dan prasarana penunjang yang berada dalam radius dua kilometer dari obyek, terdiri dari prasarana dan sarana, fasilitas khusus, dan fasilitas kegiatan.

1)      Prasarana terdiri dari kantor pos, kantor kawat/ telegram, telepon umum, puskesmas/ klinik. Untuk wana wisata Baturraden, Bumi Perkemahan, Pancuran Tiga, dalam radius 2 km dari obyek, terdapat keempat unsur prasarana tersebut di sekitar terminal Baturraden. Untuk wana wisata Pancuran Tujuh, Telaga Sunyi dalam radius 2 km dari obyek wisata tidak dapat ditemui keempat unsur prasarana tersebut.

2)      Sarana penunjang terdiri dari rumah makan, pusat perbelanjaan, bank, toko, souvenir. Untuk Bumi Perkemahan dan Pancuran Tiga, dalam radius 2 km dicukupi dengan sarana penunjang yang terletak di sekitar terminal Baturraden, kecuali pusat perbelanjaan. Sedangkan untuk wana wisata Pancuran Tujuh dan Telaga Sunyi dalam radius 2 km dari objek tidak ditemui 4 sarana penunjang tersebut.

3)      Unsur fasilitas khusus terdiri dari fasilitas anak-anak, fasilitas khusus orang tua, fasilitas khusus orang cacat. Bumi Perkemahan, Pancuran Tiga, Pancuran Tujuh, Telaga Sunyi dalam radius 2 km dari objek terdapat dua macam unsur fasilitas khusus yang terletak didalam objek kecuali untuk orang cacat.

4)      Khusus untuk fasilitas kegiatan, minimal harus dapat digunakan untuk 10 orang. Pada umumnya seluruh objek wisata Baturraden memiliki 1 – 3 macam fasilitas hutan indah / jogging yang berupa jalan setapak, Bumi Perkemahan, kamar mandi air panas di Pancuran Tiga dan Pancuran Tujuh, dan lain sebagainya. Dapat digunakan unutk 10 orang.

5)      Saran dan prasarana dan olah raga

Sarana prasarana rekreasi dan oleh raga yang terdapat wisata alam Baturraden antara lain adalah :

  • Lapangan tenis di dekat Bumi Perkemahan Baturraden
  • Mainan anak-anak yang terdapat di seluruh objek wisata alam berupa ayunan, jungkit-jungkit, tangga majemuk dan papan luncur.
  • Kolam rendam dan kamar mandi ( tertutup dan terbuka ) air panas belerang di Pancuran Tiga /  Tujuh.
  • Lapangan rumput hijau di Bumi Perkemahan Baturraden.
  • Jalur Lintas indah di wana wisata Bumi Perkemahan Baturraden.

6) . Sarana dan prasana keamanan dan pengaman

Sarana prasarana keamanan dan pengamanan yang terdapat di wisata alam Baturraden antara lain adalah jaminan ansuransi kecelakaan di semua objek wisata alam, rambu-rambu jalan, papan petunjuk dan larangan, pagar pembatas/ pegangan pada beberapa ruas jalan setapak yang berbahaya di wana wisata Pancuran Tujuh, pengerasan jalan setapak dengan batu/ semen yang dibangun pada beberapa ruas jalan setapak yang berbahaya di Pancoran Tujuh.

7) . Sarana dan Prasana Pengunjung

Sarana dan prasarana pengunjung yang terdapat di objek wisata Baturraden antara lain : Shelter, tempat parkir, MCK, musholla, loket dan pintu gerbang, bangunan atau ruang informasi, papan publikasi, gardu jaga dan penginapan.

TENTANG KONSERVASI KAWASAN WANA WISATA BATURADEN

  1. Teori strategi Pengembangan Pendidikan Konservasi.

Kerangka pengembangan pendidikan konservasi dan lingkungan hidup harus berlandaskan pada beberapa kesepakatan penting yang patut dihayati dan dipahami, seperti dikemukakan Walinono (1990), yakni :

  1. Bahwa kita memang menyadari dan peduli serta merasa terpanggil untuk turut menyumbangkan diri pada upaya mengurangi kemerosotan SDA dan pencemaran serta perusakan lingkungan hidup, serta mempersempit kesenjangan dan ketidakmerataan sosial ekonomi budaya dalam kehidupan manusia baik pada tingkat global, nasional, dan lokal.

2. Bahwa krisis hubungan timbal balik antara manusia (penduduk) dan SDA/LH pada dasarnya adalah krisis sosial politik dan sistem ekonomi yang dikembangkan manusia. Oleh karena itu, masalah ligkungan hidup atau sumber daya alam pada tingkat global, nasional, serta lokal itu muncul, namun pada akhirnya manusia juga yang menderita. Sehingga pendidikan yang dikembangkan harus memberi visi, misi dan arah yang lebih menjanjikan.

3. Bahwa keberhasilan pelaksana pendidikan memerlukan pendidikan tentang tangung jawab manusia terhadap keberlanjutan kehidupan di bumi. Sehingga ruang lingkup pendidikannya tidak hanya meliputi pendidikan formal (jalur sekolah) saja, melainkan memerlukan juga pendidikan non formal dan informal (jalur luar sekolah) pada masyarakat secara luas. Seluruh pelaku pendidikan mempunyai peranan strategis dalam memantapkan visi, misi, dan orientasi hidup manusia.

  1. Pengertian Wana Wisata

Wana wisata adalah obyek-obyek wisata alam yang lokasinya berada di hutan lindung atau hutan produksi, yang termasuk di dalamnya kawasan Perhutani (Perhutani, 1980). Berdasarkan kegiatannya wana wisata yang dikembangkan oleh PT. Perhutani dibedakan menjadi dua macam (Perhutani,1988), yaitu :

  1. Wana wisata bermalam, yaitu tempat untuk menginap atau bermalam, contohnya Bumi Perkemahan.
  2. Wana wisata tak bermalam (day recreation), yaitu lapangan terbuka dengan sekedar fasilitas, antara lain bangku-bangku piknik.

Menurut PHPA (Pelestarian Hutan dan Perlindungan Alam), 1988 pola pengembangan wana wisata yang dianut PT. Perhutani adalah :

  1. Pengembangan obyek rekreasi hendaknya sesederhana mungkin dan diusahakan dapat mempertahankan bentuk dan keadaan aslinya.
  2. Jenis rekreasi yang dibangun dapat memenuhi berbagai motivasi dan dapat dijangkau oleh golongan masyarakat ekonomi lemah.
  3. Obyek rekreasi mengandung segi-segi rekreasi, edukasi (pembinaan cinta alam) dan olah raga.

Menurut PHPA, 1988 kecuali dua macam kegiatan wana wisata bermalam dan tak bermalam, tempat tersebut dapat dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan :

  1. Lintas jalan kaki, yaitu selebar ± 2 m untuk jalan kaki yang tidak sukar sehingga orang dapat berjalan dengan santai selama kurang lebih 1,5 jam.
  2. lintas hutan indah, jalur jalan kaki yang disediakan dengan tujuan menikmati, mempelajari, dan mengkaji keadaan alam, fenomena hutan, flora dan fauna dan sebagainya yang terdapat di kanan kiri jalur jalan setapak dan hutan.
  3. penangkaran hewan.
  4. perlindungan bahaya, misal : jurang, tanah longsor, hewan berbahaya, dll.
  5. Ekowisata dan Pendidikan

Menurut Black (1999), pendidikan dan interpretasi merupakan elemen penting dalam kegiatan ekowisata dan dapat diberikan kepada pengunjung dan menggunakan beebagai tipe media oleh pelaksana industri wisata, oleh taman-taman wisata atau taman nasional dan oleh masyarakat lokal. Jika ekowisata dimaksudkan untuk mempromosikan suatu perjalanan yang bertanggung jawab maka penyelenggara ekowisata harus mempunyai atau berbekal pendidikan tentang kawasan yang akan ditawarkan tersebut.

Kegiatan ekowisata biasanya berkaitan erat dengan pembelajaran dan kesadaran lingkungan. Bragg (1990) dalam Black (1999) berpendapat bahwa ” ekowisata melibatkan apresiasi aktif, pendidikan dan interpretasi lingkungan dan kekuatan kesadaran ligkungan, perhatian dan komitmen melalui peningkatan pemahaman dan apresiasi terhadap alam”. Interpretasi merupakan jembatan antara pengunjung dan sumberdayaq, sehingga pengunjung yang datang di suatu kawasan dapat ikut merasakan, mengerti adn memahami tentang sumberdaya alam yang didatanginya beserta dengan cerita-cerita rakyatnya, cerita mistikny, dan sebagainya baik secara ilmiah dengan cara menarik. Proses pembelajaran dalam kegiatan ekowisata akan menjadi seseorang mendapatkan kesadaran dan pengetahuan alami bersama dengan aspek kebudayaannya dapat mengubah seseorang yang akan ikut terlibat aktif dengan masalah-masalah konservasi.

Menurut Black (1999), kegiatan pariwisata alam seringkali melibatkan partisipasi aktif dari pengunjung, pada kegitan tersebut pengunjung diizinkan umtuk ikut secara aktif berapresiasi dan berperan dalam kegiatan konservasi sumberdaya alam dan budaya. Pendidikan interpretasi sebagai bagian dari kegiatan ekowisata memiliki potensi untuk membuat orang sadar dan aktif terlibat dalam masalah lingkungan dan unutk mengetahui tingkah laku mereka secara jangka panjang. Berdasarkan konteks pariwisata alam, interpretasi dan pendidikan dapat menjadi dua kebijakan berbeda yang akan mememenuhi keinginan pengunjung akan informasi. Pengunjung ingin belajar tentang lingkungan yag mereka kunjungi, sehingga mereka akan lebih memperhatikan lingkungan hidupnya sehari-hari. Pendidikan dan interpretasi memiliki peranan penting dalam ekowisata.

Sejarah WWB

a. Wana Wisata Baturraden

Baturreaden dikenal sebagai tempat pariwisata atau tempat peristirahatan sejak tahun 1928. pada waktu itu banyak pegawai pabrik gula ( Hegeren ) dari Purwokerto, Sumpiuh, Kalibogor, Bojong ( Purbalingga , dan Klampok membangun rumah peristirahatan untuk keperluan pribadi. Karena terus berkembang, akhinya pada masa revolusi fisik oleh pihak Republik di bumi hanguskan.

Satu-satunya peninggalan yang masih utuh hingga sekarang adalah induk taman ternak yang pada saat itu adalah milik seorang belanda yang bernama J.C. Balgooy. Karena sudah sejak jaman Belanda, Baturraden sudah mempunyai daya tarik. Walaupun sudah dibumihanguskan, tetapi kenangan sebagai tempat rekreasi masih melekat di hati anak-anak sekola. Pada hari libur banyak anak-anak sekolah datang ke Baturraden untuk melihat induk taman ternak yang pada saat itu masih lengkap dan terpelihara di mana terdapat jenis-jenis ayam ras, babi, lembu perah, dan domba gibas.

Keberadaan daya tarik Baturraden masih melekat pada masyarakat Banyumas, maka pada tahun 1952 tumbuh pemikiran-pemikiran untuk menghidupkan kembali Baturraden sebagai tempat rekreasi. Namun baru pada tahun 1967, hal tersebut dapat terealisasai atas prakarsa Bupati Kepala daerah Tk. II Banyumas.

Sesuai dengan surat keputusan Dirjen Pariwisata No. 02/kpts/1169-Par, tertanggal 6 November 1969 tentang ketentuan-ketentuan pokok mengenai Badan Pengembangan Pariwisata, maka pada tanggal 1 Mei 1970, proyek pariwisata Baturraden Banyumas diserahkan kepada pemerintah Daerah Tingkat II Banyumas. Semenjak itu pula pengembangan pariwisata Baturraden ditunjang dengan Angggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ( APBD ) Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas sampai sekarang.

b. Asal Nama Baturraden

Tidak ada bukti otentik dan catatan sejarah yang menyebutkan riwayat pembentukan nama Baturraden, tetapi legenda yang hidup suburdi tengah masyarakat Banyumas dan sekitarnya menyebutkan ada tiga versi yang dianggap menjadi landasan penamaan Baturraden.

Versi yang pertama adalah versi Kadipaten Kutaliman. Kurang lebih 10 km Barat Daya Baturraden, terdapat Kadipaten Kutaliman di mana Sang Adipati gemar memelihar kuda dan mempunyai empat orang putri. Salah satu putri tersebut diam-diam menyukai seorang pemeligara kuda. Mendengar hal ini Sang Adipati kemudian murka dan menyuruh keduanya untuk pergi dari Kadipaten. Ketika kedua sejoli itu sampai di sebuah desa, menikahlah mereka dan beberapa waktu kemudian sang putri hamil dan melahirkan bayi laki-lak. Di dalam pengembaraan, mereka akhirnya menemukan satu tempat yang sangat indahpemandangannya dan menetaplah mereka disitu. Tempat tersebut diberi nama Baturraden untuk memperingati terjadinya pertalian antara seorang Batur dengan seorang Raden dan bangsawan.

Versi kedua adalah versi Syech Maulana Maghribi. Versi ini menceritakan pengembaraan Syech Maulana Maghribi dalam mengembangkan ajaran agama Islam di Jawa. Beliau telah melakukan perjalanan dari negara Rum sampai pulau Jawa dengan berlayar dan memakan waktu 40 hari 40 malam. Dengan ditemani sahabatnya Haji Datuk yang setia, akhirnya sampai di Gunung Slamet dan menemukan sumber air panas yang berkhasiat dapat menyembuhkan bermacam-macam penyaklit kulit, yang sampai sekarang ini dikenal dengan nama Pancuran Tujuh. Dalam rangka menghargai kesetiaan Haji Datuk yang mendampingi misi Syech Maulana Maghribi ( yang dipanggil dengan nama Ayang Atas Angin ) selama itu, maka kawasan pemukimannya dinamakan Baturraden sebagai tanda bahwa di situ pernah berdiam seorang Adi. Jadilah Batur Adi ( teman yang baik ) yang lama kelamaan diucapkan menjadi Baturraden. Di sebelah Barat lokasi Pancuran Tujuh terdapt nisan putih tersembunyi dalam pagar dan dinding bambu sempi, ada yang mengatakan itu makam Eyang Atas Angin, namun keberadaannya terserah bagi yang percaya saja. Kenyataannnya sampai saat ini., makam tersebut dianggap keramat di mana setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon banyak dikunjungi para penziarah dan bermeditasi di makam tersebut dengan membawa sesajian sesuai tradisinya.

Versi ketiganya, yaitu versi Raden Kamandaka. Legenda Kamandaka hidup subur dan diakui menjadi legenda rakyat Banyumas dan sekitarnya. Konon, Baturraden ada sangkut pautnya dengan tokoh Raden Kamandaka seorang putra Raja Pajajaran yang dalam usanya mempersunting Dewi Ciptarasa putri bungsu Adipati Pasir Luhur telah menerima lamaran Prabu Liwus Bahas dari kerajaan Pule Bahas yang berdomisili di Pulau Nusakambangan. Penerimaan lamaran tersebut dilakukan secara terpaksa karena Adipati Pasir Luhur diancam agar menerima lamaran itu. Adapun Prabu Liwus Bahas digambarkan sebagai raja berkarakter raksasa namun dia dapat tewas di tangan Lutung Kasarung. Setelah itu, lutung tersebut berubah wujud kembali menjadi Raden Kamandaka dan akhirnya dapat menyunting Dewi Ciptarasa. Raden Kamandaka senang bertandang dan menyepi di daerah yang sekarang bernama Baturraden. Di tempat penyempiannya ini, raden Kamandaka ditungui oleh seorang pembantu ” Batur yang pada akhir hayatnya pembantu tersebut disemayamkan di situ. Jadi, nama Baturraden berarti Pembantu Sang Raden.

Tabel 1 : Potensi alam yang dapat menunjang materi pendidikan konservasi di Wana Wisata Baturraden.

No Klasifikasi wwb
1 Satwa menarik dan relatif mudah di temui atau dilihat Terukur (Streptopolia chinensis), kutilang (Pycnonotus aurigaster), Pipit (Lonchura leuchogastroides), Cepluk Wallace (Otus silvicola), Owa jawa (Hylobates moloch), berbagi jenis burung, dan kupu-kupu.
2 Tumbuhan yang menarik dan mudah ditemui Damar (Agathis dammara), Pinus (Pinus merkusii), Rasamal (Altingia excelsa), Pakis haji (Cycas rumphii), Cengkeh (Eugenia aromatica).
3 Flagship species Damar (Agathis dammara), Pinus (Pinus merkusii).
4 konsep ekologi pada tingkat jenis Adaptasi, penyerbukan dan penyebaran biji, habitat, spesies langka, teritori, rantai makanan, populasi.
5 Proses-proses ekologi Siklus hara, distribusi, suksesi, kompetisi, interaksi.
6 Keanekaragaman ekosistem Ekosistem hutan hujan tropis
7 Lokasi bernilai sejarah Petilasan di Pancuran Tujuh, dan Petilasan di Pancuran tiga.
8 Geomorfologi Telaga, gua, air terjun, pancuran air panasbelerang
9 Aktivitas manusia fungsi lingkungan kawasan, etika konservasi, peraturan berkunjung, dampak aktivitas manusia, pemanfaatan tumbuhan, tanaman hias, interaksi antara masyarakat dengan kawasan .

Beberapa jenis satwa dan tumbuhan di dalam kawasan WWB mempunyai potensi yang bisa mendatangkan wisatawan. Pengenalan jenis yang dipadu dengan kegiatan-kegiatan atau paket-paket pendidikan konservasi bisa ditawarkan secara langsung di dalam kawasan, khususnya di Bumi Perkemahan. Areal Bumi Perkemahan cukup luas dan lebih terlihat open space yang bernuansa alam kebun raya. Pengetahuan, kesadaran, perilaku, dan sikap pengunjung dapat terlihat dalam kegiatannya di dalam kawasan rekreasi Bumi Perkemahan Baturraden. Beberapa jenis tumbuhan yang mudah ditemui diantaranya pohon Damar dan Pinus.

Flagship species atau spesies penciri adalh spesies berupa satwa atau tumbuhan yang mempunyai nilai konservasi tinggi atau mempunyai sifat karismatik untuk menggugah perasaan orang agar ikut berpartisipasi mendukung upaya konservasi. Maksud dari pemberian status spesies pencir adalah untuik memperkenalkan ciri khas kawasan tersebut dengan adanya spesies tersebut. Sebagai contoh, kawasan WWB terkenal dengan hutan Damarnya, sehingga pohon Damar bisa disebut sebagai spesias yang memperkenalkan kawasan tersebut. Pohon Damar sangat mudah ditemukan, upaya konservasi yang dilakukan oleh pihak pengelola ( PT. Perhutani ) adalah dengan membuat persemaian tanaman Damar tahun 2003, dengan luas 0,2388 hektar areal Bumi Perkemahan.

Konsep ekologi seperti adapatasi, penyerbukan, penyebaran biji, habitat, spesies langka, rantai makanan, dan lain-lain serta proses-proses ekologi seperti siklus hara, suksesi, kompetisi, interaksi.

Perencanaan suatu kegiatan merupakan tahap awal unutk menentukan apa tema yang ajan dikerjakan, siapa pelaksanya, siapa sasarannya, bagaiman kesiapan pelaksaan tersebut, di mana lokasi pelaksanaan kegiatan tersebut, siapa yang menanggung biaya tersebut, serta siaoa yang akan bertangggung jawab akan kegiatan tersebut. Perencanaan dapat dihasilkan sampai pada tahap tema kegiatan kegiatan yang akan dilaksanakan. Diharapkan nantinya dapat digunakan dalam membantu penyusunan masterplan kegiatan pendidikan konservasi di WWB.

Dalam pengembangan program pendidikan konservasi di WWB, pihak pengelola wisata alam yaitu PT. Palawi harus membuat suatu kebijakan atau peraturan-peraturan yang dapat melindungi keberadaan sumberdaya alam dari kerusakan akibat dari perilaku pengunjung dan masyarakat. Kebijakan-kebijakan yang berlaku di WWB ini, tidak terlepas dari kebijakan yang diberlakukan oleh pengelola kawasan hutan di Baturraden, yaitu pihak Pt. Perhutani. Adapun kebijakan-kebijakan ini bersifat umum sesuai dengan strategi konservasi. Kebijakan-kebijakan serta peraturan yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan konservasi di WWB,  dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

  1. Keputusan Direksi PT. Perhutani ( Persero ) No. 66/Kpts/Dir 2002 dari Dirut Perhutani : Landasan pembentukan anak perusahaan wisata PT. Palawi di WWB.
  2. Keputusan Direksi PT. Perhutani ( Persero ) No. 859/Kpts/Dir/1999, tgl. 6 Okt 1999 dari Direksi PT. Perhutani: Pedoman Pengolahan Kawasan Lindung di Kaawasan Hutan Perum Perhutani.
  3. Keputusan Kepala Unit I PT. Perhutani ( Persero ) Jawa Tengah No.2005/Kpts/1/2001 dari PT. Perhutani Unit I Jawa Tengah : Petunjuk Pelaksana Pengolaan Kawasan Lindung.
  4. UU No. 41 tahun 1999 dari Pemerintah : Undang-undang Pokok Kehutan Republik Kehutanan Republik Indonesia.
  5. S.K Dir. Perum Perhutani No. 968/Kpts/Dir/1999, tgl 15 Des 1999 dari PT. Perhutani ( Persero ) : Pedoman Pengelolaan Tebang Habis Hutan Rimba
  6. Keputusan Direksi Perum Perhutani No. 2638/kpts/Dir/1997, tgl 16 Juni 1997 dari PT. Perhutani ( Persero ) : Pedoman Pengelolaan Hutan Produksi Terbatas
  7. Keputusan Dir Perum Perhutani No. 259/kpts/Dir/2000 dari PT. Perhutani ( Persero ) : Pedoman Konservasi pada Hutan Produksi Perum Perhutani.
  8. UU RI No. 5 thn 1990 dari pemerintah : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya
  9. UU RI No. 23 thn 1997 dari pemerintah : Pengelolaan Lingkungan Hidup

10.  Tujuan Pendidikan Lingkungan dari Pengelola : Kebijakan yang tidak tertulis secara resmi.

Kebijakan-kebijan tersebut dianggap sesuai dengan prinsip kebijakan pengelolaan kawasan konservasi secara umum, yaitu :

1. Penetapan kawasan hutan tetap, peningkatan mutu, dan produktifitas hutan negara dan hutan rakyat.

2. peningkatan efisiensi dan produktifitas pengelolaan hutan dan pengelolaan hasil hutan.

3. peningkatan peran serta masyarakat, penanggulangan kemiskinan, dan peningkatan pendapatan daerah tertinggal.

4. Pelestarian hutan dan ekosistem.

Dalam strategi konservasi sumberdaya alam hayati secasr umum disebutkan bahwa dalam rangka pelestarian, pengawetan, dan pemanfaatan kawasan konservasi terdapat tiga tahapan utama yaitu save ( menyelamatkan ), study ( mempelajari ), use ( memanfaatkan ). Kawsan WWB pada saat ini harus lebih ditekankan pada tahap study dan use. Sistem pengamanan yang ada di dalam kawasan Baturraden sudah dianggap cukup baik dalam melindungi sumberdaya alam yang ada. Prosedur pengamanan yang ada masih sebatas pengamanan wilayah hutan yang dilakukan oleh PT. Perhutani, yaitu dengan melakukan patroli dan penyuluhan kepada masyarakat sekitar hutan untuk serta menjaga dan melindungi keberadaan hutan di Baturraden.

Persepsi masyarakat sekitar tentang keamanan hutan di WWB menyatakan bahwa kawasan hutan di Baturraden sudah cukup aman dari masalah pencurian kayu. Walaupun masih ada kegiatan pencurian kayu, tapi dalam intensitas yang kecil sekali. Sanksi yang diterapkan oleh pihak pengelola juga sangat bervariasi. Pencurian kayu dalam skala besar misalnya bisa dikenakan sanksi penjara, sedangkan pencurian kayu dalam sekala kecil minimal mendapat peringatan dan pengarahan dari pihak pengelola.

Kebijakan-kebijakn di bidang konservasi yang diterapkan didalam WWB, bertujuan untuk :

a. Mengupayakan agar semua flora, fauna, dan ekosistem serta kondisi lingkungan hidupnya tetap terjamin keberadaannya, dan segera bertahap dapat diidentifikasi dsan diketahui potensinya secara detail bagi kesejahteraan manusia, khususnya nilai-niali ilmu pengetahuan, material ( tumbuhan, obat-obatan, dan pangan ), estetika, dan pariwisata.

b. Mengupayakan agar semua potensi yang ada dalam kawasan wana wisata dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitar khususnya, dan masyarakat Indonesia secara umumnya. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dapat diwujudkan bagi kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata alam dan menunjang budidaya.

Kegiatan pendidikan konservasi, tidak sepenugnya mengacu kepada kebijakan-kebijakan yang terdapat di wana wisata tersebut. Pengadaan kegiatan pendidikan konservasi lebih berdasarkan kepada tujuan pengelola dan kesadaran pengunjung dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam. Kebijakan-kebijakan secara umum di atas harus dijadikan landasan dalam pengembangan program pendidikan konservasi.

Tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan program pendidikan konservasi di WWB adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, sikap, keterampilan, kemampuan mengevaluasi, dan peranserta dari pengelola, pengunjung dan masyarakat sekitar dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan di kawasan WWB. Tujuan lain yang dapat diperoleh dari pihak.

2. Sadapan Pinus

Pada praktek kali ini mendengarkan arahan serta penjelasan dari mandor sadapan Pinus Serang Propinsi Jawa Tengah. Pohon tumbuh secara alami mulai dari Birma, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam hingga Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar dan Jambi) kemudian sebagian kawasan Jawa Tengah pada ketinggian 500 – 2000 mdpl (Sastrpraja, 1980)

Pohon Pinus dapat disadap getahnya mulai umur sebelas tahun dan bila penyadapan sesuai dengan aturan yang telah ada, maka penyadapan dapat dilakukan hingga 30 tahun mendatang.

Arah sadapan mempunyai pengaruh terhadap produksi getah Pinus merkusii. Produksi getah dari pohon Pinus yang arah sadapannya ke Timur menunjukan produksi getah yang paling besar kemudian diikuti arah Selatan, Barat, dan Utara. Keadaan ini ada hubungannya dengan cepat lambatnya peninaran matahari dan intensitas cahaya yang masuk yang dapat mempengaruhi suhu/temperatur sekitarnya. (Rochidayat dan Sukawi, 1977)

Menurut Suharlan, Herbagung dan Dedi (1980), produksi getah Pinus merkusii dipengaruhi oleh besarnya diameter, tinggi pohon dan jarak tumbuh relatif pohon. Semakin besar jarak tumbuh relatif dan diameter pohon produksi getah akan meningkat sampai batas tertentu.

Musim panas akan memberikan produksi getah yang lebih tinggi, tetapi musim panas yang terus-menerus menyebabkan getah menjadi cepat kering dan aliran getah dapat terhenti. Unsur ilklim lain yang dapat berpengaruh terhadap produksi getah adalah kelembaban udara. Kelembaban juga dapat mempengaruhigetah, baik kualitas atau kuantitasnya (Suharlan, Herbagung dan Dedi,1980)

3. Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu

A. Sejarah Pendirian Pabrik

Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu mulai dibangun pada tahun 1988/1989, dan mulai beroprasi pada bulan Maret 1989. kapasitas produksi getas pada saat itu direncanakan 10.000 ton/ tahun. Untuk menunjang upaya tersebut, maka Perum Perhutani merencanakan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas pabrik yang ada pada saat itu. Pabrik Gondorukem dan Terpentin ini berada di Bagian Kesatruan Pemangkuan hutan ( BKPH ) Majenang, Kesatuan Pemangkuan Hutan ( KPH ) Banyumas Barat.

Status Perusahan dari Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu merupakan BadanUsaha Milik Negara ( BUMN ) yaitu Perum Perhutani. Dalam menjalankan roda perusahaan, Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu berada di bawah Pengawasan Kesatuan Pemangkuan Hutan ( KPH ) Banyumas Barat yang berkedudukan di Purwokerto. Dalam merealisasi Anggaran Belanja ( RABP ) Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah dibantu oleh Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank ( ADB ).

B. Tujuan Pendirian Pabrik

Tujuan didirikannya Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk memaksimalkan produksi getah.
  2. Untuk menyediakan lapangan kerja sehingga dapat mengatasi masalah pengangguran.
  3. Meningkatkan taraf hidup masyarakat di daerah Cilempuyang dan sekitarnya.
  4. Dapat membantu pemerintah dalam menyukseskan pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

C. Lokasi Pabrik

Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu memiliki luas lahan kurang lebih 22 ha, berlokasi di Jalan Raya Majenang ( Purwokerto – Bandung  ), Desa Cilempuyang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap, dan berlokasi didalam wilayah Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan ( BKPH ) Majenang, Kesatuan Pemangkuan Hutan ( KPH ) Banyumas Barat. Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu terletak pada wilayah DAS ( Daerah AliranSungai ) Citandui yang bermuara di lautan Hindia. Salah satu anak sungai yang mengalir di dekat PGT Cimanggu adalah Sungai Cilempuyang yang juga menjadi sumber air PGT Cimanggu. Sungai ini sangat penting artinya bagi pertanian karena digunakan untuk mengaliri tanah seluas ± 70 ha, dan memiliki debit air rata-rat 2,5 liter per detik pada musim kemarau dan 5 liter per detik pada musim hujan. Secara geografis Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu berada pada garis Bujur Timur 108 40 39” – 108 50 19” dan garis Lintang Selatan 7 20 12” – 7 21 06”.

Batas lokasi Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu sebagai berikut:

Sebelah Utara             : berbatasan dengan kelompok tanamn cengkeh (tahun tanam 1978 ).

Sebelah Selatan          : berbatasan dengan Jalan Raya Majenang.

Sebelah Barat             : berbatasan dengan LDTI (Lahan Dengan Tujuan Istimewa).

Sebelah Timur             : berbatasan dengan Sungai Cilempuyang.

Secara administrative wilayah KPH Banyumas Barat terletak dalam Dua Kabupaten yaitu Dati II Banyumas seluas 8.671 ha (16 %) dan Dati II Cilacap seluas 47.362,65 ha (84 %). Lokasi Pabrik Gondorukem dan Terpentin ini berjarak ± 60 km dari Kabupaten Cilacap yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan umum dengan lama perjalanan ± 2 jam.

Didirikannya pabrik di daerah Cimanggu ini mempunyai beberapa alasan, antara lain :

  1. Tempat strategis, didekat jalan raya.
  2. Daerah di selitar pabrik banyak ditanami pohon pinus yang merupakan hutan pinus milik KPH Banyumas Barat sehingga di daerah tersebut banyak terdapat tempat penampungan getah (68 TPG) yang merupakan bahan baku dari produk perusahaan.
  3. Tersedianya tenaga kerja yang memadai di sekitar pabrik.
  4. Terletak pada wilayah DAS Citandui yang menjadi sumber air bagi pabrik sehingga dapat menjamin kelangsungan hidup perusahaan.

D. Sumber Bahan Baku

Di Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu hanya menggunakan satu macam bahan baku saja yaitu getah pinus. Kebutuhan bahan baku (getah pinus) untuk kelangsungan proses produksi Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu berasal dari pohon Pinus ( Pinus merkusii Jungh et de Vriese ) yang mulai disadap pada usia 11 tahun. Pada tahun 2003 ini, jumlah puhon pinus yang disadap getahnya yaitu sebanyak 5.494.060 pohon, dengan luas sadapan 16.862,3 ha. Produktifitas sadapan getah pinus rata-rata yaitu 8 gram per pohon per hari ( KPH Banyumas Barat, 2003 ). Kapasitas pabrik terpasang dalam 1 tahun mampu memasak getah sebanyak 16.000 ton dengan rendemen 69 % gondorukem dan rendemen 13 % terpentin, namun karena keterbatasan produksi getah Perum Perhutani hanya menargetkan produksi sebanyak 10.000 ton/tahun. Pada KPH Banyumas Barat, pengambilan getah pinus menggunakan metode koakan atau koare. Bahan baku (getah pinus) PGT Cimanggu 100 % berasal dari KPH Banyumas Barat, selama ini belum pernah menerima getah pinus dari wilayah KPH lain. Untuk penerimaan getah di Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu dipasok dari tujuh Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan ( BKPH ) yaitu :

  1. BKPH Wanareja.
  2. BKPH Manajenang.
  3. BKPH Lumbir.
  4. BKPH Sidareja.
  5. BKPH Bokol.
  6. BKPH Kawunganten,
  7. BKPH Rawa Timur.

E. Proses Produksi

1.     Proses Pencucian atau Penyaringan

Yang dimaksud dengan proses pencucian/ penyaringan adalah tahap persiapan bahan baku yang berupa getah pinus untuk menjalani proses produksi. Getah pinus yang baru dikirim dari TGP-TGP ini masih bercampur dengan kotoran-kotoran berupa daun, talal, jonjot, tanah, dan lain-lain. Oleh karena itu kotoran-kotoran tersebut harus dibersihkan agar yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik. Proses ini mulai dari :

  1. Bak Getah.

Dalam bak getah ada beberapa peralatan yaitu close steam yang berfungsi untuk mengencerkan getah, open steam yang berfungsi untuk mengencerkan getah yang mengkristal, steyner yang berfungsi untuk menyaring kotoran, dank ran pengeluaran getah.

  1. Blowcase.

Getah dari bak getah dialirkan ke blowcase melalui talang getah sebanyak 2500 kg dan dilakukan pemanasan pendahuluan hingga mencapai suhu 70º-80ºC. setelah dicapai suhu pemanasan tersebut, selanjutnya getah dipindahkan ke tangki melter sa,pai habis. Fungsi dari blowcase adalah sebagai pemasan awal agar getah menjadi encer sebelum dipindahkan ke melter dan untuk memudahkan aliran getah ke melter.

c.   Melter.

Dalam tangki melter dilakukan pengenceran dengan mencampur terpentin sebanyak 1000 kg lalu dipanasi kembali hingga mencapai suhu 70º-80ºC, lalu getah diendapkan 4 – 6 menit. Setelah diendapkan, kotoran dan air yang terendap dibuang atau dialirkan ( blow down ) sampai habis ke bak penampungan limbah melalui pipa pembuangan. Getah yang ada kemudian di alirkan ke filter press B-1 untuk difiltrasi menggunakan steam dengan tekanan 0,2 – 2 kg/cm2. setelah difiltrasi, getah dipindahkan ke tangki settler sampai habis. Adapun fungsi dari melter adalah melarutkan getah dan terpentin , menyering kotoran yang terbawa dalam getah, dan mencairkan getah yang mengkristal.

d. Settler

Dalam tabung settler dilakukan pencucian getah awal dengan air sebanyak 200 liter dari tangki water treatment, kemudian dicampurkan dengan larutan asam oksalat sebanyak 7.5 kg ( 0,3 % setiap batch ) dari tangki asam oksalat. Asam oksalat ini berfungsi untuk mengikat kotoran dan ion besi yang tercampur dalam larutan getah. Satelah tercampur dengan asam oksalat, larutan getah diendapkan 5-10 menit, kemudian membuang atau mengalirkan ( blow down ) air dan kotoran sampai habis ( dengan melihat kaca pengamat ) ke bak penampungan limbah melalui pipa pembuangan. Apabila larutan getah masih terlihat kotor harus dilakukan pencucian ulang 2-3 kali sampai larutan getah terlihat bersih. Setelah larutan bersih, kemudian dipindahkan ke tangki scrubbing sampai habis.

e. Scrubbing

Dalam scrubbing pencucian kembali dilakukan dengan menambah air hangat sebanyak 1000 liter dari water treatment sambil dilakukan pengadukan dengan menggunakan agitator selama 10-15 menit. Suhu larutan dalam tangki scrubbing dipertahankan pada suhu 70°-80° C. kemudian larutan getah diendapkan selama 10-15 menit. Setelah itu air dan kotoran dibuangg ( blow down ) sampai habis ( dengan melihat kaca pengamat ) ke bak penampungan limbah melalui pipa pembuangan. Pencucian getah dapat dilakukan ulang bila larutan getahbelum memenuhi standar berdasarkan informasi dari quality controller. Jika larutan getah telah dinyatakan lulus oleh quality controller, larutan getah dipindahkan sampai habis ke tangki penampung A1 dan A2 melalui filter press B-2yang dilengkapi dengan filter duck dan filter wire mesh agar kotoran yang masih ada tertinggal. Bila larutan getah dalam tangki penampung A1 dan A2 yang masing-masing kapasitas 15 m3 dan 27 m3 sudah memnuhi kapasitas pemasakan, dilakukan pengendapan. Setelah diendapkan, air dan kotoran yang mengendap dibuang sampai habis ( blow down ) ke bak penampungan limbah.

2. Proses Pemasakan

Pemasakan getah dimaksudkan untuk mematangkan getah dan mengeluarkan komponen air lainnya yangterdapat dalam getah yang menggunakan energi panas yang dihasilkan oleh boiler. Dengan pemasakan maka sifat-sifat getah akan lebih stabil serta memiliki daya tahan yang lama. Dalam pemasakan ini dilakukan pada suatu ketel pemasak khusus yang mempunyai ketahanan terhadap suhu dan tekanan. Tangki pemasak dirancang untuk bekerja pada tekanan vakum yang dilengkapi coil pemanas, clossed steam, open steam, kaca pengamat, dan karn untuk pengeluaran terpentin.

Prosesnya, getah yang sudah bersih dan siap dimasak ke dalam tangki ketel pemasakyang berkapasitas 17,5 ton melewati filter gaff. Setelah getah masuk dalam ketel pemasak lalu dilakukan pemanasan hingga mencapai suhu 160°–170°. Selama pemanasan, suhu, aliran terpentin, tekanan vakum, dan kondensor harus selalu dikontrol. Ketika awal pemanasan ( 130°–140° C ) dilakukan, uap air dan uap terpentin menguap dan masuk ke condensor ( alat pendingin ) yang ditarik oleh pompa vakum untuk diembunkan atau dicairkan. Hasil kondensasi dialirkan ke tangki separator untuk memisahkan antara air dan terpentin. Setelah keduanya terpisah, terpentin dialirkan ke tangki penampung terpentin A yang dipersiapkan atau digunakan dalam proses pengenceran getah dalam tangki melter. Pada suhu  130°–140° C sampai suhu akhir pemanasa, hasil terpentinnya dialirkan ke tangki  penampung B sebagai terpentin produk. Terpentin dalam tangki penampung terpentin B dipindahkan ke tangki terpentin sementara melalui tangki dehidrator. Dalam tangki dehidrator terpentin disaring kembali dengan garam industri sebanyak 300 kg agar kandungan air yangmasih terdapatdalam terpentin dapat tertinggal. Setelah itu terpentin baru dialirkan kembali ke tangki terpentin produk. Sedang untuk gondorukem, jika suhu sudah mencapai 170° C dibiarkan lalu didinginkan hingga suhu 130° C dan dipanasi kembali sampai suhu 145° C agar panasnya menyebar. Setelah itu gondorukem siap dikemas.

3. Proses Canning / Pengemasan

Canning adalah proses penuangan cairan gondorukem dari tangki pemasak ke drum / kaleng gondorukem. Peralatan dalam proses canning adalah sebagai berikut :

  • Termometer, fungsinya untuk mengukur suhu gondorukem pada awaktu penuangan ke dalam kaleng.
  • Pemanas pipa canning yang berupa kawat pamanas dengan aliran steam.
  • Pipa canning, fungsinya untuk mengalirkan cairan gondorukem ke ketel pamasak ke drum.
  • Lang penjepit, fungsinya untuk menjepit tutup drum.
  • Proses penuangan gondorukem memerlukan waktu 3 menit untuk setiap suhu drumnya. Setelah gondorukem dimasukkan ke dalam drum lalu didinginkan selama 4 hari, kemudian kaleng dipres dan ditutup. Produk gondorukem dimasukkan ke dalam gudang dan siap dikirim ke Perum Perhutani untuk dipasarkan.

F. Hasil Produksi dan Pemasaran

Pabrik Gondorukem dan Terpentin cimanggu merupakan perusahaan di bawah naungan Perum Perhutani yangbergerak di industri non kayu. Hasil produksi dari Pabrik Gondorukem dan Terpentin Cimanggu adalah produk gondorukem dan terpentin yangbahan dasarnya berupa getah pinus.

Adapun kegunaan dari masing-masing produk tersebut adalah :

  1. Produk gondorukem, kegunaannya sebagai bahan penolong dalam industri kertas, kain batik, solder, perekat, sabun, lilin, serta keperluan lainnya.
  2. Produk terpentin, kegunaannya sebagai ramuan semir (sepatu, kayu, logam), sebagai bahan subtitusi kamper dalam pembuatan seluloid ( film ), dan sebagai pelarut bahan organik.

Khusus untuk produk gondorukem, dapat dikatagorikan dalam beberapa jenis kualitas yaitu kualitas jenis X ( Extra ), WW ( White Water ), WG ( Water Glass ), dan N ( Nency ). Semakin tinggi tingkat kualitasnya maka semakin mahal harganya

G. Gondorukem dan Terpentin

1. Gondorukem

Rosin atau yang lebih dikenal dalam perdagangannya sebagai gondorukem merupakan produk olahan dari pinus yang saat ini merupakan komoditi andalan non migas yang bukan berasal dari non kayu atau rotan. Pengolahan gondorukem di Indonesia hanya dilakukan dengan cara penyulingan getah pohon tusam ( Pinus merkusii ), tetapi juga ada yang langsung dengan uap. Gondorukem tersebut digunakan dalam industri perekat, industri batik, kertas, sabun, lilin, serta keperluan lainnya ( Susilowati, 2001 ).

Menurut Sumadiwangsa dan Silitonga (1974), pengolahan gondorukem bertujuan untuk memisahkan terpentin dan gondorukem getah pinus dalam waktu yang singkat pada suhu yang rendah agar dihasilkan kualitas yang baik. Kualitas gondorukem yang akan dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kualitas getah dan cara pengolahan. Kualitas getah dipengaruhi oleh tempat penampungan getah, varietas pohon, cara penyadapan, tempat tumbuh di samping kotoran yang terdapat dalam getah seperti daun, ranting, pasir, dan sebagainya. Pengolahan yang baik akan menghasilkan gondorukem dengan sifat-sifat sebagai berikut :

-         Warna pucat

-         Titik leleh yang tinggi

-         Terpentin tersuling hampir habis, serta

-         Kualitas yang mantap ( stabil ).

Sumadiwangsa dan Silitonga (1974) lebih lanjut menyatakan bahwa penetapan kualitas gondorukem secara laboratoris dapat digolongkan ke dalm sifat fisik dan sifat kimia. Sifat fisik meliputi : berat jenis, titik lunak, warna, persen transmisi dan kerapuhan. Sedangkan sifat kimia meliputi bilangan asam, bilangan penyabunan, bilangan ester, bilangan iod bagian tak tersabun, kadar kotoran, kadar air, dan kadar terpentin tersisa.

Menurut Silitonga et al. (1973) persyaratan gondorukem di Indonesia adalah sebagai berikut :

1)      Warna : tidak berwarna hitam

2)      Pecahan : pecah seperti kaca

3)      Larut dalam : eter, chloroform, aceton, alkohol

4)      Titik lunak : 75º C

5)      Titik cair : 120º – 135º C

6)      Berat jenis : 1,045 – 1,085

7)      Bilangan asam : 150 – 175

8)      Bilangan ester : 7 – 20

9)      Bilangan penyabunan : 160 – 190

10)  Bilangan iod : 118 – 190

11)  Bagian tak tersabun : 4 – 9 %

12)  Kelarutan dalam petroleum ester : 88 – 99

13)  Lain-lain : transmisi warna, kadar terpentin dan kotoran.

2. Terpentin

Terpentin adalah minyak yang diperoleh sebagai hasil sampingan dari pembuatan gondorukem. Oleh karena sifatnya yang khusus maka minyak terpentin banyak digunakan baik sebagai bahan pelarut ataupun sebagai minyak mengering.

Terpentin merupakan bagian hidrokarbon yang mudah menguap dari getah pinus. Hidrokarbon ini dipisahkan dari bagian yang tidak menguap (gondorukem) melalui cara penyulingan. Berdasarkan sumber bahan bakunya ada 3 jenis terpentin, yaitu terpentin getah (gum turpentin), terpentin kayu (wood turpentin), terpentin sulfat (sulphat turpentin) ( Wiyono dan Silitonga, 1989 ).

Silitonga et al, 1973 menyatakan jumlah terpentin yang terkandung dalam getah pinus berkisar antara 10 – 17,5 %. Getah yang segar akan menghasilkan prsentase terpentin yang lebih tinggi. Terpentin hasil penyulingan bersifat korosi, oleh sebab itu perlu disimpan pada tempat (drum) yang digalvanisasi. Harga drum ini cukup mahal jika dibandingkan dengan harga terpentin itu sendiri. Terpentin juga dapat disimpan dalam tempat yang terbuat dari aluminium atau plastik dan hendaknya agar terhindar dari cahaya. Minyak terpentin dapat digunakan untuk ramuan semir (sepatu, logam, kayu), sebagi bahan substitusi kamper dalam pembuatan seluloid (film), bahan pelarut organik.

Menurut Wiyono dan Silitonga (1989) minyak terpentin merupakan pelarut bahan organik dan bahan pengencer (thinner) yang sangat penting unutk cat dan vernis. Namn demikian akhir-akhir ini penggunaan untuk keperluan tersebut menurun dengan drastis karena adanya pelarut turunan minyak bumi yang lebih murah harganya. Dikatakan pula bahwa pada waktu yang lalu sebagian besar terpentin digunakan dalam bentuk alamiahnya, akan tetapi pada saat ini sebelum digunakan hampir semua terpentin diproses lebih lanjut menjadi bermacam-macam konstituen turunannya.

3. Bahan Baku Gondorukem and Terpentin

Menurut Sumadiwangsa (1978), gondorukem merupakan bahan padat dan termasuk golongan resin yang diperoleh dari beberapa jenis pohon pinus. Di Amerika dikenal tiga macam gondorukem, yaitu gondorukem getah, gondorukem kayu, dan gondorukem “tall-oil”. Gondorukem getah (gum rosin) diperoleh sebagai residu penyulingan getah hasil penyadapan pohon Pinus palustris Nill atau Pinus caribaca Mor. Gondorukem kayu (wood rosin) diperoleh dengan jalan mengekstrak kayu Pinus dengan bahan pelarut organik dimana larutan yang terjaadi kemudian disuling untuk memperoleh gondorukem. Gondorukem tall oil (tall oil rosin) diperoleh sebagai hasil penyulingan bertingkat tall oil kasar, yaitu ikutan industri pulp sulfat.

Tim Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (1966) mengemukakan bahwa di Indonesia jenis pinus yang sudah dimanfaatkan adalah Pinus merkusii. Daerah penyebarannya meliputi Jawa Timur (Madiun dan Sempolan Jember), Jawa Tengah (Pekalongan, Pemalang, Magelang, Purworejo, dan Banyumas)., Aceh (Lampahan), Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan (Rantai Pao). Statistik Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, pada tahun 1983 – 1987, mencatat hutan Pinus di Propinsi Jawa Tengah luasnya kurang lebih 116.875 hektar ( Sylviani dan Abdurachman, 1989 ).

Menurut Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (1966), getah pinus di[peroleh dari hasil penyadapan pohon, dan produksinya dipengaruhi oleh kondisi tegakan maupun oleh perlakuan manusia terhadap pohon tersebut. Perlakuan tersebut, seperti sistem penyadapan, arah sadapp, dan penggunaan bahan kimia dalam penyadapan. Perlakuan terhadap tegakan yang mempengaruhi produksi getahnya adalah penjarangan. Terdapat tiga cara penyadapan yang dikemukakan oleh Soetomo (1972), yaitu sistem koakan (quarre system), sistem bor, dan sistem kopral (riil).

Selanjutnya Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (1966) menyatakan dari aspek ekonomi, kuantitas dan kualitas gatah sebagai bahan baku pengolahan gondorukem merupakan kendala, karena secara kuantitas dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomis yang antara lain disebabkan adanya persaingan pemanfaatan pohon Pinus yang diambil kayunya atau getahnya. Dari faktor ini memang keduanya memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sehingga sulit untuk diambil pilihannya. Karena itu saat ini dikembang untuk memanfaatkan keduanya, yaitu dengan mengembangkan metoda riil untuk penyadapan getah, sehingga setelah habis masa sadapnya kayu Pinus dapat ditebang dan dijual tanpa mengandung kerusakan. Dari segi kualitas getah Pinus banyak ditentukan faktor-faktor sosial ekonomi seperti:

1)                  pengolahan dan pengorganisasian pekerja/penyadap.

2)                  sistem pengupahan.

3)                  keadaan sosial ekonomi masyarakat setempat dan mental pegawai.

4)                  Adanya saingan dengan jenis pekarjaan lainnya.

4. Pengolahan Getah Pinus

Menurut Silitonga (1974) pengolahan getah pinus dimaksudkan untuk pemisahan komponen gondorukem dan terpentin serta pembebasan dari kotoran. Prosesnya dapat sederhana, yaitu getah dimasak untuk menguapkan terpentin dan tinggal padatan yang disebut gondorukem. Proses yang lebih modern adalah memasukkan fektor suhu, tekanan, dan perlakuan mekanismaupun kimia. Menurut Sumadiwangsa dan Silitonga (1974), kualitas gondorukem yang akan dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kualitas getah dan cara pengolahan. Kualitas getah dipengaruhi oleh tempat penampungan getah, varietas pohon, cara penyadapan, tempat tumbuh di samping kotoran yang terdapat dalam getah seperti daun, ranting, pasir, dan sebagainya.

Irawanti, et al. (1977) menyatakan bahwa gondorukem diperoleh dengan cara mengolah getah pinus sehingga dihasilkan residu berupa gondorukem dan cairan hasil penyulingan berupa terpentin. Menurut Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (1966) terdapat dua metode yang dapat digunakan untuk mengolah getah pinus menjadi gondorukem, yaitu metode penyulingan langsung (kohobasi) dan metode penyulingan dengan uap ( steam ). Tujuan penyulingan adalah untuk memisahkan fraksi padat ( gondorukem ) dari faksi cair ( air dan terpentin ) yang terkandung dalam getah pinus ( Sumadiwangsa, 1978 ).

Irawanti, et al. (1977) menyatakan secara garis besar pengolahan gondorukem terdiri atas beberapa tahap, yaitu penyaringan getah, pengenceran getah dengan terpentin, pemanasan larutan getah, pemurnian larutan getah, pemasakan dan pemisahan gondorukem dan terpentin. Pengolahan gondorukem di Indonesia dengan sistem destilasi uap dengan tahapan sebagai berikut : getah pinus ditampung dalam bak penampung kemudian diencerkan, dicuci, disaring. Larutan kemudian dipanaskan 165 – 185 C dengan tekanan vakum 650 cmHg selama ± 2 jam. Setelah pemanasan selesai, gondorukem ditampung dan dikemas ( Susilowati, 2001 ).

Dalam proses tersebut digunakan beberapa peralatan (Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, 1966) yang meliputi :

  1. Bak penampungan getah,
  2. Talang getah,
  3. Tangki blow case,
  4. Tangki melter,
  5. Filter press,
  6. Tangki settler / scrubbing,
  7. Tangki penyimpanan getah bersih.
  8. Tangki pemasak,
  9. Tangki condensor,

10.  Tangki separator,

11.  Tangki dehidrator,

12.  Bak limbah,

13.  Bak netralisasi.

Disamping itu digunakan alat-alat pembantu antara lain adalah wire mesh, filter aid, gav filter, asam oksalat, uap panas, terpentin, dan air bersih. Untuk proses pemanasan dan pemasakn getah digunakan uap panas yang dihasilkan dari ketel uap (boiler) dan dialirkan melalui pipa yang dibungkus dengan bahan isolator sehingga kehilangan panas pada penyaluran uap panas relatif kecil. Bahan bakar yang digunakan untuk pemasakan air pada boiler adalah bahan bakar solar (IDO) yang dikabutkan dan disulut dengan elektroda dari sumber listrik yang berasal dari generator ( genset ).

4. Kebun Benih SSO (Seedling Seed Orchid) Pinus merkusii

Kebun benih SSO Pinus merkusii telah ada sejak tahun 1978 dengan luasan 105,4 ha, saat itu penanaman dilakukan secara enam tahap, dari tahun 1978-1983. Kebun benih berada dibawah pengawasan Pusat Pengembangan Kehutanan (PUSBANGHUT) Perhutani wilayah Cepu. Pada tahun 1978 terdapat 200 famili pohon plus dengan jarak tanam 3 x 4 m. perfamili terdiri dari 5 pohon setiap bloknya.

Bibit-bibit pinus yang dihasilkan dari kebun benih tersebut berasal dari pohon-pohon plus, pohon plus itu sendiri diartikan sebagai pohon pohon yang memilki keunggulan seperti halnyan pohon tersebut harus memiliki batang yang lurus, dengan percabangan yang teratur.  Dimana ada 3 jenis varietas yang ada di kebun benih yaitu : 1). Varietas yang berasal dari aceh, 2). Varietas yang berasal dari Tapanuli dan 3 ). Varietas yang berasal dari kerinci dan Jambi.  Diman varietas Aceh yang diutamakan dan lebih banyak ditanam karena dalam umur 25 tahun varietas aceh tersebut telah tepat dapat dipanen dengan hasil yang berupa Terpentin yang digunakan oleh pabrik-pabrik cat dan batik.

Pemeliharaan kebun benih dilakukan dengan pemberian pupuk sebanyak tiga jenis, yaitu KCl sebanyak 50 g, TSP sebanyak 75 g, dan Urea sebanyak 100 g pada umur 1 tahun. Dosis tersebut diberikan sampai berumur 5 tahun. Setelah itu dosisnya diganti menjadi 100 g KCl, 125 g TSP, dan Urea sebanyak 150 g. Pemberian pupuk ini dilakukan selama tiga tahun. Selain itu pemeliharaan dilakukan dengan kegiatan penjarangan yang dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun sekali. Metode yang digunakan biasanya metode prunning. Dari lima pohon diambil pohon yang terjelek, hal ini bertujuan untuk mendapatkan pohon dengan pertumbuhan yang baik sehingga benih yang dihasilkan berkualitas tinggi. Penjarang terakhir dilakukan saat pohon berumur 20 tahun. Pohon akan mulai berbuah saat pohon berumur 10 tahun dan akan menghasilkan bunga yang memiliki jenis kelamin jantan dan betina.

Pengunduhan pertama dilakukan pada awal April, pengunduhan kedua dilakukan pada bulan Oktober-September. Membutuhkan waktu 11-12 bulan untuk panen, dari 1 cone dapat dihasilkan biji sebanyak 50-60 biji dan 1 cone rata-rata menghasilkan 40 biji. 1.5 kg cone basah sama dengan 1 kg cone kering. Jumlah biji 40.800 butir/kg dengan kadar air 7-8% perkilogram. Daya kecambah biji dapat mencapai 87%. Cone perlu dijemur selama 1-3 hari agar kadar airnya berkurang dan disortasi satu persatu. Pengunduhan biasanya dilakukan dengan menggunakan alat tradisional. Dan pengerjaannya diborongkan pada penduduk setempat dengan upah sebesar Rp 60.000 / kg. Kegiatan pemeliharaan lain yang dilakukan berupa pembersihan tumbuhan bawah yang dilakukan sebanyak 3 kali dalam 1 tahun. Tahapan produksinya yaitu mulai dari penanaman, pemeliharaan, pengunduhan, penjemuran sampai pengepakan, dalam 1 kaleng berisi 10 kg biji kering.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kekakayaan yang telah diberikan kepada manusia berupa keindahan alam semesta berupa hutan dan keanekaragan satwa yang hidup didlamnya patut kita jaga untuk menjaga kelestarianya. Serta Hutan mempunyai fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup diantaranya pengendali iklim mikro, penyimpan air tanah, pemancing turunnya hujan, penghasil oksigen, pencegah banjir dan erosi tanah dsb.

Hutan juga merupakan suatu ekosistem dimana setiap hutan berbeda-beda komponen yang mengisi didalamnya. Dari komponen jenis pohon penyusunnya tersebut hutan dibagi menjadi dua yaitu hutan alam dan hutan tanaman. Hutan alam (hutan pantai, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, hutan sub pegunungan, dan hutan mangrove) lebih memiliki keragaman hayati yang banyak dibandingkan dengan hutan tanaman yang 90% spesiesnya hanya terdiri dari satu jenis (Hutan tanaman sejenis Agathis loranthifolia dan Pinus merkusii). Sehingga ekosistem yang terdapat di hutan alam lebih bagus dibandingkan dengan ekosistem di hutan tanaman.

Lestarikan keadaan hutan jika suatu Negara tidak ingin tengelam oleh air atau tanah karena hutan dapat melindungi bumi dari bencana alam yang timbulkan dari kerusakan hutan. Hutan pun dapat memajukan sebuah Negara menjadi Negara yang kaya akan sumber daya alam hayati dan, jasa dan hasil hutan non hayati serta banyak bermanfaat bagi yang melindungi kelestarian hutan.

B. Saran

Hutan memang sangat penting bagi kehidupan manusia dan satwa liar yang hidup didalamnya maka hutan patut untuk dijaga, dilindungi serta pelestarian ekosistem. Agar kondisi hutan tetap terjaga lestari maka harus melibatkan kalangan masyarakat hutan yang tinggal di kawasan tersebut yaitu dengan Social forestry yang dapat menolong kehidupan masyarakat dengan tidak meninggalkan dan melupakan kelestarian hutan serta hindari hal-hal yang mementingkan kantong pribadi agar terisi uang dengan perambahan hutan, illegal loging dan eksploitasi hutan secara berlebihan, hal tersebut dapat mendatangkan bencana bagi manusia, hewan dan alam semeta.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A. 1986. Pelestarian dan Peranan Hutan Mangrove di Indonesia. Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. Baturraden, 3-5 Agustus. LIPI. Hlm: 104.

. 1993. Perlindungan dan Pelestarian. Seminar Pembahasan Strategi Nasional dan Program Aksi Mangrove di Indonesia, Jakarta, 11 Februari 1993.

Andani, S dan E . D. Purbayanti. 1981. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Atmawidjaja. R. 1995. Perubahan Lingkungan Fisi Segara Anakan. Makalah Lokakarya Penanganan segara Anakan dan Lingkungan Secara Berkelanjutan. Cilacap 21-23 Maret 1995. Departemen Pekerjaan Umum Bekerjasama Dengan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Hal 16.

Black, R. 1999. Ecotour Guides : Performing A Vital Role in TheEcotourism Experience. World Ecotourism Conferenca. Kota Kinabalu. Sabah.

Brockman, C.F. 1978. Recreation of Wild Land. Mc Graw-Hill Book Company. New York.

Brown, W.H. 1953. Minor Product of Philippine Forest. Departement of Agriculture and Natural Recources. Manila. Hal 9 -25.

Dulbahri. 1995. Sedimentasi Segara Anakan. Makalah Lokakarya Penanganan segara Anakan dan Lingkungan Secara Berkelanjutan. Cilacap 21-23 Maret 1995. Departemen Pekerjaan Umum Bekerjasama Dengan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Hal 9.

Departemen Pendidikan Nasional RI. 2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Depdiknas. Jakarta.

Departemen Kehutanan Republik Indonesia. 1992. Hutan Bakau di Indonesia.

Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.

Departemen Kehutanan RI. 1990. Undang-Undang No. 5. 1990. Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Dirjen PHPA. 1988. Prospek Pengusahaan Obyek Wisata Alam. Kehutanan Indonesia Bogor. Bogor.

Ditjen PKA. 2000. Identifikasi Kebutuhan Pelatihan dan Pendidikan Ekowisata Indonesia. Departemen Kehutanan dan Perkebunan RI. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dwijoseputro, D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia, Jakarta.

Ekowati, H. 1989. Studi Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Rekreasi Harian di Kawasan Obyek Wisata Baturraden Kabupaten Dati II Banyumas. Skripsi Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ewuise. J.Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika Membicarakan Alam Tropika Afrika, Asia Pasifik, dan Dunia Baru. Institut Teknologi Bandung. Bandung. 369 Hal

Fatah. A.K. 1981. Evaluasi Permudaan Hutan Payau di Hutan Primer dan Hutan Sekunder di Batang Tumu. Daerah Tingkat 1 Riau. Skripsi Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Tidak diterbitkan Hal 1-25.

Filho, W.L. 1999. International conference on Environmental and society : education and public awareness for sustainability. University of Hamburg. http ://www.tu-harburg.de/.22 April 2003.

Goenadi, H.D. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hakim, N ., M.Y. Nyakpa, A . M. Lubis, S . G. Nugroho, M.R. Saul, M.A. Diha, G.B Hong dan H.H Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.

Hardjosuwarno, S. 1982. Hutan Mangrove Segara Anakan, Cilacap; suatu tinjauan keadaan sekarang dan perkembangannya pada masa mendatang. Prosiding Seminar Ekosistem Mangrove II. Baturraden, 3-5 Agustus. LIPI. Hlm;112.

Hardjowigeno. S. 1989. Ilmu Tanah. PT. Melton Putra. Jakarata.

Indrakusuma, D.A. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Usaha Nasional. Surabaya

Irwan. Z.D. 1992. Prinsip-Pinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem Komunitas dan Lingkungan. Bumi Aksara. Jakarta.

Kartawinata. K., S. Adisoemartono, S. Soemodihardjo, dan I.G.M Tantra. 1978. Status Pengetahuan Hutan Bakau di Indonesia. Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Lembaga Oseanologi Nasional. Jakarta. Hal 21-39.

Kastama, E. 1997. Pengantar Metodologi Pengajaran Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup di Sekolah. Makalah Sarasehan Kiat Mengembangkan Pendidkan Lingkungan Hidup bagi Anak dan Remaja di Indonesia. 26 Agustus 1997. IPB. Bogor.

Kusmana. C. 1993. A. Study on Mangrove Forest Management Based on Ecological Data in East Sunatera. Indonesia Desertation Faculty of Agriculture. Kyoto University. Japan. 193 Hal.

Kusmana. C 1994. Nilai Ekologi Ekosistem Hutan Mangrove. Makalah Forum Komunikasi Hasil Penelitian Hasil Kehutanan Tahun 1994. Cisarua. Bogor. 3-6 Oktober 1994.

MAB-LIIPI dan Perum Perhutani. 1984. Laporan Telaah Tata Guna Ekosistem Mangrove Pantai Utara Jawa Barat. Jakarta. Tidak diterbitkan. 28 Hal.

MacKinnon, K. 1993. Pengelolaan Kawasan yang Dilindungi di Daerah Tropika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Menteri Negara Lingkungan Hidup. 1998. Makalah Lokakarya Meningkatkan Kemampuan LSM Dalam Melaksanakan Pendidikan Lingkungan Hidup dan Tercapainya Pembangunan yang Berkelanjutan. Tropical Press Tour. Ciptarasa. Pelabuhan Ratu.

Muntasib, E.K.S.H. 1997. Pendidikan Lingkungan Bagi Anak. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Noakes. D.S.P. 1957. Mangrove. FAO Tropical Silvicuture. Vol H. Hal 309-317.

Perum Perhutani. 1989. Obyek Rekreasi Hutan Wana Wisata. Perum Perhutani. Jakarta.

Perum Perhutani. 1999. Pedoman Pengelolaan Kawasan Lindung di Kawasan Hutan Perum Perhutani Jakarta.

Pranantoro. N. 1983. Penyusunan Kunci Determinasi dan Studi Kuantitatif Flora Mangrove Antara Sungai Sepaku dan Sungai Sabut Balikpapan, Kalimantan Timur. Skripsi Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Tidak diterbitkan. Hal 1-38.

PT. Perhutani. 2001. Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Kawasan Lindung. Unit I Jawa Tengah.

Rakoen, M.P. 1955. Beberapa Pendapat Mengenai Daerah Hutan Bengkalis/Kampar. Rimba Indonesia IV. Hal 9-12.

Reimold, R.J dan W.H Queen. 1974. Ecological of Halophytes. Academic Press. Inc New York and London. Hal 63-117.

Richard, P.W. 1964. The Tropical Rain Forest. An Ecological Study. Publish by The studies of the Cambridge University Press. New york.

Rudhjiman. 1993. Evaluasi Penerapan Jalur Hijau Segara Anaakan Cilacap. Duta Rimba XIX. Hal 33-43

Samingan. T. 1975. Rhizoporaceae. Bagian Ekologi Tumbuh-tumbuhan. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hal 1-17.

Soemodihardjo, S., O. Sumawoto, Ongkosono dan A. Abdullah. 1986. Pemikiran Awal Kriteria Penentuan Luar Jalur Hijau Hutan Mangrove. Makalah Diskusi Panel Daya Guna dan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove. Ciloto, 27 Febuari – 1 Maret 1986. Panitia Progam MAB Indonesia – LIPI. Jakarta.

Soerinegara, I. dan Andri Indrawan. 1978. Ekologi Hutan Indonesia. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Soerinegara, I dan Cecep Kusmana. 1993. Sumberdaya Hutan Mangrove di Indonesia. Karya Tulis Pada Workshop Strategi Pengusahaan Hutan Mangrove untuk Ekolabeling. Hotel Pangrango Bogor. Tidak diterbitkan.

Soerinegara, I. 1971. Penyebab Kematian Pohon Tantjang (Bruguiera sp) di Hutan Payau Tjilacap. Djawa Tengah. Rimba Indonesia XIII. Hal 1 -11.

Soerinegara, I. 1993. Characteristic dan Clasification of Mangrove Soil of Java. Rimba Indonesia XVI. Hal 1-8.

Tim Ekosistem Mangrove. 1986. Sumberdaya dalam kaitannya Dengan Prospek Pengembangan Desa Pantai Segara Anakan. Cilacap. MAB-LIPI dan Perum Perhutani. Jakarta. Hal 1-37.

Walpole, R.E. 1992. Pengantar Statistika. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hal 438 – 442.

Widawati, Emila. 1996. Kondisi Tempat Tumbuh. Mangrove Pada Tegakan Yang Terpengaruh Sedimentasi dan Pada Tegakan Yang Belum Terpengaruh Sedimentasi di Sagara Anakan, Cilacap, KPH Banyumas Barat (Skripsi). Jurusan Manajemen Hutan, FAkultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s